Peristiwa

Kontras Proyek Triliunan MBG: Showroom Motor Listrik di Daan Mogot Sepi, Izin Lingkungan Dipertanyakan

290
×

Kontras Proyek Triliunan MBG: Showroom Motor Listrik di Daan Mogot Sepi, Izin Lingkungan Dipertanyakan

Sebarkan artikel ini
MBG
Kontras Proyek Triliunan MBG: Showroom Motor Listrik di Daan Mogot Sepi, Izin Lingkungan Dipertanyakan

JAKARTA, ONtime.ID — Di tengah ambisi besar program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang melibatkan pengadaan puluhan ribu motor listrik bernilai triliunan rupiah, realitas di lapangan justru menghadirkan ironi yang mencolok.

Sebuah lokasi yang disebut sebagai showroom utama Emmo Electric Mobility di kawasan Jalan Daan Mogot, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, tampak jauh dari kesan representatif. Gerbang besi tua setinggi sekitar dua meter berdiri miring, dipenuhi coretan grafiti bergaya bubble writing, seakan menyembunyikan aktivitas besar yang diklaim berlangsung di dalamnya.

Alih-alih menunjukkan geliat operasional, suasana di sekitar bangunan tersebut justru lengang. Fasadnya tertutup dua pohon besar, sementara bangunan beratap seng berwarna perak itu terlihat seperti gudang kosong. Tidak ada lalu-lalang karyawan maupun tanda aktivitas bisnis aktif.

[irp posts=”35436″ ]

Upaya penelusuran di lokasi pada Senin (13/4/2026) selama beberapa jam tidak membuahkan hasil. Tidak satu pun pihak yang keluar untuk memberikan keterangan, meski beberapa kali dipanggil dari luar gerbang. Dari celah pagar, hanya terlihat pintu lapis kedua berwarna kuning-hitam yang masih dipasangi perancah konstruksi—indikasi pekerjaan belum rampung.

Berdasarkan laman resmi perusahaan, lokasi ini memang tercantum sebagai showroom pertama mereka. Namun statusnya masih “coming soon” dan belum melayani transaksi. Kontak yang tersedia pun hanya nomor telepon seluler, tanpa kejelasan kantor operasional tetap.

Kondisi fisik di lapangan memperkuat dugaan bahwa bangunan tersebut lebih berfungsi sebagai gudang atau pusat distribusi, bukan showroom aktif. Seorang petugas keamanan di sekitar lokasi menyebut aktivitas di dalam area sudah berjalan sejak Februari 2026, tetapi belum melibatkan tenaga kerja resmi.

“Belum beroperasi, masih pembangunan. Orang-orang yang datang juga belum karyawan tetap,” ujarnya.

Ia juga mengungkap bahwa ratusan unit motor listrik sempat dipindahkan ke gudang di kawasan Sentul, Bogor, dalam waktu dekat.

[irp posts=”35433″ ]

Penelusuran lebih lanjut mengungkap bahwa lahan seluas 2,6 hektare tersebut merupakan bekas gudang perusahaan air minum yang telah bangkrut, sebelum akhirnya berpindah kepemilikan melalui lelang kepada PT Yasa Artha Trimanunggal perusahaan yang disebut sebagai pemenang tender proyek.

Namun, persoalan tak berhenti pada kondisi fisik. Dari sisi administratif, izin lingkungan di tingkat lokal ternyata belum rampung. Ketua RW setempat menyebut belum ada pengajuan resmi, hanya sebatas komunikasi lisan dari pihak perusahaan.

“Belum ada izin tertulis. Katanya nanti kalau peresmian baru mengundang pihak lingkungan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua RT yang mengaku belum pernah menerima pengajuan formal terkait aktivitas tersebut.

Selain itu, sistem pengamanan di lokasi turut menimbulkan tanda tanya. Warga sekitar mengaku kerap melihat pria berseragam loreng keluar-masuk area, tanpa kejelasan peran maupun identitasnya.

Di sisi lain, aspek harga pengadaan motor listrik juga menjadi sorotan. Dalam sistem e-purchasing pemerintah, harga unit motor tipe tertentu tercatat hampir Rp50 juta. Sementara pihak pemerintah menyebut harga pengadaan berada di kisaran Rp42 juta per unit untuk total lebih dari 21 ribu unit.

Kepala Badan Gizi Nasional menegaskan bahwa proyek ini telah direncanakan sejak awal sebagai bagian dari strategi distribusi makanan bergizi ke wilayah sulit dijangkau kendaraan roda empat.

[irp posts=”35430″ ]

Meski demikian, kondisi showroom yang belum siap dan minimnya kejelasan administratif di tingkat lokal memunculkan pertanyaan serius, apakah percepatan proyek nasional ini telah diimbangi dengan kesiapan infrastruktur dan tata kelola yang memadai?

Kontras antara nilai proyek yang fantastis dan kondisi lapangan yang masih jauh dari kata siap menjadi cerminan tantangan klasik pembangunan—antara ambisi besar di atas kertas dan realitas implementasi di lapangan. (*)

Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID