PADANG, ONtime.ID — Program unggulan Wakil Gubernur Sumatera Barat “Silek Tradisi Masuk Sekolah” terus bergerak dari tataran gagasan menuju implementasi nyata.
Hal ini ditandai dengan pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Guru dan Pelatih Silat Tradisi tingkat SLTA/Sederajat se-Sumatera Barat, yang menjadi fondasi penting dalam menjadikan silek tradisi sebagai ekstrakurikuler wajib di lingkungan pendidikan menengah.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, serta Ketua KONI Sumatera Barat yang didampingi Wakil Ketua Umum II, Septri, dan Wakil Ketua Umum VI, Revdi Iwan Syahputra. Hadir pula perwakilan pelatih, guru SLTA, serta pemangku kepentingan dari dunia pendidikan dan olahraga tradisi.
Bimtek ini tidak sekadar menjadi agenda teknis pelatihan, melainkan forum strategis untuk menyamakan persepsi seluruh guru dan pelatih silat tradisi terhadap modul pembelajaran resmi yang telah disusun dan dikeluarkan sebagai acuan pelaksanaan program di sekolah-sekolah.
Dalam arahannya, Wakil Gubernur Sumatera Barat menegaskan bahwa esensi dari program ini bukan menjadikan sekolah sebagai “sasaran silek” dalam pengertian tradisional, melainkan ruang edukasi untuk menanamkan nilai-nilai filosofis, adab, dan budaya Minangkabau yang terkandung dalam setiap aliran silek.
“Yang kita ajarkan bukan sekadar gerak atau jurus silek. Yang lebih utama adalah nilai-nilai filosofi, adab, dan karakter yang diwariskan dalam silek Minangkabau. Sekolah adalah tempat menanamkan nilai, bukan memindahkan sasaran silek ke ruang kelas,” tegas Vasko Ruseimy.
Ia menambahkan bahwa silek tradisi merupakan media pendidikan karakter yang telah terbukti membentuk kepribadian masyarakat Minangkabau selama berabad-abad. Oleh karena itu, integrasi silek ke dalam sistem pendidikan formal harus dilakukan dengan pendekatan yang tepat, terstruktur, dan berorientasi pada pembentukan generasi muda yang beradab dan berbudaya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua KONI Sumatera Barat menyampaikan dukungannya terhadap program ini sebagai langkah strategis menjaga keberlanjutan olahraga dan seni bela diri tradisional. Ia menilai Bimtek ini penting agar para pelatih dan guru memiliki pemahaman yang sama, sehingga tidak terjadi distorsi dalam implementasi di lapangan.
“Kita ingin pelatih dan guru berada pada satu frekuensi pemahaman. Modul yang disusun ini menjadi panduan bersama agar silek tradisi diajarkan secara utuh, sesuai nilai dan filosofi Minangkabau,” ujarnya.
Didampingi Wakil Ketua Umum II Septri dan Wakil Ketua Umum VI Revdi Iwan Syahputra, KONI Sumbar menegaskan komitmennya untuk mendukung pengembangan sumber daya pelatih serta penguatan kelembagaan silek tradisi melalui induk organisasi, khususnya IPSI.
Bimtek ini menekankan bahwa pengenalan silek di sekolah bukan bertujuan mencetak atlet semata, melainkan mengenalkan keberagaman aliran silek Minang, nilai-nilai adat, serta etika sosial yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, peserta didik diharapkan tumbuh sebagai generasi muda yang mengenal jati diri budaya dan memiliki adab dalam kehidupan bermasyarakat.
Program ini juga diharapkan membawa dampak positif bagi keberlangsungan sasaran-sasaran silek di tengah masyarakat. Dengan meningkatnya aktivitas silek di sekolah, sasaran tradisi akan kembali hidup, dan para guru serta pelatih silek akan semakin bersemangat mentransfer ilmu yang bermanfaat bagi generasi muda.
Melalui IPSI, pelaksanaan program ini akan terus dievaluasi secara berkala agar benar-benar tepat sasaran dan selaras dengan tujuan awal. Evaluasi mencakup metode pengajaran, pemahaman modul, serta dampak nyata terhadap pembentukan karakter peserta didik.
Ke depan, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menargetkan sinergi lintas sektor yang lebih kuat. Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan, dan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) akan berkolaborasi untuk membangun Big Data Aliran Silek Tradisi Minangkabau yang ada saat ini. Data tersebut menjadi basis penting dalam perumusan kebijakan pelestarian budaya dan pengembangan pendidikan berbasis kearifan lokal.
Dengan pelaksanaan Bimtek ini, Sumatera Barat menegaskan langkah serius dalam memastikan bahwa silek tradisi tidak hanya bertahan sebagai warisan masa lalu, tetapi hidup dan berkembang di tengah generasi muda sebagai nilai, adab, dan identitas budaya Minangkabau. (*)













