PADANG, ONtime.ID — Mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya dengan pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Fondasi utamanya tetap bertumpu pada kualitas sumber daya manusia yang dibentuk melalui pendidikan.
Karena itu, kepala sekolah dituntut tidak lagi sekadar menjalankan fungsi administratif, tetapi tampil sebagai pemimpin transformasi yang mampu menjawab tantangan perubahan zaman.
Penegasan tersebut disampaikan Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat, Muhidi, saat menjadi narasumber pada Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepala SMA dan SMK se-Sumatera Barat di Kota Padang, Senin (6/7/2026).
Di hadapan para kepala sekolah, Muhidi menekankan bahwa posisi kepala sekolah sangat strategis dalam menentukan arah kemajuan pendidikan. Kepemimpinan yang visioner, adaptif, dan inovatif dinilai menjadi salah satu faktor utama dalam mencetak generasi unggul yang mampu membawa Indonesia menuju cita-cita sebagai negara maju pada tahun 2045.
Menurutnya, dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa sebelumnya. Perkembangan teknologi digital, pesatnya pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence), perubahan karakter peserta didik, hingga kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang menuntut sekolah melakukan transformasi secara menyeluruh.
Dalam kondisi tersebut, kepala sekolah tidak cukup hanya menjadi pengelola administrasi, tetapi harus mampu menjadi pemimpin yang menggerakkan perubahan di lingkungan satuan pendidikan.
“Kepala sekolah harus memiliki visi yang kuat dan mampu menggerakkan seluruh sumber daya yang ada di sekolah. Mereka adalah pemimpin yang menentukan arah perkembangan pendidikan di satuan pendidikan masing-masing,” ujar Muhidi.
Ia menegaskan bahwa lahirnya sumber daya manusia unggul bukanlah hasil yang diperoleh secara instan. Dibutuhkan kepemimpinan yang mampu membangun budaya belajar yang sehat, memperkuat kolaborasi antarguru, serta mendorong peningkatan kompetensi tenaga pendidik agar mampu menghadirkan pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Muhidi menilai sekolah harus menjadi ruang yang mampu mengembangkan seluruh potensi peserta didik secara utuh. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga harus membentuk karakter, integritas, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, serta semangat gotong royong sebagai bekal menghadapi persaingan global.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak mungkin hanya dibebankan kepada sekolah. Dibutuhkan keterlibatan aktif pemerintah, orang tua, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam membangun ekosistem pendidikan yang kuat dan berkelanjutan.
“Kolaborasi menjadi kunci. Sekolah tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan sinergi semua pihak agar proses pendidikan mampu menjawab tantangan masa depan sekaligus memenuhi kebutuhan pembangunan nasional,” katanya.
Muhidi juga mengingatkan bahwa percepatan transformasi digital harus direspons secara positif oleh setiap kepala sekolah. Teknologi, termasuk kecerdasan buatan, harus dimanfaatkan sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat tata kelola sekolah, dan memperluas inovasi pendidikan, bukan sekadar menjadi pelengkap dalam proses belajar mengajar.
Selain itu, ia mendorong setiap sekolah untuk membangun lingkungan belajar yang aman, inklusif, nyaman, dan mampu mendorong tumbuhnya kreativitas peserta didik. Menurutnya, suasana belajar yang kondusif akan melahirkan siswa yang percaya diri, mandiri, adaptif, serta memiliki kesiapan menghadapi perubahan global.
“Kepala sekolah bukan sekadar pemimpin administrasi, tetapi agen perubahan yang harus mampu menginspirasi guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik untuk terus berkembang serta menghasilkan prestasi,” tegasnya.
Melalui Bimbingan Teknis tersebut, Muhidi berharap para kepala SMA dan SMK memperoleh penguatan kompetensi kepemimpinan, mulai dari manajemen sekolah, pengembangan sumber daya manusia, hingga optimalisasi teknologi dalam mendukung proses pembelajaran.
Ia optimistis bahwa penguatan kapasitas kepala sekolah akan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan mutu pendidikan di Sumatera Barat. Dengan kepemimpinan yang adaptif, budaya belajar yang berkualitas, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, sekolah diyakini mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, inovatif, dan memiliki daya saing global.
Bagi Muhidi, keberhasilan mewujudkan Indonesia Emas 2045 bukan hanya ditentukan oleh kebijakan nasional, tetapi juga oleh kualitas kepemimpinan di setiap sekolah. Dari ruang-ruang kelas yang dikelola secara profesional itulah akan lahir generasi yang menjadi penggerak pembangunan dan penentu masa depan bangsa. (*)













