Politik

Festival Maek 2024, Membuka Peradaban Tertua, Menuju Warisan Dunia

592
×

Festival Maek 2024, Membuka Peradaban Tertua, Menuju Warisan Dunia

Sebarkan artikel ini
Peradaban
Ketua DPRD Sumbar, Supardi saat membuka Festival Maek di Nagari Maek, Kabupaten Limapuluh Kota, Rabu (17/7).

LIMAPULUH KOTA, ONtime.ID—Festival Maek 2024 resmi dimulai. Ribuan masyarakat memadati lapangan sepak bola Jorong Koto Gadang, Nagari Maek, Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten Lima Puluh Kota. Festival arkeologi terbesar di Sumatera Barat itu dibuka oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumbar, Supardi, Rabu (17/7).

Setelah 40 tahun lamanya, akhirnya riset dan penelitian tentang Maek bakal dilanjutkan. Festival Maek sendiri bakal dilakukan selama tiga hari, dari Rabu-Sabtu (17-20/7).

Supardi mengatakan, satu setengah tahun lalu ia telah memulai rencana festival ini. Ketika itu hadir pemuka masyarakat Maek dalam sebuah forum diskusi. Tujuannya satu, mewujudkan mimpi, Maek asal mula peradaban dunia. Hal itu untuk menepis rasa pesimis yang telah lama ada pada masyarakat Maek. Sebab, setiap orang yang datang ke sana selalu bicara menhir tapi tak memberi penjelasan apa-apa.

Supardi yang punya satu nafas dengan masyarakat Maek hanya ingin satu hal, mimpi itu dapat terwujud dan Nagari Seribu Menhir bakal dilirik kembali. “Saat ini, semua harapan masyarakat Maek yang telah terkumpul 1,5 tahun yang lalu bakal kita mulai dan wujudkan,” ucapnya, Rabu (17/7).

Perjalanan panjang ini dimulai Supardi bersama Dinas Kebudayaan Sumbar sejak dari mengunjungi UGM, BRIN, hingga UNESCO. “Saya meminta kepada peneliti UGM agar rangka hasil ekskavasi tahun 1985 diproses kembali,” ucapnya.

Itu semua agar Maek jadi warisan budaya dunia, bisa dapat terwujud. “Maek bakal menjadi pariwisata khusus. Lewat Festival Maek, para arkeolog dan peneliti dunia akan membuka penelitian untuk mengungkap tabir dan misteri peradaban tertua,” ujar Supardi.

Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Jefrinal Arifin yang mewakili Gubernur memberikan sambutan soal betapa pentingnya warisan sejarah di Maek. Ia mengatakan, tambo yang menjadi sumber utama dalam adat orang Minang, tidak memberikan angka dan tahun yang pasti. Kapan sebenarnya nenek moyang kita datang dan menetap di pulau perca Sumatera ini.

“Menhir di Maek tak hanya membuat penasaran peneliti, tapi kita juga orang Minangkabau. Apakah ini bakal jadi lembaran baru dari kebenaran narasi sejarah kita orang Minangkabau,” ujarnya.

Di Sumbar sendiri, menhir dan artefak kerangka manusia purba paling banyak ditemukan di Maek. Jefrinal melanjutkan, hingga saat ini kapan masa hidup dari kerangka-kerangka itu belum dapat dipastikan.

“Sampel-sampel itu sudah dibawa ke Australia untuk dilakukan carbon dating. Tapi hasilnya masih belum keluar. Kami harapkan kebenaran itu bakal secepatnya terungkap,” ucap mantan Kepala Kesbangpol Sumbar itu.

Namun dari dugaan saat ini, diperkirakan jasad yang ditemukan di Maek itu berumur 4.000 tahun. Berdekatan dengan kapal Nabi Nuh kira-kira 5.000 tahun lalu. Artinya, sudah sangat lama ada manusia yang hidup di tanah Minang.

Helat ini turut menghadirkan kolaborasi akademisi, budayawan, dan para seniman dari dalam dan luar negeri. Hal ini menjadi peluang kerja sama untuk mempromosikan adat istiadat budaya di Sumbar.

“Harapan kami iven ini bisa dimanfaatkan oleh anak nagari Maek untuk mempertahankan budaya itu semua. Sebab, selama ini orang datang bukan hanya saja karena ada peninggalan purbakala di Nagari Maek. Tapi juga karena kekhasan adat istiadat Maek,” ucapnya.

