JAKARTA, ONTIME.ID — Perusahaan Umum Badan Usaha Logistik (Perum Bulog) akan segera menerima beras impor 200 ribu ton untuk pemenuhan Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
Hal ini seiring dengan keputusan Menteri Perdagangan untuk mengizinkan impor beras sebesar 500 ribu ton.
Sekretaris Perusahaan Perum Bulog, Awaluddin Iqbal, menyatakan, beras impor itu akan datang dalam waktu dekat sebanyak 200.000 ton hingga akhir 2022. Namun Bulog belum memberitahu asal beras tersebut mengingat banyak negara yang menutup diri untuk ekspor demi menjaga ketahanan pangan.
Sementara itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat dana yang disiapkan untuk melakukan impor beras sebanyak 200.000 ton, yakni sekitar Rp1,8 triliun. Perkiraan kebutuhan dana tersebut mengacu pada asumsi harga beras per kilogramnya sebesar Rp9.000.
Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, mengatakan, akan menyiapkan stok beras impor sebesar 200.000 ton dalam upaya mengamankan stok cadangan beras komersial dari luar negeri yang sewaktu-waktu dapat dibawa ke Indonesia.
Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Moeldoko, mengatakan, kebijakan impor beras bertujuan memperkuat cadangan beras nasional. ia pun memastikan bahwa beras komersial tersebut tidak akan mengganggu beras petani karena hanya dipergunakan pada kondisi tertentu, misalnya untuk penanggulangan bencana, intervensi harga jika diperlukan, dan beberapa kegiatan pemerintah lainnya.
“Penggunaannya akan diawasi secara ketat, untuk memastikan tidak masuk ke pasar dan kita pastikan betul beras komersial ini tidak akan mengganggu beras dalam negeri produksi petani,” ujar Moeldoko dilansir dari siaran pers KSP, Rabu (14/12).
Hal itu sebagai tindak lanjut koordinasi setelah pemerintah menyiapkan 500.000 ton beras komersial di luar negeri yang sewaktu-waktu dapat dibawa ke Indonesia. Beras komersial itu merupakan persediaan akhir tahun 2022 sampai menunggu panen raya pada Februari-Maret 2023.
“Tujuannya, Bulog dapat menyerap hasil panen petani untuk mengisi ulang kembali stoknya sampai dengan 1,2 juta ton. Ini diperlukan dalam rangka menjaga floor price di tingkat petani, dan berikutnya dikeluarkan pada saat produksi berkurang di akhir tahun,” kata Moeldoko.
Ia menyebutkan, posisi stok beras di Bulog saat ini kurang dari 500.000 ton. Sementara itu, sisanya berada di rumah tangga, pedagang, dan penggilingan padi.
Meski cadangan beras terbilang tersedia, menurut dia, pemerintah tetap ingin menjamin dan memastikan ketersediaan beras di masyarakat benar-benar aman. “Hal ini juga sebagai langkah untuk mengendalikan inflasi,” kata Moeldoko.
Ia membantah anggapan pemenuhan cadangan beras melalui pengadaan beras komersial di luar negeri menunjukkan produksi beras tidak mencukupi. Menurut dia, justru hasil produksi beras nasional masih terbilang surplus.
Adapun produksi beras nasional Januari-Desember 2022 diproyeksikan sebesar 31,90 juta ton. Sementara itu, kebutuhan beras nasional tahun 2022 sekitar 30,2 juta ton, sehingga diproyeksikan mengalami surplus beras sekitar 1,7 juta ton. “Produksi beras nasional dalam kondisi baik, yang mau kita jaga adalah stok Beras di Bulog,” ujar Moeldoko.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag), Zulkifli Hasan, sudah mengeluarkan izin impor beras sebanyak 500.000 ton kepada Perum Bulog untuk memenuhi cadangan beras pemerintah (CBP) yang sudah menipis jelang akhir 2022. (*/red)













