Peristiwa

Korban Banjir dan Longsor Sumatera Tembus 1.167 Jiwa, Aceh Jadi Wilayah Paling Parah

285
×

Korban Banjir dan Longsor Sumatera Tembus 1.167 Jiwa, Aceh Jadi Wilayah Paling Parah

Sebarkan artikel ini
Korban
Korban Banjir dan Longsor Sumatera Tembus 1.167 Jiwa, Aceh Jadi Wilayah Paling Parah

JAKARTA, ONtime.ID — Korban meninggal akibat rangkaian bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera terus bertambah hingga memasuki pekan kelima pascakejadian.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, total korban jiwa di tiga provinsi terdampak—Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—mencapai 1.167 orang per Ahad, 4 Januari 2026.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sehari sebelumnya. BNPB melaporkan adanya penambahan 10 korban meninggal dari pendataan per 3 Januari 2026. Seluruh tambahan korban jiwa tersebut berasal dari Provinsi Aceh, wilayah yang hingga kini menjadi daerah dengan dampak terparah dari bencana ekologis tersebut.

Aceh tercatat sebagai provinsi dengan korban meninggal terbanyak. Dari total 1.167 korban jiwa di Sumatera, 540 orang di antaranya berasal dari Aceh. Banjir bandang dan longsor dilaporkan melanda 18 kabupaten dan kota di provinsi paling utara Indonesia itu.

Selain korban meninggal, 31 orang masih dinyatakan hilang, sementara sekitar 233 ribu warga terpaksa mengungsi akibat rusaknya rumah dan lingkungan permukiman. Sejumlah wilayah masih sulit dijangkau tim penyelamat karena medan berat dan cuaca yang belum sepenuhnya stabil.

Di Sumatera Utara, BNPB mencatat jumlah korban meninggal mencapai 365 jiwa. Angka tersebut masih berpotensi bertambah karena 60 orang di 18 kabupaten dan kota hingga kini belum ditemukan.

Sementara itu, di Sumatera Barat, jumlah korban meninggal tercatat 262 orang. Selain itu, sekitar 10.800 warga masih bertahan di lokasi pengungsian, dan 74 orang dilaporkan hilang. Proses pencarian di provinsi ini terkendala oleh longsoran susulan serta akses jalan yang terputus.

Dampak bencana Sumatera tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga kerusakan infrastruktur dalam skala besar. BNPB mencatat 178.479 rumah warga mengalami kerusakan dengan tingkat ringan hingga berat.

Selain itu, bencana tersebut merusak 215 fasilitas kesehatan, 3.188 fasilitas pendidikan, dan 803 rumah ibadah. Di sektor transportasi, 34 jembatan dilaporkan terputus, sementara 81 ruas jalan mengalami kerusakan serius sehingga menghambat distribusi logistik dan mobilisasi tim bantuan.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menegaskan bahwa operasi pencarian dan pertolongan tidak dihentikan meski bencana telah berlangsung lebih dari satu bulan.

“Tim gabungan SAR tetap melanjutkan operasi pencarian dengan fokus pada titik-titik yang telah diidentifikasi sebagai lokasi potensial keberadaan jenazah korban,” kata Abdul Muhari.

BNPB juga menyatakan akan terus melakukan pembaruan data seiring dengan berjalannya proses pencarian dan verifikasi di lapangan.

Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah akan segera membangun hunian sementara dan hunian tetap bagi masyarakat terdampak bencana di Sumatera. Presiden menegaskan bahwa anggaran untuk pembangunan tersebut telah disiapkan.

Selain itu, pemerintah berencana membentuk badan atau satuan tugas khusus rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Meski demikian, Presiden memutuskan tidak menetapkan bencana Sumatera sebagai bencana nasional.

Menurut Prabowo, pemerintah pusat masih mampu menangani dampak bencana tersebut. “Ini tiga provinsi dari total 38 provinsi. Jadi situasi terkendali, saya monitor terus,” ujar Presiden.

Meski pemerintah menyatakan kondisi masih dapat dikendalikan, data korban jiwa dan kerusakan yang terus bertambah menunjukkan bahwa bencana Sumatera menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus menguji kesiapsiagaan dan ketahanan lingkungan di wilayah rawan bencana. (*)

Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID