JAKARTA, ONtime.ID — Forum Silaturahmi Minangkabau Diaspora Network Global (MDNG) 2026 tidak sekadar menjadi ajang temu perantau Minang dari berbagai penjuru dunia. Forum yang digelar di Auditorium Lantai 12 Universitas YARSI Jakarta, Sabtu (23/5), itu berubah menjadi ruang konsolidasi gagasan besar tentang masa depan Sumatera Barat yang dinilai masih menghadapi berbagai tantangan serius pembangunan.
Menjadi salah satu pemateri dalam forum akbar tersebut, Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat, Muhidi, secara tegas mengajak seluruh diaspora Minangkabau, baik di dalam maupun luar negeri, untuk tidak memutus hubungan dengan kampung halaman dan mulai mengambil peran nyata membangun Ranah Minang.
Menurut Muhidi, makna “pulang kampung” tidak lagi harus dimaknai sebatas kehadiran fisik. Di tengah era globalisasi dan mobilitas masyarakat yang semakin tinggi, kontribusi nyata bagi daerah dapat diwujudkan melalui berbagai cara strategis.
[irp posts=”36458″ ]
“Pulang tidak selalu harus dimaknai secara fisik. Pulang dapat diwujudkan melalui kontribusi pemikiran, investasi, transfer pengetahuan, penguatan jejaring, serta perhatian dan kepedulian terhadap pembangunan kampung halaman,” ujar Muhidi di hadapan tokoh diaspora Minangkabau dan pejabat nasional.
Muhidi menilai Sumatera Barat sesungguhnya memiliki modal besar untuk berkembang menjadi daerah maju dan kompetitif. Potensi sektor pertanian, pariwisata, perdagangan hingga ekonomi kreatif disebutnya sangat menjanjikan. Ditambah lagi, kekayaan sumber daya alam yang tersebar di berbagai wilayah menjadi kekuatan utama daerah.
Namun di balik potensi besar tersebut, ia mengakui kesejahteraan masyarakat Sumbar belum sepenuhnya terdongkrak secara maksimal. Menurutnya, masih ada kesenjangan antara kekayaan potensi daerah dengan hasil pembangunan yang dirasakan masyarakat.
Karena itu, Muhidi menilai keterlibatan diaspora Minangkabau menjadi kebutuhan mendesak agar Sumbar tidak tertinggal di tengah ketatnya persaingan global dan perubahan ekonomi nasional.
[irp posts=”36455″ ]
“Kami mengajak para perantau dan pengusaha diaspora Minangkabau untuk bersama-sama membangun ranah ini agar lebih maju, mandiri, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global,” katanya.
Dalam pemaparannya, Muhidi juga menekankan bahwa kekuatan terbesar Minangkabau tidak hanya terletak pada sumber daya alam, tetapi juga pada modal sosial budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Nilai Saiyo Sakato, semangat gotong royong, solidaritas sosial, serta kuatnya jaringan kekerabatan masyarakat Minang disebut sebagai kekuatan strategis yang tidak dimiliki semua daerah.
“Budaya Minangkabau adalah modal pembangunan yang sangat besar. Nilai Saiyo Sakato, gotong royong, dan jaringan kekerabatan orang Minang harus menjadi kekuatan bersama dalam menghadapi tantangan global,” tegasnya.
Muhidi juga menyoroti fenomena brain drain atau banyaknya sumber daya manusia unggul Minang yang sukses di luar daerah bahkan luar negeri. Menurutnya, pola pikir lama itu harus diubah menjadi brain gain, yakni menjadikan keberhasilan diaspora sebagai energi baru bagi pembangunan kampung halaman.
[irp posts=”36452″ ]
“Oleh karena itu, kita perlu mengubah cara pandang dari brain drain menjadi brain gain. Keberhasilan dan pengalaman para perantau harus menjadi energi positif untuk kemajuan Ranah Minang,” ujarnya lagi.
Forum MDNG 2026 sendiri dihadiri sejumlah tokoh nasional asal Minangkabau dan pejabat negara. Hadir di antaranya Kepala Badan Pengelola Badan Usaha Milik Negara Republik Indonesia, Dony Oskaria, Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Yassierli, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon, serta Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago.
Turut hadir pula Anggota DPR RI sekaligus Ketua Umum DPP Ikatan Keluarga Minang (IKM), Andre Rosiade, bersama tokoh diaspora Minangkabau dari berbagai negara.
Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah dalam kesempatan yang sama memaparkan berbagai persoalan strategis yang masih membayangi pembangunan daerah.
Menurut Mahyeldi, kualitas pembangunan dan daya saing sumber daya manusia di Sumbar masih belum optimal. Ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, hingga pembangunan infrastruktur dasar dan sosial ekonomi di nagari juga dinilai masih membutuhkan penguatan serius.
Selain itu, ia mengakui pertumbuhan ekonomi daerah belum sepenuhnya inklusif dan berdaya saing. Pengelolaan infrastruktur, ketangguhan menghadapi bencana, pelayanan publik, hingga tata kelola pemerintahan yang bersih dan transparan juga masih menjadi pekerjaan rumah besar.
[irp posts=”36438″ ]
Di sektor sosial budaya, Mahyeldi menilai penguatan masyarakat yang harmonis, religius, dan berbasis keluarga berkualitas masih perlu didorong secara berkelanjutan. Sementara sektor pariwisata dan ekonomi kreatif juga dinilai belum berkembang maksimal sebagai penopang ekonomi masa depan Sumbar.
Karena itu, Mahyeldi berharap momentum MDNG 2026 tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan menjadi titik awal kolaborasi konkret antara perantau dan masyarakat di ranah.
“Dalam kesempatan ini, kami sangat berharap kepada seluruh tokoh perantau yang hadir untuk bisa bersama-sama dengan kami yang ada di ranah membangun tanah Minangkabau yang kita cintai ini,” tutup Mahyeldi. (*)













