PARIAMAN, ONtime.ID — Dugaan malpraktik dan kelalaian medis mengguncang dunia kesehatan di Padang Pariaman. Seorang pasien bersalin, Nadila (22), warga Nagari Sunua Korong Malintang, Kecamatan Nan Sabaris, dilaporkan meninggal dunia usai melahirkan anak pertamanya.
Kasus ini memicu sorotan tajam publik setelah muncul indikasi kuat bahwa penanganan medis tidak dilakukan secara cepat, tepat, dan profesional.
Peristiwa tragis tersebut menyeret nama Engga Lift Irwanto, dokter yang menangani korban sekaligus menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Padang Pariaman. Hingga berita ini diturunkan, yang bersangkutan belum memberikan klarifikasi meski telah dikonfirmasi media melalui pesan WhatsApp.
Sikap diam tersebut justru memicu kecurigaan publik. Dalam situasi serius yang menyangkut hilangnya nyawa pasien, ketidakhadiran penjelasan dari pihak yang bertanggung jawab dinilai sebagai bentuk penghindaran dan tidak mencerminkan transparansi.
[irp posts=”35359″ ]
Korban sebelumnya mendapatkan penanganan di RS Aisyiyah Pariaman sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Padang Pariaman dalam kondisi kritis. Namun, nyawa Nadila tidak tertolong.
Polemik semakin memanas setelah Direktur RS Aisyiyah, Tri Wijayanto, memberikan pernyataan yang dinilai kontroversial. Ia menegaskan bahwa tidak ada pasien ibu hamil yang meninggal dunia di RS Aisyiyah.
“Sampai saat ini, informasi yang kami miliki, tidak ada ibu hamil yang meninggal dunia di RS Aisyiyah Pariaman. Tenaga kesehatan kami selalu siap dan siaga 24 jam dalam pelayanan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut langsung dibantah keras oleh pihak keluarga korban. Suami almarhumah, Zizi, menyebut pernyataan tersebut sebagai upaya mengaburkan fakta yang sebenarnya terjadi.
[irp posts=”35347″ ]
“Istri saya memang tidak meninggal di RS Aisyiyah, tapi itu karena kelalaian dokter dan tim medis di sana. Kondisinya sudah memburuk saat dirujuk. Kalau dari awal ditangani dengan benar, mungkin istri saya masih hidup,” tegas Zizi dengan nada penuh emosi.
Ia menilai bahwa keterlambatan penanganan serta keputusan merujuk pasien dalam kondisi kritis merupakan bentuk kelalaian serius yang tidak bisa ditoleransi. Menurutnya, tanggung jawab tidak serta-merta hilang hanya karena pasien meninggal di rumah sakit lain.
“Jangan lari dari tanggung jawab. Semua berawal dari penanganan di RS Aisyiyah,” tambahnya.
Tidak hanya itu, upaya media untuk menggali keterangan dari pihak RSUD Padang Pariaman juga menemui jalan buntu. Saat dikonfirmasi, Kepala Bidang Pelayanan RSUD, Rika, terkesan enggan memberikan penjelasan rinci terkait kondisi pasien saat dirujuk maupun penyebab kematian.
Sikap tertutup tersebut semakin memperkuat dugaan adanya upaya menutup-nutupi fakta medis yang sebenarnya terjadi.
[irp posts=”35344″ ]
Kasus ini kian berkembang menjadi polemik serius yang tidak hanya menyangkut dugaan malpraktik, tetapi juga transparansi dan akuntabilitas institusi kesehatan. Publik mempertanyakan standar pelayanan medis yang diberikan, terutama dalam kasus persalinan yang seharusnya menjadi prioritas utama.
Dalam dunia medis, penanganan persalinan memiliki standar operasional yang ketat. Keterlambatan tindakan, salah diagnosa, atau keputusan rujukan yang tidak tepat waktu dapat berujung fatal. Jika dugaan kelalaian ini terbukti, maka konsekuensinya bukan hanya etik, tetapi juga hukum.
Yang menjadi sorotan lebih tajam adalah posisi dr. Engga Lift Irwanto sebagai pejabat publik di sektor kesehatan. Jabatan tersebut seharusnya menjamin kualitas pelayanan, bukan justru memunculkan dugaan pelanggaran serius.
Sementara itu, perbedaan narasi antara pihak rumah sakit dan keluarga korban memperlihatkan adanya jurang informasi yang lebar. Di satu sisi, rumah sakit menyatakan tidak ada kematian di fasilitasnya. Di sisi lain, keluarga menegaskan bahwa akar persoalan justru terjadi di sana.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah definisi tanggung jawab medis hanya berhenti di lokasi kematian, atau sejak awal penanganan pasien?
[irp posts=”35341″ ]
Publik kini menuntut investigasi menyeluruh dan independen terhadap kasus ini. Tidak cukup hanya dengan klarifikasi sepihak, tetapi harus ada audit medis yang transparan untuk mengungkap kronologi sebenarnya.
Jika tidak ditangani secara serius, kasus ini berpotensi merusak kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan, khususnya di wilayah Padang Pariaman.
Satu nyawa telah hilang. Namun yang lebih besar dari itu adalah kepercayaan publik yang kini dipertaruhkan. Jika benar terjadi kelalaian atau malpraktik, maka tidak boleh ada kompromi. (tim)













