Peristiwa

Aspal Baru 4 Bulan Sudah Mengelupas, Proyek Jalan Rp9,6 Miliar Diduga Asal Jadi

154
×

Aspal Baru 4 Bulan Sudah Mengelupas, Proyek Jalan Rp9,6 Miliar Diduga Asal Jadi

Sebarkan artikel ini
Proyek
Aspal Baru 4 Bulan Sudah Mengelupas, Proyek Jalan Rp9,6 Miliar Diduga Asal Jadi

TANAH DATAR, ONtime.ID – Pekerjaan pengerasan, pelebaran, hingga pengaspalan Hotmix ruas jalan Solok via Bukik Kandung menuju Balimbing, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar, menuai sorotan tajam.

Proyek bernilai miliaran rupiah tersebut dipertanyakan dari sisi mutu pekerjaan, setelah kondisi jalan yang baru berusia sekitar empat bulan dilaporkan sudah mengalami kerusakan di sejumlah titik.

Pantauan di lapangan menunjukkan permukaan aspal mulai retak, mengelupas, bahkan beberapa bagian badan jalan tampak mulai mengalami penurunan. Kondisi ini memicu kekhawatiran masyarakat, mengingat usia pekerjaan yang masih sangat baru namun kualitasnya dinilai jauh dari harapan.

[irp posts=”36494″ ]

Tidak hanya itu, pekerjaan pasangan batu penahan tebing yang disebut-sebut dikerjakan melalui sistem Sub Kontrak (Subkon) juga terlihat amblas di beberapa titik. Jika dibiarkan, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan terban pada bahu jalan hingga mengancam badan jalan utama.

Warga setempat menduga proyek dikerjakan terburu-buru demi mengejar target penyelesaian kontrak. Informasi yang dihimpun menyebutkan pekerjaan tersebut hanya memiliki durasi kontrak sekitar 35 hari kalender, sementara kondisi dasar jalan atau base diduga belum padat secara maksimal sebelum dilakukan pengaspalan Hotmix.

“Pemadatan lahannya diduga tidak maksimal, begitu juga pemasangan base-nya. Akibatnya sekarang hasil pekerjaan cepat rusak,” ujar Syafril (65), salah seorang warga yang ditemui ONtime.ID di lokasi, Selasa (27/05).

[irp posts=”36489″ ]

Menurut warga, kerusakan yang muncul dalam waktu singkat menjadi indikasi kuat adanya persoalan pada mutu pelaksanaan pekerjaan, mulai dari tahap persiapan hingga proses pengaspalan.

Dalam pantauan ONtime.ID di lapangan, kondisi pasangan batu penahan tebing menjadi perhatian serius. Struktur pasangan batu terlihat mulai amblas dan nyaris terban. Jika kerusakan terus meluas, bukan hanya bahu jalan yang terancam hanyut, namun juga dapat berdampak pada kerusakan badan jalan secara keseluruhan.

Sementara itu, saat dikonfirmasi ONtime.ID melalui pesan WhatsApp, Selasa (27/05), pelaksana Subkon perorangan bernama Condro menyebut pasangan batu yang amblas tersebut bukan bagian dari item kontrak proyek utama.

Menurutnya, pekerjaan itu merupakan swadaya masyarakat, termasuk biaya material dan upah pekerja. Ia juga menegaskan bahwa pihak Subkon tidak memiliki hubungan langsung dengan perusahaan pelaksana proyek, PT Aska Beton Utama.

[irp posts=”36486″ ]

“Itu swadaya warga, tidak masuk dalam item kontrak rekanan pelaksana,” ujar Condro singkat.

Diketahui, proyek tersebut merupakan bagian dari kegiatan Paket Preservasi Jalan Bukit Kandung–Panjalangan dengan Nomor Kontrak: EP-01K8A6X058T4G470RZIQ4CN14K dan nilai kontrak sebesar Rp9.613.877.000,00. Pekerjaan dilaksanakan oleh PT Aska Beton Utama.

Sorotan tajam juga datang dari kalangan aktivis. A. Mantari Mudo, salah seorang aktivis LSM di Sumatera Barat, menilai mutu pekerjaan pengaspalan Hotmix tersebut sangat memprihatinkan dan tidak sebanding dengan nilai anggaran proyek.

Ia mempertanyakan bagaimana proyek bernilai hampir Rp10 miliar dapat menunjukkan kerusakan dalam waktu sangat singkat. Menurutnya, durasi pengerjaan yang terlalu pendek berpotensi memengaruhi kualitas hasil pekerjaan di lapangan.

“Dengan nilai kontrak sebesar itu, seharusnya mutu pekerjaan benar-benar diperhatikan. Kalau baru beberapa bulan sudah retak dan mengelupas, tentu publik patut mempertanyakan kualitas pekerjaannya,” tegas Mantari Mudo.

[irp posts=”36483″ ]

Ia juga menegaskan bahwa tanggung jawab tidak bisa hanya dibebankan kepada kontraktor pelaksana semata. Menurutnya, seluruh pihak yang terlibat dalam proyek harus ikut bertanggung jawab, mulai dari rekanan pelaksana, pihak Subkon, Konsultan Pengawas hingga Tim PHO (Provisional Hand Over) atau tim serah terima hasil pekerjaan.

“Semuanya harus bertanggung jawab. Rekanan pelaksana, pihak Subkon, Konsultan Pengawas, hingga Tim PHO harus diperiksa. Jangan sampai proyek miliaran rupiah dibiarkan rusak dalam hitungan bulan tanpa ada evaluasi,” tegasnya lagi.

Masyarakat kini berharap instansi terkait segera turun tangan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap mutu pekerjaan proyek tersebut, termasuk mengaudit kualitas material Hotmix, ketebalan aspal, hingga proses pemadatan base yang diduga tidak sesuai spesifikasi teknis. (BM)

Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID