ONtime.ID — Banyak orang merasa telah menjalani gaya hidup sehat. Pola makan tinggi protein, rajin minum suplemen, hingga mengikuti tren detoks sering dianggap sebagai pilihan terbaik bagi tubuh.
Namun di balik citra “hidup sehat” tersebut, sejumlah kebiasaan justru dapat memberi tekanan berlebih pada ginjal dan meningkatkan risiko kerusakan organ vital ini.
Tanpa disadari, praktik-praktik yang tampak aman bahkan dianjurkan di ruang publik dapat memperparah kondisi ginjal, terutama bagi penderita penyakit ginjal kronis (chronic kidney disease/CKD). Para ahli mengingatkan, kesehatan ginjal sangat bergantung pada keseimbangan, bukan ekstrem.
[irp posts=”33568″ ]
1. Asupan Protein Berlebihan
Mengonsumsi protein dalam jumlah tinggi kerap dikaitkan dengan pembentukan otot dan kebugaran fisik. Namun, konsumsi protein dua hingga tiga kali lipat dari kebutuhan harian—terutama dari protein shake dan suplemen—justru dapat membebani ginjal.
Urolog David Shusterman menegaskan bahwa kelebihan protein tidak mempercepat pertumbuhan otot, melainkan memaksa ginjal bekerja lebih keras menyaring sisa metabolisme. Beban kerja yang meningkat secara terus-menerus berpotensi memicu atau memperburuk penyakit ginjal kronis.
Nefrolog Tim Pflederer menambahkan bahwa jenis protein juga berpengaruh. Protein hewani dinilai lebih berat diproses ginjal, khususnya bagi individu dengan gangguan ginjal. Sebagai langkah pencegahan, asupan protein disarankan lebih seimbang dengan sumber nabati seperti kacang-kacangan, kedelai, dan biji-bijian.
2. Konsumsi Suplemen Tanpa Pengawasan
Maraknya suplemen kesehatan sering menciptakan persepsi bahwa semakin banyak dikonsumsi, semakin baik bagi tubuh. Faktanya, beberapa suplemen dalam dosis tinggi justru berisiko merusak ginjal.
Ahli farmasi HaVy Ngo-Hamilton mengingatkan bahwa vitamin D, misalnya, dapat berinteraksi dengan obat pengikat fosfat tertentu pada pasien CKD dan memicu akumulasi aluminium dalam tubuh. Selain itu, suplemen kalium dan obat herbal yang mengandung kalium tersembunyi dapat menyebabkan penumpukan kalium dalam darah, kondisi yang berbahaya bagi ginjal dan jantung.
Konsultasi medis sebelum mengonsumsi suplemen menjadi langkah penting untuk mencegah risiko tersembunyi.
[irp posts=”33565″ ]
3. Tren Teh Detoks
Teh detoks sering dipromosikan sebagai solusi membersihkan racun dan menurunkan berat badan. Namun, bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut sangat terbatas.
Shusterman justru memperingatkan bahwa teh detoks dapat merugikan ginjal. Kandungan diuretiknya meningkatkan produksi urin, sehingga berisiko menyebabkan dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit. Beberapa bahan herbal seperti licorice root, daun senna, dan St. John’s wort juga dilaporkan berpotensi merusak ginjal jika dikonsumsi berlebihan.
“Ginjal adalah sistem detoks alami tubuh. Dukung fungsinya dengan hidrasi yang cukup dan makanan utuh, bukan tren detoks,” tegas Shusterman.
4. Minum Air Secara Berlebihan
Hidrasi memang penting, tetapi minum air dalam jumlah besar dalam waktu singkat juga berbahaya. Ginjal hanya mampu menyaring sekitar 0,8–1 liter air per jam. Jika asupan melampaui kapasitas tersebut, kadar natrium dalam darah dapat turun drastis.
Kondisi ini dapat menyebabkan pembengkakan sel, termasuk sel otak, yang berpotensi menimbulkan gejala serius hingga mengancam nyawa. Para ahli menyarankan untuk minum sesuai rasa haus dan menjadikan warna urine kuning pucat sebagai indikator hidrasi yang cukup.
5. Penggunaan NSAID Terlalu Sering
Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen, aspirin, dan naproxen kerap menjadi solusi cepat untuk nyeri dan demam. Namun, konsumsi rutin dalam jangka panjang dapat menghambat aliran darah ke ginjal dan menurunkan fungsi filtrasi.
Ahli nyeri Thomas Pontinen menegaskan bahwa penggunaan NSAID secara berulang, bahkan dalam dosis rendah, dapat menurunkan fungsi ginjal dari waktu ke waktu, terutama pada individu dengan faktor risiko seperti dehidrasi atau tekanan darah tinggi.
[irp posts=”33562″ ]
Sebagai alternatif, nyeri ringan sebaiknya ditangani dengan istirahat cukup, peregangan, kompres hangat atau dingin, serta hidrasi yang memadai.
Menjaga Ginjal dengan Bijak
Para ahli sepakat, kunci menjaga kesehatan ginjal bukan pada mengikuti tren kesehatan ekstrem, melainkan menjalani gaya hidup seimbang dan berbasis pengetahuan medis. Apa yang terlihat sehat belum tentu aman, terutama jika dilakukan tanpa pertimbangan jangka panjang.
Ginjal bekerja tanpa henti menjaga keseimbangan tubuh. Menjaganya berarti memahami batas tubuh sendiri—dan tidak memaksanya bekerja lebih keras dari yang seharusnya. (*)










