JAKARTA, ONtime.ID — Gelombang kritik terhadap pemerintah yang dibawa ratusan mahasiswa dalam aksi demonstrasi di kawasan Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2026), sempat memanas setelah terjadi adu mulut antara Kepala Bagian Operasi Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Ashabul Kahfi, dengan seorang mahasiswa Universitas Indonesia (UI).
Insiden tersebut terjadi di tengah berlangsungnya aksi yang mengusung kritik keras terhadap berbagai kebijakan pemerintah, mulai dari kondisi ekonomi, kenaikan harga kebutuhan pokok, hingga program-program nasional yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
Ketegangan bermula ketika dua kendaraan sipil berwarna silver dan hitam terjebak di tengah kerumunan massa aksi. Mobil berwarna silver berhasil keluar lebih dulu, sementara sebuah SUV hitam masih tertahan di tengah barisan demonstran.
Di tengah situasi tersebut, massa mahasiswa justru membantu membuka akses agar kendaraan dapat melintas. Namun orasi dan seruan aksi tetap berlangsung. Sejumlah peserta aksi berulang kali mengingatkan massa agar tidak terpancing situasi yang berpotensi memicu konflik.
[irp posts=”36927″ ]
“Hati-hati, hati-hati, provokasi!” teriak massa dari tengah kerumunan.
Seorang perempuan yang berada di lokasi juga meminta peserta aksi memberikan jalan bagi kendaraan tersebut karena merupakan warga sipil yang tidak terkait dengan demonstrasi.
Ketika proses evakuasi kendaraan berlangsung, AKBP Ashabul Kahfi turun langsung membantu mengatur jalannya kendaraan keluar dari kepungan massa. Namun situasi mendadak berubah saat sejumlah demonstran menyoraki kehadiran perwira menengah Polri tersebut.
Sorakan massa dibalas Kahfi dengan mengangkat kedua tangannya sembari meneriakkan takbir. Momen itu menjadi titik awal meningkatnya tensi di lapangan.
Tak lama kemudian, seorang perempuan yang berada di sekitar lokasi terlihat mengacungkan jari tengah ke arah wajah Kahfi. Aksi tersebut memicu reaksi spontan dari perwira polisi itu.
“Jangan begitu lah, tidak bagus kayak gitu,” ujar Kahfi.
[irp posts=”36923″ ]
Meski perempuan tersebut kemudian meninggalkan lokasi, ketegangan belum berakhir. Seorang mahasiswa UI mendatangi Kahfi dan terlibat perdebatan singkat yang berlangsung di hadapan peserta aksi lainnya.
Dalam rekaman yang beredar di lokasi, Kahfi terdengar menegaskan dirinya tidak memiliki persoalan pribadi dengan mahasiswa tersebut.
“Gua nggak ada urusan sama lo,” katanya sambil berupaya menjauh.
Namun mahasiswa itu kembali menghampiri. Situasi semakin panas ketika Kahfi menyebut mahasiswa tersebut terlalu banyak gaya.
Pernyataan itu langsung dibalas mahasiswa yang mengaku sedang meluapkan kemarahan terhadap situasi yang mereka nilai tidak berpihak kepada rakyat.
“Gua nggak banyak gaya. Gua marah,” jawab mahasiswa tersebut.
Perdebatan berlanjut singkat sebelum Kahfi akhirnya mempersilakan massa menyampaikan kemarahannya secara terbuka.
“Ya sudah silakan marahin. Marahin gua nggak apa-apa,” ujar Kahfi.
[irp posts=”36920″ ]
Setelah itu, ia kembali fokus membantu kendaraan yang masih terjebak dan situasi perlahan dapat dikendalikan.
Demonstrasi Berangkat dari Kekecewaan terhadap Kondisi Ekonomi
Di balik insiden tersebut, demonstrasi yang digelar mahasiswa sejatinya membawa pesan yang lebih besar. Ketua BEM UI, Yatalathof Mas’hum Imawan, sebelumnya menyatakan aksi turun ke jalan dilakukan karena pemerintah dianggap gagal membaca realitas yang dihadapi masyarakat.
Menurutnya, pemerintah terlalu sering menampilkan angka-angka pertumbuhan ekonomi, sementara tekanan ekonomi justru dirasakan langsung oleh rakyat di lapangan.
“Harga beras naik, lapangan kerja menyempit, rakyat sekarat dihajar pajak. Dan pemerintah sibuk memoles citra sambil membagi proyek kepada kroni,” tegasnya.
Mahasiswa menilai berbagai jalur kritik formal telah ditempuh selama ini, mulai dari kajian akademik hingga penyampaian data dan rekomendasi. Namun mereka menganggap respons pemerintah belum menunjukkan perubahan yang signifikan.
Karena itu, demonstrasi dipilih sebagai bentuk tekanan politik dan sosial agar pemerintah tidak lagi mengabaikan suara publik.
[irp posts=”36914″ ]
Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa lima tuntutan utama, yakni penghentian pemborosan APBN, penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM, penghentian Program Makan Bergizi Gratis (MBG), penghentian pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, penghentian praktik militerisme di ruang sipil, serta mendesak Presiden untuk mengakui dan bertanggung jawab atas berbagai persoalan yang dinilai merugikan masyarakat.
Adu mulut antara aparat dan mahasiswa memang berakhir tanpa bentrokan fisik. Namun peristiwa itu menjadi gambaran bagaimana tingginya tensi sosial dan politik yang mengiringi gelombang kritik terhadap pemerintah. Di tengah tekanan ekonomi dan meningkatnya ketidakpuasan publik, ruang dialog antara negara dan masyarakat kembali diuji di jalanan ibu kota. (*)













