JAKARTA, ONtime.ID — Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri pada 19 Maret 2026 berlangsung intens dan sarat pembahasan strategis.
“Hampir kurang lebih pertemuan dua jam banyak yang didiskusikan,” ujar Prasetyo di Istana Kepresidenan Jakarta, Sabtu (21/3).
Menurutnya, kedua tokoh saling bertukar pandangan terkait berbagai isu nasional maupun global. Dalam pertemuan tersebut, Megawati turut membagikan pengalamannya selama menjabat sebagai wakil presiden dan presiden kepada Prabowo yang kini memimpin pemerintahan.
“Sebagai pemimpin, tentu sangat baik untuk saling memberikan masukan dan berbagi pengalaman demi kemajuan bangsa dan negara,” kata Prasetyo.
[irp posts=”34904″ ]
Ia juga membenarkan bahwa salah satu topik yang dibahas adalah dinamika geopolitik global yang belakangan memanas, meski tidak merinci isu spesifik yang menjadi fokus pembicaraan.
Pertemuan berlangsung di Istana Kepresidenan Jakarta pada Kamis (19/3), menjelang akhir Ramadan. Dalam dokumentasi resmi yang dirilis pemerintah, terlihat Prabowo menggandeng tangan Megawati saat menuruni tangga Istana Merdeka, sebuah gestur yang mencerminkan keakraban keduanya.
Megawati hadir mengenakan busana batik bernuansa biru, sementara Prabowo tampil dengan setelan safari warna khaki lengkap dengan pin kepresidenan.
Pertemuan itu juga dihadiri sejumlah tokoh penting. Megawati didampingi putrinya, Ketua DPR Puan Maharani. Sementara Prabowo didampingi Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad serta putranya, Didit Hediprasetyo.
[irp posts=”34901″ ]
Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menyebut pertemuan tersebut berlangsung hangat layaknya pertemuan dua sahabat lama. Ia menegaskan pembahasan mencakup berbagai isu, mulai dari persoalan domestik hingga geopolitik global.
Menurut Hasto, Megawati juga menekankan pentingnya ketajaman dalam menentukan prioritas dan kecepatan dalam merespons krisis kepada Prabowo.
“Pengalaman Ibu Mega dalam menghadapi berbagai krisis menjadi bekal penting dalam diskusi tersebut, terutama terkait sense of priority dan sense of urgency dalam pemerintahan,” ujarnya.
Pertemuan ini dinilai menjadi sinyal komunikasi politik yang kian cair di antara elite nasional, sekaligus menunjukkan adanya ruang dialog strategis lintas pengalaman dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. (*)
[irp posts=”34898″ ]













