TANAH DATAR, ONtime.ID—Pemerintah pusat memastikan pembangunan sabo dam Gunung Marapi akan dimulai September 2024 depan. Pada saat bersamaan, pemasangan sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) untuk mengantisipasi banjir lahar dingin Gunung Marapi juga dikebut.
Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Tanah Datar, Jon Kennedi menyampaikan, Kabupaten Tanah Datar bakal mendapatkan alokasi 40 sabo dam dari 56 sabo dam yang akan dibangun pemerintah pusat di Sumatera Barat (Sumbar). Sedang sisanya akan dibangun di wilayah Kabupaten Agam.
“Pembangunan sabo dam di Tanah Datar tahun ini, sesuai informasi dari BWS Sumatera V dan Balai Sabo Yogyakarta, direncanakan di tiga aliran sungai. Dengan rincian, di Batang Malana yang berlokasi di Nagari Sungai Jambu, Kecamatan Pariangan sebanyak tiga unit; di Batang Anai, Nagari Singgalang, Kecamatan X Koto dan Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat sebanyak dua unit; serta di Batang Pagu-Pagu, Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto satu unit,” katanya, Senin (15/7).
Ia menjelaskan, sesuai kontrak, pembangunan sabo dam akan dimulai pada September mendatang Saat ini, ucapnya, pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V masih memfinalisasi rencana pembangunan sabo dam tersebut. “Selama 15 hari belakangan pihak BWS Sumatera V telah melakukan pengukuran. Tinggal lagi meng-clear-kan rencana pembangunannya,” kata Jon.
Sebelumnya, pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menganggarkan Rp200 miliar untuk membangun sebanyak delapan unit sabo dam Gunung Marapi tahun ini.
Kepala BWS Sumatera V Padang, M. Dian Al Maruf menyebutkan, pembangunan sabo dam Gunung Marapi akan dilakukan secara kontinyu selama tiga tahun, mulai dari 2024 hingga 2026. Secara keseluruhan, ada sebanyak 56 sabo dam yang akan dibangun.
“Dari 56 sabo dam, 40 di antaranya berada di Tanah Datar karena memang banyak hulu sungai di wilayah ini. Selebihnya berada di Kabupaten Agam. Untuk tahun ini, rencananya akan dibangun 6 sampai 8 sabo dam. Jumlah tepatnya akan disesuaikan dengan hasil investigasi tim di lapangan nanti. Sementara sisanya akan dibangun pada 2025 dan 2026,” katanya.
Ia menyebutkan, pemerintah saat ini telah memiliki anggaran untuk pembangunan sabo dam yang bermanfaat untuk menahan dan mengurangi kecepatan aliran air ataupun lahar yang membawa material, sehingga bisa meminimalisasi risiko bencana banjir bandang.
“Untuk pembangunan sabo dam telah dianggarkan Rp25 miliar rupiah per unitnya. Sehingga untuk 6 sampai 8 sabo dam yang bakal dibangun tahun ini perlu biaya biaya Rp150-200 miliar rupiah,” ujarnya.
Oleh karena itu, pihaknya mengharapkan dukungan pemerintah daerah (pemda) bersama masyarakat untuk terealisasinya pembangunan sabo dam itu. “Kami berharap pemerintah bersama masyarakat mendukung. Terutama dalam hal pembebasan lahan lokasi pembangunan, dan nantinya setelah selesai juga turut memanfaatkan dan merawatnya,” tutur Dian.
Pasang EWS di 13 Titik
Selain pembangunan sabo dam, rencana pemasangan EWS di sejumlah sungai yang berhulu di Gunung Marapi juga terus dikebut. Perwakilan PT Tatonas, Okta mengatakan, berdasarkan hasil rapat koordinasi di Padang pada 3 Juli 2024 lalu, rencana pemasangan sensor tahap I di Kabupaten Tanah Datar akan dilakukan di tiga titik, yaitu Sungai Jambu, Sabo Sungai Jambu, dan Sungai Sigarunggung.
Selain itu, juga akan dipasang alat berupa sirine di 10 titik, yaitu di Bak Air Jorong Sungai Jambu, Masjid Ubudiyah Nagari Parambahan, Masjid Nurul Huda Silabuak, Masjid Al-Ikhlas Nagari Limo Kaum.
“Kemudian di Masjid Ihsan Rambatan, Masjid Baiturrahman Ampalu Gadang, Kantor Wali Nagari Gurun, SDN 18 Baringin, Kantor Wali Nagari Baringin, dan Pondok Pesantren At-Thoirufy,” kata Okta, Senin (15/7).
Lebih lanjut, Okta menjelaskan, di Kabupaten Tanah Datar juga akan dipasang rambu papan informasi dan petunjuk arah banjir bandang di 66 titik. BNPB bersama BPBD Sumbar dan Pemkab Tanah Datar sebelumnya telah menurunkan tim untuk melaksanakan survei pemasangan EWS Gunung Marapi di sejumlah Sungai di Tanah Datar, seperti Batang Lona dan Sungai Sigarunggung.
“Survei ini bertujuan untuk pasang sensor ketinggian air, sirine peringatan untuk antisipasi dampak bencana,” kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Tanah melalui Kasi Pencegahan, Robert Cahneldi. (vand)













