Peristiwa

Gunakan Terumbu Karang, WALHI Soroti Potensi Kerusakan Lingkungan yang Dikerjakan PT Petarangan Utama

517
×

Gunakan Terumbu Karang, WALHI Soroti Potensi Kerusakan Lingkungan yang Dikerjakan PT Petarangan Utama

Sebarkan artikel ini
Karang
Gunakan Terumbu Karang, WALHI Soroti Potensi Kerusakan Lingkungan yang Dikerjakan PT Petarangan Utama
Andre Bustamar

MENTAWAI, ONtime.ID — Proyek pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan Bailey di sepanjang 17,95 kilometer di Kabupaten Kepulauan Mentawai, yang dikerjakan oleh PT. Petarangan Utama dengan nilai kontrak sebesar Rp 53.647.650.000,-, sedang disorot publik.

Setelah terungkap adanya dugaan beberapa penggunaan material yang tidak sesuai dengan standar lingkungan. Dalam pengerjaannya, ditemukan bahwa proyek tersebut diduga menggunakan terumbu karang (Onai) sebagai pengganti agregat (base) dalam konstruksi jalan.

Proyek yang menghubungkan Labuhan Bajau dan Sigapokna di Pulau Siberut tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki akses transportasi antar wilayah, namun isu terkait dampak ekologis yang ditimbulkan menjadi perhatian serius, terutama terkait dengan potensi kerusakan lingkungan di kawasan pesisir dan bawah laut.

Menurut sejumlah sumber, pecahan terumbu karang (Onai) yang digunakan dalam proyek ini berasal dari perairan sekitar kawasan tersebut. Material tersebut dianggap lebih murah dan mudah diperoleh, meskipun penggunaan terumbu karang dalam konstruksi jalan berpotensi menyebabkan kerusakan ekosistem laut, termasuk merusak habitat terumbu karang yang menjadi rumah bagi berbagai spesies laut.

Menanggapi hal ini, Andre Bustamar, Manager Kajian dan Hukum Lingkungan Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) Sumatera Barat, mengungkapkan keprihatinannya. “Kami sangat prihatin dengan penggunaan terumbu karang sebagai material pengerjaan jalan tersebut. Ini tidak hanya melanggar prinsip pembangunan berkelanjutan, tetapi juga berpotensi merusak ekosistem laut yang sudah sangat rentan,” ujar Andre.

“Kami mendesak aparat penegak hukum untuk segera turun tangan dan melakukan investigasi. Perusakan lingkungan seperti ini harus mendapat tindakan tegas, karena akan berdampak panjang bagi masyarakat pesisir yang bergantung pada sumber daya alam laut.”

Lebih lanjut, Andre menyatakan bahwa WALHI akan terus memantau perkembangan proyek ini dan berharap agar aparat penegak hokum serta pihak terkait dapat melakukan evaluasi yang lebih ketat terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan.

Pentingnya Pengawasan dan Pemeliharaan Lingkungan

Meskipun proyek peningkatan infrastruktur seperti jalan dan jembatan dapat mendorong kemajuan ekonomi dan memperbaiki aksesibilitas di daerah terpencil, penting bagi setiap proyek pembangunan untuk memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan. Penggunaan material yang ramah lingkungan dan tidak merusak ekosistem lokal sangat diperlukan untuk menghindari kerugian jangka panjang.

Kepulauan Mentawai, yang terkenal dengan keindahan alam bawah laut dan keanekaragaman hayati lautnya, merupakan wilayah yang rawan terhadap kerusakan ekosistem, termasuk terumbu karang. Oleh karena itu, keberlanjutan pembangunan infrastruktur di daerah ini harus sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan.

Seiring dengan perkembangan situasi, masyarakat berharap agar pemerintah dan aparat penegak hukum segera melakukan audit terhadap proyek tersebut. Dalam beberapa pekan ke depan, diharapkan akan ada langkah konkrit dari pihak berwenang untuk memastikan bahwa proyek ini tidak menimbulkan dampak negatif yang lebih luas bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

Dengan semakin meningkatnya kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan, diharapkan kasus ini dapat menjadi pelajaran bagi seluruh pihak agar lebih berhati-hati dalam melakukan pembangunan di kawasan yang rawan kerusakan ekosistem, khususnya di wilayah pesisir dan laut. (*)