SAWAHLUNTO, ONTIME.ID — Tambang Batubara di Sawahlunto kembali memakan korban. Setidaknya sembilan pekerja tambang PT Nusa Alam Lestari (NAL) meninggal dunia dan empat orang lainnya luka bakar akibat lubang tambang meledak, Jumat (9/12).
Kementerian ESDM pun masih berupaya mencari penyebab meledaknya tambang batu bara tersebut.
Kepala Teknik Tambang (KTT) PT NAL, Dian Firdaus, mengungkapkan, saat ini masih ada satu orang pekerja lagi yang belum dapat dievakuasi karena masih tinggi kadar metan dan kurangnya oksigen serta adanya titik api di dalam lubang. “Sebanyak sembilan orang sudah dievakuasi ke rumah sakit umum daerah Sawahlunto dan dinyatakan meninggal,” ujarnya kepada media Jumat (9/12). Untuk penyebab ledakan sebut Dian Firdaus, masih belum bisa dipastikan, menunggu selesai evakuasi dan akan dilanjutkan investigasi.
Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumbar, Irjend Pol Suharyono, saat meninjau langsung di lokasi tambang mengungkapkan, kejadian ini harus menjadi perhatian khusus bagi pengusaha tambang sehingga kejadian serupa tidak terulang lagi. “Untuk penanganan pascaledakan, saya rasa cukup tanggap. Tinggal kita investigasi terkait penyebab dari ledakan ini,” ujarnya.
Untuk operasional penambangan, Kapolda Suharyono memastikan tidak ada penutupan tambang. Ia menyebutkan, tambang ini legal karena ada izinnya. “Kalau ilegal langsung saya tutup, tetapi untuk kepentingan penyelidikan kita tutup sementara,” katanya.
RSUD Kota Sawahlunto mencatat sudah sembilan kantong jenazah yang telah tiba di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit tersebut. Direktur RSUD, dr. Adrian Amri, menjelaskan, selain sembilan jenazah, juga ada 2 korban ledakan tambang dengan kondisi selamat. Seorang diantaranya sempat kritis.
“Seorang korban sempat mengalami kritis karena mengalami luka bakar lebih dari 50 persen. Sempat akan dirujuk ke Padang, namun dibatalkan karena kondisi sudah stabil,” terangnya.
Dia menambahkan, seorang relawan juga mengalami sesak nafas akibat kekurangan oksigen saat evakuasi korban. “Sekarang sedang diobservasi,” tambahnya.
Sementara itu, Kadiv Humas Polri, Irjen Dedi Prasetyo, menjelaskan kronologis kejadian dimana saat itu para pekerja lubang memulai aktivitas penambangan yang diketahui oleh Dian Firdaus selaku Kepala Teknik Tambang (KTR) PT NAL. Namun, tidak berselang lama, terlihat lubang mengeluarkan kepulan asap dan diiringi letupan kecil dari dalam lubang tambang.
“Pada saat itu beberapa pekerja sudah ada yang masuk ke dalam lubang, selanjutnya KTT memerintahkan kepala lubang untuk melakukan pengecekan ke dalam lubang,” kata Dedi, Jumat (9/12).
Terdapat sebanyak 15 orang dari pekerja lubang dalam saat itu. Adapun kondisi lubang terdapat kandungan gas metan. Pada lubang itu terdapat beberapa reruntuhan akibat dari letupan kecil lubang tambang. “Fokus utama saat ini adalah evakuasi korban dulu,” ucap Dedi.
Dedi mengatakan, hal itu menjadi alasan pihaknya belum memprioritaskan penyelidikan untuk mencari tahu penyebab ledakan. Apalagi belum diketahui persis bagaimana kondisi di dalam lubang. “Masih didalami oleh Polres, dan Polda Sumbar turun untuk mengawal proses penyelidikan,” katanya.
Penyebab Ledakan Diselidiki
Direktur Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Sunindyo Suryo Herdadi, menyebut, Kementerian ESDM masih berupaya mencari penyebab meledaknya tambang batu bara tersebut. “Tim sedang bekerja,” kata Sunindyo Suryo Herdadi seperti dilansir Bisnis, Jumat.
Sunindyo juga mengungkapkan Kementerian ESDM telah mengirim mengirim sejumlah orang ke lokasi kejadian. “Teman-teman inspektur tambang sedang meluncur ke lokasi untuk memastikan penyebab insiden tersebut,” ungkap Sunindyo.
Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sumbar, Heri Martinus, menyebut bahwa peristiwa ledakan itu terjadi di lokasi tambang yang dikelola oleh PT Nusa Alam Lestari, tepatnya di lubang SD C3 atau lori 2.
Meledak Ledakan ini diketahui terjadi sekitar pukul 08.30 WIB. “Menurut informasi inspektur tambang, benar terjadi ledakan. Bukan tambang ilegal, tadikelola PT Nusa Alam Lestari,” katanya Jumat (9/12). (*/red)













