LIMA PULUH KOTA, ONTIME.ID- Permasalahan stunting di Kabupaten Lima Puluh Kota cukup memprihatinkan. Berdasarkan data dari Dinas Sosial Kabupaten Lima Puluh Kota, daerah tersebut berada diurutan 10 dari 19 kabupaten/kota di Sumatera Barat terkait kasus stunting.
Hal ini menjadi topik pembicaraan ketua DPRD Sumbar, Supardi saat membuka kegiatan Pertemuan Pilar – Pilar Sosial Angkatan III di Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Lima Puluh Kota, Selasa (30/5).
Menurut Supardi, filosofi masyarakat Minangkabau itu adalah ketahanan pangan. Orang Minangkabau kalau merantau jarang yang tidak sukses karena para orang tua terdahulu selalu mengajarkan kepada anak-anaknya tentang masalah kemandirian.
“Jadi masalah ketahanan pangan bagi orang Minang itu adalah nomor satu. Tidak ada orang Minang itu yang kelaparan apalagi kurang gizi,” ucap Supardi.
Kemudian, lanjut Supardi, semangat kebersamaan dalam upaya penanganan dan pencegahan stunting inilah yang menjadikan tema dalam pertemuan ini. Perlu adanya kolaborasi dalam penanganan stunting di Sumbar.
“Yang terpenting dalam penanganan stunting ini, kata kuncinya adalah kolaborasi. Harus ada satu kesatuan para stakeholder untuk berkolaborasi mewujudkan penurunan angka stunting di Kabupaten Lima Puluh Kota khususnya Kecamatan Pangkalan,” ujar Supardi.
Disamping itu, lanjut Supardi, masyarakat juga harus aktif memberikan informasi kepada pemerintah dan DPRD, agar bisa mengetahui langkah apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
“Semoga melalui pertemuan pilar-pilar sosial ini dapat menjadi solusi sekaligus langkah awal dalam menekan angka stunting di Kabupaten Lima Puluh Kota,” harap Supardi. (vand)