Peninggalan sejarah di Maek termasuk cagar budaya yang dilindungi undang-undang di Indonesia. Pemprov Sumbar berkomitmen untuk melestarikan seluruh cagar budaya yang ada, khususnya Nagari Maek. Secepatnya ia akan menetapkan Maek sebagai cagar budaya provinsi dan nasional, dan menjadi warisan budaya dunia.

“Semoga dengan diselenggarakannya iven ini jadi pengingat dan motivasi untuk kita semua mengupayakan impian itu terwujud. Sebab, warisan dunia merupakan jalan panjang penelitian berbagai disiplin ilmu dan kerumitan birokrasi. Moga-moga menhir menyusul WTBOS jadi warisan dunia,” ujarnya.

Bupati Limapuluh Kota, Safaruddin yang turut hadir dalam pembukaan juga berjanji bakal melanjutkan festival ini ke depannya.

Sementara Wali Nagari Maek, Efrizal Hendri sembari berseloroh dalam sambutannya turut mengamini atensi itu. “Kami masyarakat Maek siap mengurangi minuman manis. Tapi akan menebar senyuman manis. Nagari Maek siap jadi destinasi wisata arkeologi dunia,” tuturnya.

Direktur Festival Maek, Donny Eros dalam sambutannya menyampaikan bahwa perhelatan ini adalah sebuah pekerjaan yang tidak mudah. Ia bersama para kurator, yakni Zulkarnaini Diran, Aprimas, Eka Maryanti, Zuari Abdullah, dan S. Metron Masdison butuh waktu bertahun-tahun menyiapkannya. Dimulai dari 10 tahun yang lalu hingga sekarang.

Baginya, Lembah Maek ibarat permata tersembunyi yang menyimpan kisah-kisah agung dari peradaban kuno. “Melalui riset yang penuh ketekunan dan semangat, kami berhasil menyibak tabir misteri yang menyelimuti artefak-artefak, struktur-struktur megah, serta jejak-jejak kehidupan yang memberi kita gambaran akan kekayaan masa lampau,” kata dosen Fakultas Ilmu Budaya Unand itu, Rabu (17/7).

Ia juga berterima kasih pada masyarakat Maek yang dengan kehangatannya dengan senang hati bekerja sama. Festival ini turut menghasilkan dua buku dari empat orang seniman. Mereka adalah Iyut Fitra dan Yudilfan Habib yang menulis Maek Memantul Dalam Puisi dan Prosa. Serta Widi Adrianto dan Satria Putra dalam karyanya Maek Cerita Dibalik Sketsa.

Para seniman yang sudah berkontemplasi selama berbulan-bulan dengan alam Maek ini akan mempresentasikan karya-karya mereka dalam sesi diskusi di hari kedua. Mereka bakal membahas berbagai hal terkait karya yang dihasilkan, mulai dari proses hingga siasat dan strategi mereka ketika hendak merespon Maek secara kreatif.

“Kami berharap buku ini bukan sekadar panduan, namun juga menjadi jendela yang membuka cakrawala pengetahuan dan inspirasi bagi kita semua,” ucap Donny.

Ia juga berharap seluruh rangkaian Festival Maek turut mendukung agenda pemajuan kebudayaan, utamanya di Maek.

Festival dibuka oleh seni pertunjukan “Mimetik Sulbi (Hikayat Batu Tegak)”, karya duet dramaturgi S. Metron Masdison dan Zuari Abdullah dengan Andre Junaidi sebagai pengisi musik. Pementasan ini ingin mereplikasi peristiwa paling sublime dalam sejarah Maek, Batu Tegak.

Pertunjukan ini dibawakan oleh sekelompok pemuda yang membopong batu besar serupa menhir. Diiringi seorang janang (narator) yang membawakan prolog berbahasa Minang.

Para pemuda itu kemudian mamaek (memahat) batu tersebut. Dalam pertunjukan ini koreografer Jefriandi Usman (Indonesia), Bianca Sere Pulungan (Jerman), dan Janette Hoe (Australia) berkolaborasi dengan 20 anak nagari Maek. Selama tiga hari, festival ini bakal membedah beragam topik diskusi terkait Maek. (vand)