JAKARTA, ONtime.ID — Pemerintah Indonesia mulai melakukan impor minyak mentah dari Amerika Serikat secara bertahap setelah jalur distribusi energi dari Timur Tengah terganggu akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengatakan kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional mengingat sekitar 25 persen kebutuhan minyak mentah Indonesia sebelumnya bergantung pada pengiriman melalui jalur tersebut.
Menurut Bahlil, impor dari Amerika Serikat tidak dilakukan sekaligus, melainkan bertahap. Hal ini disebabkan keterbatasan kapasitas penyimpanan minyak nasional yang belum mampu menampung pasokan dalam jumlah besar sekaligus.
“Impor dilakukan secara bertahap karena kapasitas storage kita terbatas. Ini juga bagian dari langkah menjaga ketahanan energi di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu,” ujar Bahlil dalam keterangannya.
[irp posts=”34485″ ]
Langkah pembelian minyak dari Amerika Serikat juga merupakan bagian dari kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat melalui skema Agreement on Reciprocal Tariff (ART). Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia berkomitmen membeli minyak mentah, bahan bakar minyak (BBM), serta LPG dari Amerika Serikat dengan nilai mencapai USD 15 miliar.
Kebijakan tersebut diambil di tengah lonjakan harga minyak dan gas dunia yang dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Situasi ini membuat negosiasi harga energi menjadi faktor penting agar Indonesia tetap mendapatkan pasokan dengan biaya yang kompetitif.
Untuk memperkuat ketahanan energi jangka panjang, pemerintah juga merencanakan pembangunan tambahan fasilitas penyimpanan minyak mentah nasional. Targetnya adalah meningkatkan cadangan energi nasional dari kisaran 21–25 hari menjadi sekitar 90 hari atau tiga bulan.
Bahlil menjelaskan bahwa meskipun Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia—dengan sekitar 20,1 juta barel minyak per hari melintas di wilayah tersebut—pasokan global masih dapat dipenuhi dari berbagai produsen di luar Timur Tengah.
[irp posts=”34481″ ]
Beberapa negara produsen alternatif yang menjadi sumber pasokan minyak antara lain kawasan Afrika, seperti Angola, serta negara lain seperti Brasil dan Malaysia. Diversifikasi sumber ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu kawasan produksi.
Di sisi lain, dampak krisis energi global juga mulai terasa di sejumlah negara besar. China bahkan dilaporkan menghentikan ekspor solar dan bahan bakar minyak sebagai langkah mengamankan kebutuhan energi domestik setelah jalur distribusi minyak dari Teluk Persia terganggu.
Kebijakan tersebut dikeluarkan oleh National Development and Reform Commission (NDRC), lembaga perencana ekonomi tertinggi China. Pemerintah China meminta perusahaan kilang menghentikan penandatanganan kontrak ekspor baru serta menegosiasikan pembatalan pengiriman yang telah disepakati.
Meski memiliki industri pengolahan minyak yang sangat besar, sebagian besar produksi China digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Negara tersebut selama ini merupakan eksportir bahan bakar laut terbesar ketiga di Asia setelah Korea Selatan dan Singapura.
[irp posts=”34476″ ]
Krisis distribusi minyak dari Teluk Persia juga memicu langkah penyesuaian di sejumlah negara lain. Beberapa kilang di Jepang, Indonesia, dan India dilaporkan mulai mengurangi tingkat operasi serta membatasi ekspor produk energi.
Pengamat menilai kebijakan pembatasan ekspor oleh sejumlah negara menunjukkan semakin kuatnya tren prioritas energi domestik di tengah ketidakpastian geopolitik global. Negara-negara pengimpor energi kini berlomba mengamankan pasokan dalam negeri guna mengantisipasi potensi gangguan distribusi yang lebih luas. (*)













