PADANG PARIAMAN, ONtime.ID — Dugaan praktik mafia Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di Sumatera Barat kembali mencuat. Kali ini, sorotan publik tertuju pada SPBU dengan nomor 14.251.588 yang berlokasi di Toboh, Kabupaten Padang Pariaman.
Berdasarkan informasi yang diterima, pada Sabtu (17/5), SPBU tersebut diduga kuat melakukan pengisian BBM jenis solar secara ilegal kepada kendaraan mobil box yang ditengarai sebagai pelaku penimbunan.
Seorang konsumen berinisial “Y” menjadi saksi mata atas aktivitas mencurigakan tersebut. Ia menyatakan bahwa dirinya melihat langsung sebuah mobil box melakukan pengisian solar dalam jumlah besar, yang menurutnya tidak sesuai dengan peruntukan kendaraan biasa.
“Saya lihat sendiri mobil box itu bolak-balik mengisi solar. Ini jelas mencurigakan. Apakah mereka ini bukan bagian dari mafia BBM?” ujar Y kepada media ini.
Praktik seperti ini bukanlah hal baru di Sumbar. Namun, ironisnya, hingga kini belum terlihat adanya tindakan tegas dari aparat penegak hukum maupun lembaga pengawas energi. Dugaan keterlibatan oknum dalam jaringan penimbunan BBM ini pun menguat, seiring dengan lemahnya penindakan hukum di lapangan.
Modus Lama, Jaringan Luas
Pengisian BBM menggunakan kendaraan yang dimodifikasi atau kendaraan yang tidak semestinya mengisi dalam jumlah besar merupakan salah satu modus klasik dalam praktik penimbunan BBM bersubsidi. Solar yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat kecil, nelayan, dan transportasi umum, justru jatuh ke tangan para spekulan.
“Praktik ini sudah berlangsung lama. Mereka menggunakan mobil box, truk, bahkan mobil pribadi yang tangkinya dimodifikasi. Setelah pengisian, solar tersebut dialihkan ke drum atau tangki besar, lalu dijual kembali dengan harga industri,” kata seorang pengamat energi lokal yang enggan disebutkan namanya.
Modus ini tidak hanya merugikan negara, tapi juga masyarakat yang benar-benar membutuhkan BBM bersubsidi. Kelangkaan solar di beberapa daerah di Sumbar dalam beberapa waktu terakhir patut diduga sebagai akibat langsung dari aktivitas mafia BBM ini.
Tudingan terhadap Aparat Penegak Hukum
Masyarakat kini mempertanyakan keseriusan aparat penegak hukum dalam memberantas mafia BBM. Pasalnya, meski banyak laporan dan bukti-bukti mencuat ke publik, namun penindakan nyaris tidak terdengar.
“Ini bukan soal kurangnya informasi. Bukti sudah jelas, ada video, ada saksi mata. Tapi kenapa tidak ada satu pun penangkapan atau penggerebekan? Jangan-jangan ada oknum yang turut bermain,” ujar Ketua LSM Pemerhati Energi Sumbar, Rizal Ramdani.
Ia mendesak agar Kepolisian Daerah Sumatera Barat, termasuk pihak Kepolisian Resort Padang Pariaman, turun langsung melakukan investigasi atas laporan masyarakat tersebut. Menurutnya, SPBU yang terbukti menyalahgunakan distribusi BBM harus segera diberikan sanksi administratif maupun pidana.
Pertamina Diminta Evaluasi SPBU Nakal
Pihak Pertamina selaku pemegang distribusi BBM nasional juga tidak luput dari sorotan. Dalam sistem distribusi BBM bersubsidi, Pertamina memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa penyaluran solar dan bensin subsidi dilakukan secara tepat sasaran. Namun, kasus seperti di SPBU Toboh menunjukkan adanya celah pengawasan.
“Kami minta Pertamina mengevaluasi dan memutus kontrak dengan SPBU yang terbukti bermain mata dengan mafia BBM. Jangan hanya teguran, tapi berikan sanksi tegas,” ujar Rizal.
Ia juga mendorong agar Pertamina bekerja sama dengan pihak independen dalam melakukan pengawasan, mengingat sistem audit internal kerap dinilai tidak efektif dalam mengungkap praktik ilegal ini.
Kesaksian Warga, Bukti Sudah di Depan Mata
Warga sekitar SPBU Toboh mengaku sudah sering melihat aktivitas mencurigakan di lokasi tersebut. Bahkan, menurut mereka, mobil box yang diduga digunakan untuk mengangkut BBM tersebut sering terlihat keluar masuk SPBU pada jam-jam tertentu.
“Kami heran, setiap kali solar langka di kampung, malah terlihat mobil box masuk ke SPBU dan mengisi dengan tenang. Tidak pernah diperiksa aparat,” ungkap seorang warga setempat yang meminta namanya dirahasiakan.
Informasi ini mengindikasikan bahwa praktik penimbunan dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Hal ini memunculkan pertanyaan serius terkait integritas dan efektivitas pengawasan baik dari pihak kepolisian, Pertamina, maupun instansi terkait lainnya.
Desakan Investigasi Independen
Melihat situasi ini, berbagai elemen masyarakat sipil, termasuk aktivis lingkungan dan mahasiswa, mulai bersuara. Mereka menuntut pembentukan tim investigasi independen untuk menyelidiki keterlibatan SPBU Toboh dan jaringan mafia BBM di Sumbar.
“Kita tidak bisa berharap pada aparat jika setiap kali kasus muncul, tidak ada tindak lanjut. Sudah saatnya investigasi dilakukan secara terbuka dan melibatkan pihak ketiga yang independen,”.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus melaporkan kejadian serupa di SPBU lain yang terindikasi melakukan pelanggaran distribusi BBM bersubsidi. Menurutnya, peran serta publik sangat penting dalam membongkar jaringan mafia BBM yang sudah menjalar ke berbagai lini.
Kasus dugaan penimbunan solar di SPBU Toboh seharusnya menjadi peringatan keras bagi semua pihak, terutama aparat penegak hukum dan Pertamina. Jika tidak ada tindakan tegas dan nyata, maka kepercayaan publik terhadap sistem distribusi energi nasional akan terus tergerus. Masyarakat tidak butuh janji, tapi aksi nyata untuk membongkar mafia BBM yang telah lama menghantui Sumatera Barat. (tim)
Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID













