KAYUTANAM, ONtime.ID — Pemerintah kembali menegaskan posisi kebudayaan sebagai fondasi pembangunan bangsa. Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, secara resmi meresmikan aktivasi Museum M. Sjafe’i di kawasan Indonesian National School (INS) Kayutanam, Jumat (23/1/2026).
Peresmian ini tidak berhenti pada upaya pelestarian bangunan bersejarah, melainkan menjadi langkah strategis untuk menghidupkan kembali warisan pemikiran pendidikan Ungku Muhammad Sjafe’i agar tetap relevan bagi generasi masa kini.
Dalam sambutannya, Fadli Zon menekankan bahwa museum ini dirancang sebagai ruang gagasan yang dinamis, bukan sekadar etalase masa lalu. Menurutnya, pemikiran dasar M. Sjafe’i harus dibaca ulang dan ditafsirkan sesuai konteks zaman, terutama di tengah tantangan pendidikan nasional yang kerap terjebak pada orientasi teknokratis dan kehilangan dimensi nilai.
[irp posts=”33447″ ]
“Kita membutuhkan rujukan nilai, karakter, dan semangat pembaruan yang pernah menjadi jiwa INS Kayutanam. Museum ini harus berbicara pada persoalan hari ini, bukan hanya mengenang kemarin,” tegas Fadli Zon.
INS Kayutanam didirikan pada 1926 dan akan memasuki usia 100 tahun pada Oktober 2026. Lembaga ini berdiri sejajar dengan pelopor pendidikan besar di Sumatera Barat seperti Perguruan Adabiah, Sumatra Thawalib, dan Diniyah Putri. Fadli Zon menilai fakta tersebut sebagai bukti kuat tradisi intelektual Minangkabau yang berperan penting dalam membangun kesadaran kebangsaan jauh sebelum Indonesia merdeka.
Ungku Muhammad Sjafe’i dikenal bukan hanya sebagai pendidik, tetapi juga tokoh pergerakan nasional dan Menteri Pengajaran Republik Indonesia pada 1946. INS Kayutanam ia dirikan sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial Belanda yang berorientasi pada pencetakan tenaga kerja murah. Sebaliknya, INS menanamkan kemandirian, kreativitas, dan nasionalisme sebagai tujuan utama pendidikan.
“Pendidikan dan kebudayaan tidak bisa dipisahkan. Kebudayaan adalah fondasi karakter sekaligus daya saing bangsa,” ujar Fadli Zon. Ia menambahkan, pemikiran Sjafe’i beserta jaringan alumni INS telah memberikan kontribusi nyata dalam pembentukan pemikiran kebangsaan modern Indonesia.
Melalui Direktorat Sarana dan Prasarana, Kementerian Kebudayaan menyatakan dukungan penuh terhadap penguatan INS Kayutanam. Museum M. Sjafe’i diarahkan berkembang sebagai pusat dokumentasi gagasan, karya, dan pemikiran tokoh tersebut, bahkan dipersiapkan untuk masuk dalam skema pengakuan internasional seperti Memory of the World UNESCO.
[irp posts=”33444″ ]
Peresmian ini turut dihadiri Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis, Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat Arry Yuswandi, akademisi Prof. Dr. Fasli Jalal, sastrawan Taufik Ismail, pendiri Yayasan Museum Muhammad Sjafe’i Ade Novalia, serta pengurus yayasan dan keluarga besar M. Sjafe’i.
Fadli Zon berharap kawasan INS Kayutanam dapat berkembang menjadi kantong budaya kreatif sekaligus pusat edukasi yang inspiratif. Momentum satu abad INS dinilai krusial untuk memastikan warisan Sjafe’i tidak berhenti sebagai simbol sejarah, tetapi terus memberi kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
Sementara itu, Ade Novalia menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kebudayaan atas dukungan revitalisasi museum. Ia menjelaskan, yayasan telah mengajukan pembangunan gedung baru dan renovasi fasilitas lama, yang kini memperoleh dua alokasi anggaran. Museum ini dirancang tidak hanya sebagai ruang penyimpanan koleksi bersejarah, tetapi juga sebagai ruang belajar interaktif bagi pelajar dan masyarakat umum.
Salah satu putra almarhum M. Sjafe’i mengungkapkan harapannya agar museum ini mampu menghidupkan kembali filsafat pendidikan sang tokoh, “hati berkata, otak berpikir, tangan bekerja.” Prinsip tersebut menekankan keseimbangan antara nilai moral, kecerdasan intelektual, dan keterampilan praktis—sebuah pendekatan yang dinilai semakin relevan di tengah krisis orientasi pendidikan saat ini.
Sekretaris Daerah Sumatera Barat Arry Yuswandi menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak boleh semata berfokus pada infrastruktur fisik. Di era digital yang sarat infiltrasi budaya asing, penguatan jati diri bangsa melalui pelestarian nilai sejarah dan kebudayaan menjadi keharusan.
[irp posts=”33441″ ]
Melalui Museum M. Sjafe’i, semangat pendidikan berbasis kemandirian yang lahir dari tanah Minangkabau diharapkan terus menyala, menjadi sumber inspirasi bagi generasi mendatang, dan kembali menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah proses pembebasan manusia. (*)













