SAWAHLUNTO, ONTIME.ID—Sejak ditetapkan sebagai Warisan Dunia (World Heritage) oleh UNESCO pada 2019 lalu, hingga kini belum ada kejelasan terkait pengelolaan Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS). Masih belum dibentuknya badan pengelola menjadi salah satu penyebab WTBOS terkesan terabaikan.
Direktur Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Tekhnologi (Kemendikbudristek), Hilmar Farid menyebut, potensi wisata budaya dan sejarah Kota Sawahlunto sangat besar.
“Tentu menjadi PR kita bersama dalam memanfaatkan potensi yang ada. Termasuk membentuk badan pengelolanya,” kata Hilmar saat mengunjungi Sawahlunto, Selasa (17/1).
Ia mengatakan, dalam dalam waktu dekat akan disusun Rencana Induk Pembangunan dan Pemanfaatan WTBOS. Selain itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan lembaga untuk melindungi cagar budaya sangat penting dilakukan.
“Badan pengelola WTBOS juga harus didukung sepenuhnya oleh tujuh kabupaten/kota yang terlibat secara langsung dengan warisan dunia ini,” ujarnya.
Ia menerangkan, kapasitas SDM dan lembaga untuk melindungi cagar budaya sangat penting dilakukan. Termasuk juga rencana induk pengelolaan dan menentukan apa yang harus dilakukan. “Sebab ini menyangkut visi, sehingga lebih mudah dilakukan,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Sawahlunto, Ambun Kadri saat mendampingi Dirjen Hilmar Farid mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota (Pemko) Sawahlunto membutuhkan dukungan dari pemerintah pusat, dalam hal ini Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek, untuk mengurus WTBOS. Sebab, menurutnya, pengelolaan WTBOS bukan hanya kewenangan dari pemerintah daerah saja.
“WTBOS ini harus digarap bersama. Ada kewenangan pusat dan ada kewenangan daerah. Terlebih dengan anggaran daerah yang sangat terbatas, maka kehadiran pemerintah pusat tentu sangat penting dalam perkembangan program pengelolaan WTBOS,” kata Ambun.
Selama di Sawahlunto, Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid mengunjungi destinasi wisata WTBOS, yakni Gedung Info Box, Lubang Tambang Mbah Soero, Museum Goedang Ransoem, dan Museum Kereta Api. (*/red)













