MENTAWAI, ONtime.ID –Kunjungan kerja Wakapolda Sumatera Barat, Solihin, ke Polres Kepulauan Mentawai pada Sabtu (4/4/2026) bukan sekadar agenda seremonial. Di hadapan jajaran personel, ia menyampaikan pesan yang lugas bahkan terkesan keras tentang disiplin, integritas, dan cara aparat memperlakukan masyarakat.
Didampingi Anissullah M. Ridha dan Achmadi, kehadiran Wakapolda di wilayah Kepulauan Mentawai difokuskan untuk mengecek kesiapan personel sekaligus memastikan arah kebijakan institusi benar-benar dijalankan di lapangan bukan sekadar slogan.
“Masyarakat Itu Keluarga, Bukan Objek”
Dalam amanatnya saat memimpin apel pagi, Solihin menegaskan pendekatan humanis sebagai fondasi utama pelayanan. Namun di balik pesan normatif itu, tersirat kritik terhadap praktik-praktik yang masih menyimpang.
[irp posts=”35283″ ]
“Layani masyarakat seperti keluarga sendiri. Jangan pernah menyulitkan atau mempermainkan hukum terhadap masyarakat yang membutuhkan,” tegasnya.
Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa praktik memperumit layanan atau mempermainkan kewenangan masih menjadi bayang-bayang yang harus dibenahi di tubuh institusi.
Peringatan Tegas: Narkoba dan Pencitraan
Tak berhenti di situ, Wakapolda juga melontarkan peringatan keras terkait narkoba dan gaya hidup personel. Ia menegaskan tidak ada ruang toleransi bagi anggota yang terlibat penyalahgunaan narkotika—isu klasik yang terus menggerus citra aparat jika tidak ditangani serius.
Selain itu, fenomena “flexing” atau pamer kehidupan di media sosial juga disorot tajam.
“Tidak usah pamer atau ingin viral seolah-olah kita baik. Lakukan kebaikan yang nyata,” ujarnya.
[irp posts=”35281″ ]
Pesan ini secara tidak langsung menyentil kecenderungan sebagian oknum yang lebih sibuk membangun citra dibanding memperbaiki kinerja nyata di lapangan.
Tantangan Nyata: Kesehatan dan Tekanan Tugas
Dalam konteks wilayah kepulauan seperti Kepulauan Mentawai, tantangan tugas tidak hanya datang dari aspek keamanan, tetapi juga kondisi geografis dan keterbatasan fasilitas. Wakapolda menyoroti pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental personel, mengingat risiko penyakit seperti hipertensi dan stroke yang mengintai akibat pola hidup tidak terkontrol.
Ia juga mendorong anggota untuk memiliki aktivitas produktif di luar jam dinas, seperti bertani atau beternak. Selain sebagai pelepas kejenuhan, langkah ini dinilai mampu mempererat hubungan dengan masyarakat sekaligus mengikis ego sektoral antarinstansi.
Siapkan Putra Daerah, Kurangi Ketergantungan
Menutup arahannya, Solihin menekankan pentingnya pembinaan generasi muda lokal agar mampu bergabung dalam institusi Polri. Langkah ini bukan sekadar strategi rekrutmen, tetapi juga upaya membangun kedekatan emosional antara aparat dan masyarakat setempat.
[irp posts=”35278″ ]
Namun demikian, pesan-pesan yang disampaikan dalam kunjungan ini menyiratkan satu hal: masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Mulai dari integritas, pola pelayanan, hingga cara membangun kepercayaan publik.
Kunjungan kerja ini pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar rutinitas. Ia menjadi penegasan bahwa di tengah tuntutan masyarakat yang semakin kritis, aparat tidak cukup hanya hadir tetapi harus berubah dan membuktikan diri. (Fais)













