PADANG, ONtime.ID — Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat, Muhidi, menyatakan apresiasi dan dukungan penuh terhadap peluncuran Program Silek Tradisi Minangkabau yang ditetapkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler wajib bagi siswa SMA, SMK, dan SLB se-Sumatera Barat.
Program tersebut dinilai sebagai langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan budaya sekaligus memperkuat karakter generasi muda.
Muhidi menegaskan, kebijakan menjadikan silek tradisi sebagai ekstrakurikuler wajib tidak hanya berorientasi pada pelestarian warisan budaya Minangkabau, tetapi juga memiliki dampak luas terhadap pembentukan mental, disiplin, dan nasionalisme pelajar.
[irp posts=”33441″ ]
“Latihan silek bukan sekadar seni bela diri, tetapi sarat dengan nilai pendidikan karakter. Di dalamnya ada disiplin, tanggung jawab, pengendalian diri, hingga rasa hormat terhadap sesama,” ujar Muhidi.
Program Silek Tradisi Minangkabau secara resmi diluncurkan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Wakil Gubernur Sumbar, Vasko Ruseimi, pada Sabtu (24/1), bertempat di Lapangan Kantor Gubernur Sumbar.
Menurut Muhidi, dari sisi kesehatan, silek tradisional berkontribusi besar terhadap kebugaran jasmani siswa. Gerakan silek melatih kekuatan otot, kelenturan, keseimbangan, serta daya tahan tubuh, yang penting bagi perkembangan fisik pelajar usia remaja.
Selain itu, proses latihan yang teratur membentuk kebiasaan disiplin. Siswa dibiasakan mematuhi aturan, etika, dan jadwal latihan, sehingga karakter tanggung jawab terbentuk secara konsisten, baik di lingkungan sekolah maupun kehidupan sosial.
Dalam aspek kepribadian, silek tradisional juga mengajarkan kesabaran, kepercayaan diri, dan pengendalian emosi. Nilai-nilai tersebut diyakini mampu menekan perilaku agresif serta membentuk sikap rendah hati di kalangan pelajar.
Sebagai bagian dari identitas budaya bangsa, silek tradisional menjadi sarana efektif menanamkan nilai budaya dan nasionalisme. Melalui latihan, siswa dikenalkan pada adat, filosofi, dan jati diri Minangkabau sebagai bagian dari kekayaan Indonesia.
Muhidi juga menilai, silek tradisional memiliki manfaat akademik tidak langsung. Gerakan yang membutuhkan fokus dan koordinasi dapat meningkatkan konsentrasi belajar. Di sisi lain, kegiatan ini membuka peluang pengembangan prestasi nonakademik melalui ajang seperti O2SN dan POPDA.
[irp posts=”33436″ ]
“Silek mengajarkan bela diri secara beretika, bukan untuk menyerang, tetapi melindungi diri. Di dalamnya tertanam sportivitas, kerja sama, dan rasa persaudaraan,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Sumbar, Vasko Ruseimi, mengungkapkan bahwa Sumatera Barat memiliki sekitar 200 aliran silek tradisional. Namun, seiring perkembangan zaman, jumlah tersebut kini menyusut dan hanya tersisa sekitar 50 aliran yang masih aktif.
Menurut Vasko, peluncuran program ini menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali eksistensi silek tradisional Minangkabau yang mulai tergerus modernisasi.
“Di era digital, kami mendorong siswa memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan silek tradisional. Tampilkan konten positif yang mencerminkan nilai budaya dan manfaat silek Minangkabau,” ujar Vasko.
Ia bahkan mengajak seluruh pihak yang terlibat dalam peluncuran program untuk mengunggah video singkat kegiatan silek sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian budaya daerah.
Di kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumbar, Habibul Fuadi, menjelaskan bahwa pelaksanaan ekstrakurikuler wajib silek tradisi sebenarnya telah dimulai sejak awal tahun ajaran baru Juli 2025. Namun, sebelumnya belum memiliki standar pembelajaran yang seragam.
“Kini telah tersedia modul pembelajaran silek tradisi yang terstandarisasi, sehingga pelaksanaannya bisa berjalan terstruktur dan merata di seluruh SMA, SMK, dan SLB di Sumatera Barat,” jelas Habibul.
Ia menambahkan, ekstrakurikuler silek tradisi diintegrasikan dengan program wajib sekolah lainnya, seperti tahfiz, wirid kolaborasi, dan pramuka, sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter berbasis nilai lokal. (*)
[irp posts=”33433″ ]













