Olahraga

Final Piala Afrika 2025 Memanas, Senegal Juara di Tengah Kekacauan

128
×

Final Piala Afrika 2025 Memanas, Senegal Juara di Tengah Kekacauan

Sebarkan artikel ini
Senegal
Final Piala Afrika 2025 Memanas, Senegal Juara di Tengah Kekacauan

Final Piala Afrika 2025 berubah menjadi panggung drama dan kontroversi setelah duel Senegal melawan tuan rumah Maroko berakhir ricuh.

Pertandingan puncak yang digelar dengan tensi tinggi itu harus dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu usai skor kacamata bertahan hingga 90 menit. Senegal akhirnya keluar sebagai juara dengan kemenangan tipis 1-0, namun laga tersebut menyisakan polemik serius.

Kekacauan bermula pada masa tambahan waktu babak kedua ketika wasit Jean-Jacques Ndala, melalui intervensi VAR, menghadiahkan penalti kepada Maroko atas pelanggaran terhadap Brahim Díaz. Keputusan tersebut memicu protes keras dari kubu Senegal. Pelatih Pape Thiaw secara mengejutkan menarik timnya keluar dari lapangan, membuat pertandingan tertunda selama sekitar 14 menit.

Aksi tersebut langsung disambut siulan keras dari suporter Maroko. Ketegangan meluas, tidak hanya di lapangan, tetapi juga di tribun. Pemain kedua tim terlibat adu argumen, sementara situasi semakin sulit dikendalikan. Senegal akhirnya kembali ke lapangan setelah Sadio Mane turun langsung ke ruang ganti untuk membujuk rekan-rekannya melanjutkan pertandingan.

Saat laga kembali berjalan, kiper Senegal Edouard Mendy tampil sebagai pahlawan dengan menggagalkan penalti Díaz. Eksekusi panenka pemain Real Madrid itu dengan mudah diamankan, di tengah suasana stadion yang masih panas. Sejumlah suporter Senegal bahkan mencoba menerobos masuk ke lapangan, memaksa aparat keamanan dan polisi antihuru-hara turun tangan.

Kericuhan juga dilaporkan merembet ke ruang pers. Laporan ESPN menyebut terjadi bentrokan antarsesama jurnalis, menandai betapa tegangnya atmosfer final tersebut. Di tribun, kelompok suporter Senegal, Gainde, terlihat memanjat pembatas, melempar benda ke lapangan, hingga merusak papan iklan elektronik. Beberapa di antaranya diamankan petugas keamanan.

Memasuki babak tambahan waktu, Senegal tampil lebih tenang. Baru beberapa menit berjalan, Pape Gueye melepaskan tembakan jarak jauh yang menembus gawang Maroko dan memastikan kemenangan 1-0. Gol tersebut mengantarkan Senegal meraih gelar Piala Afrika kedua dalam lima tahun terakhir setelah sukses pada edisi 2021.

Namun, hasil ini tidak diterima dengan baik oleh kubu Maroko. Pelatih Walid Regragui melontarkan kritik tajam terhadap keputusan Pape Thiaw yang menarik timnya keluar dari lapangan. Menurutnya, tindakan tersebut tidak mencerminkan sikap seorang pemimpin dan telah mencederai citra sepak bola Afrika.

“Saya pikir terlalu banyak waktu terbuang sebelum Brahim menendang penalti. Itu memengaruhi konsentrasinya. Apa yang terjadi hari ini memalukan bagi Afrika,” ujar Walid.

Ia juga membela Díaz atas kegagalannya mengeksekusi penalti. “Situasi itu bukan alasan. Cara menendang penalti adalah tanggung jawab kami sendiri. Sekarang kami harus menerimanya dan melangkah ke depan,” tegasnya.

Bagi Walid, insiden tersebut mencoreng semangat sportivitas.

“Ketika seseorang sudah menjadi juara Afrika, ia bebas berbicara apa pun. Namun pertandingan sempat terhenti lebih dari 10 menit, dan itu bukan contoh yang baik,” katanya.

Final Piala Afrika 2025 pun berakhir dengan mahkota juara untuk Senegal, namun juga meninggalkan catatan kelam berupa kekacauan, kontroversi VAR, dan pertanyaan besar tentang pengelolaan pertandingan bertekanan tinggi di sepak bola Afrika. (*)

Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID