Nasional

Dedi Mulyadi Tanggapi Kritik Pandji: Demokrasi Sehat Butuh Koreksi Terbuka

172
×

Dedi Mulyadi Tanggapi Kritik Pandji: Demokrasi Sehat Butuh Koreksi Terbuka

Sebarkan artikel ini
Dedi
Dedi Mulyadi Tanggapi Kritik Pandji: Demokrasi Sehat Butuh Koreksi Terbuka

BANDUNG, ONtime.ID — Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau akrab disapa KDM, merespons kritik komika Pandji Pragiwaksono yang menilai gaya kepemimpinannya cenderung sebagai “gubernur konten”.

Dedi menegaskan bahwa kritik tersebut merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang sehat dan justru perlu dihargai.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Minggu (4/1/2026), Dedi menyampaikan apresiasi terhadap Pandji yang dinilainya konsisten menyampaikan kritik dengan cara kreatif dan edukatif.

“Bang Pandji, terima kasih. Saya penggemar Anda. Setiap pernyataan Anda menggelitik, korektif, dan edukatif,” ujar Dedi.

Menanggapi pandangan Pandji soal kecenderungan masyarakat Jawa Barat memilih pemimpin berlatar belakang artis, Dedi menilai realitas politik tidak sesederhana itu. Ia menegaskan, popularitas tidak otomatis berujung pada kemenangan dalam kontestasi politik.

“Bang Pandji bilang orang Jawa Barat suka memilih pemimpin dari kalangan artis. Tapi faktanya, Pak Deddy Mizwar dan Pak Dede Yusuf saat maju sebagai calon gubernur justru tidak terpilih,” kata Dedi.

Ia mengingatkan bahwa dirinya pernah mendampingi Deddy Mizwar sebagai calon wakil gubernur, sementara Dede Yusuf maju bersama pasangan lain. Namun, keduanya tetap tidak memenangkan Pilgub Jawa Barat.

Meski demikian, Dedi menolak anggapan bahwa latar belakang artis identik dengan minimnya kapasitas kepemimpinan. Ia justru menilai Dede Yusuf sebagai figur yang memiliki pemahaman kuat terhadap isu pembangunan.

“Walaupun berlatar belakang artis, Pak Dede Yusuf punya pemahaman pembangunan yang sangat baik. Sekarang dua kali menjadi pimpinan komisi di DPR, kerangka berpikir pembangunannya juga kuat,” ungkapnya.

Menanggapi label “Gubernur Youtuber” yang kerap disematkan kepadanya, Dedi memilih tidak memberi penilaian subjektif terhadap dirinya sendiri. Ia menegaskan, kualitas kepemimpinan seharusnya diukur dari hasil kerja nyata, bukan dari aktivitas di media sosial.

“Saya tidak boleh memuji diri sendiri. Baik atau tidaknya saya sebagai pemimpin, silakan dinilai dari kerja nyata,” ujarnya.

Dedi bahkan mengajak Pandji untuk turun langsung ke lapangan dan melihat pembangunan di berbagai daerah di Jawa Barat. Ia menantang agar penilaian terhadap kepemimpinannya dilakukan secara objektif berdasarkan kondisi riil di masyarakat.

“Silakan keliling ke daerah-daerah di Jawa Barat. Lihat saya membangun itu benar atau tidak. Apakah saya hanya gubernur konten atau gubernur kenyataan, kita lihat hasilnya di lapangan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Dedi menekankan pentingnya kritik dan otokritik dalam sistem demokrasi. Ia mengapresiasi kritik yang disampaikan secara terbuka, jujur, dan dikemas secara kreatif.

“Ini negara demokrasi. Setiap orang berhak menyampaikan pikiran dan gagasan, termasuk koreksi secara terbuka, apalagi disampaikan dengan cara yang jenaka dan cerdas,” tambahnya.

Sebelumnya, dalam acara Mens Rea, Pandji Pragiwaksono mengkritik kecenderungan pemilih di Jawa Barat yang dinilainya gemar memilih kepala daerah dari kalangan artis. Ia menyinggung sejumlah figur publik yang pernah memimpin atau maju di Jawa Barat, termasuk Dedi Mulyadi yang disebutnya sebagai “artis YouTube”. (*)

Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID