Politik

Penanganan Aksi Tawuran Perlu Evaluasi Total

340
×

Penanganan Aksi Tawuran Perlu Evaluasi Total

Sebarkan artikel ini
Tawuran
Ketua DPRD Sumbar, Supardi.

PADANG, ONTIME.ID—Aksi tawuran yang kian marak di Sumatera Barat (Sumbar), khususnya Kota Padang perlu menjadi perhatian semua pihak, tak terkecuali pemerintah daerah (pemda), mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota. Pemda mesti mengevaluasi total penanganan tawuran di Sumbar.

Ketua DPRD Sumbar, Supardi menyebutkan, kasus tawuran yang terjadi hari ini sudah mencapai klimaks hingga meresahkan masyarakat. “Tawuran ini sudah pada klimaks yang meresahkan masyarakat. Jika kita lihat video tidak ada bedanya aksi tawuran di Padang dengan di kota-kota besar seperti Jakarta,” ujar Supardi, kemarin.

Dalam hal itu, menurut Supardi, pemda harus melakukan evaluasi total. Jika selama ini penanganan kasus tawuran hanya dilakukan oleh pihak kepolisian, maka ke depan pemda juga harus terlibat dalam upaya mencegah tawuran sedini mungkin.

“Saya melihat bahwa salah satu yang harus kita evaluasi itu adalah anak-anak kita akan punya masa depan, hobi, dan minat bakat, maka harus disalurkan. Ketika minat bakat mereka itu tidak tersalurkan di sekolah dan tidak tersalurkan juga di rumah pasti mereka akan melampiaskannya ke jalanan,” katanya.

Supardi juga menilai, ketika anak-anak mulai remaja tersebut tidak merasa nyaman di rumah bahkan terbebani di sekolah maka secara naluriah mereka (remaja) pasti mencari tempat yang menurut mereka menyenangkan seperti cafe, hiburan malam, dan jalanan.

Evaluasi yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan evaluasi keberadaan siswa itu di sekolah dan lingkungan keluarganya. “Kita harus menyediakan lingkungan yang nyaman bagi mereka dan itu harus ada konselingnya,” tuturnya.

Hal senada sebelumnya juga disampaikan Sosiolog Universitas Negeri Padang (UNP), Erianjoni menilai semakin maraknya tawuran yang terjadi dikarenakan minimnya sarana untuk menyalurkan energi positif di kalangan remaja. Saat energi positif tersebut tidak bisa disalurkan, tidak mendapat pengakuan atau bahkan tidak dihargai, energi yang tadinya positif berubah menjadi energi negatif dan dilampiaskan melalui tawuran antar remaja.

“Khususnya di Kota Padang, saya melihat kurangnya kegiatan yang menjadi peluang untuk para remaja mengekspresikan dirinya. Masa remaja adalah masa di mana anak-anak harusnya mencari jati diri, menyalurkan bakat, berekspresi, menunjukkan identitas, butuh pengakuan dan seluruhnya. Hal tersebut merupakan hal yang positif,” katanya kepada ONtime.ID, Selasa (9/7).

Ia menyebut, keterbatasan ruang publik menjadi pemicu meningkatnya aksi tawuran. Ruang publik yang harusnya bisa digunakan untuk menyalurkan energi positif dibatasi, sehingga para remaja memilih untuk melampiaskannya melalui tawuran.

“Ruang publik itu ada, tapi terbatas. Katakanlah para remaja itu memiliki ruang menyalurkan bakat olahraga seperti futsal, tapi harus bayar lapangan. Begitu juga dengan olahraga yang lain, harus bayar dulu,” ujarnya.

Keterbatasan ruang publik inilah yang menurutnya menjadi salah satu pemicu penimbunan emosi dalam diri remaja yang sering terlibat tawuran. Emosi yang menumpuk akan membuat seseorang ingin meluapkannya sekalipun dengan cara yang negatif.

Selain keterbatasan ruang publik, ia juga melihat tawuran sebagai tempat pelarian saat mereka tidak dipedulikan dan tidak diakui di lingkungan keluarga. Remaja dengan emosi yang labil juga membutuhkan pengakuan akan keberadaannya, baik di luar maupun di dalam rumah.

“Saat orang tua tidak peduli dengan anaknya, kemudian si anak merasa tidak berguna dan jenuh, mereka kemudian dipertemukan dengan kelompok dengan permasalahan yang cenderung sama. Mereka akan mudah dikompori dan diajak untuk menyalurkan energi tersebut dalam tawuran,” ucapnya.

 

Tindak Puluhan Remaja

Diberitakan sebelumnya, Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Dwi Sulistyawan mengungkapkan bahwa aksi tawuran antar geng petarung di Kota Padang sudah sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan pemetaan polisi, di Kota Padang ada lebih dari 20 geng remaja petarung yang kerap kali terlibat aksi saling serang.

“Mereka menggunakan nama geng bermacam-macam, beranggotakan antara 10 hingga 30 orang. Dan ada satu dua geng yang bahkan punya anggota sampai 70 hingga 80 orang. Semuanya tersebar di hampir seluruh kecamatan di Kota Padang,” katanya, kemarin.

Geng remaja petarung ini aktif bersaing satu sama lain. Mereka saling berkompetisi untuk dianggap sebagai yang paling hebat. Bahkan mereka menjadikan aksi tawuran dan pamer senjata tajam sebagai konten di media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Facebook.

Ia menyebut, sepanjang tahun 2023 sampai 2024, Satreskrim Polresta Padang telah menindak dan membina puluhan orang dewasa dan anak-anak yang terlibat aksi tawuran. Beberapa di antaranya dikenai sanksi hukum karena kedapatan membawa senjata tajam.

Pada 2023 lalu, Polresta Padang berhasil menangkap dan menindak 13 orang pelaku tawuran. Mereka terdiri dari enam orang dewasa dan tujuh anak-anak. Sementara sampai dengan bulan Juli 2024 ini, jumlah pelaku tawuran yang telah ditindak sebanyak lima orang, terdiri dari tiga orang dewasa dan dua anak-anak.

“Sedangkan untuk pembinaannya, pada tahun 2023, kami telah membina sebanyak 39 orang, yang terdiri dari delapan orang dewasa serta 31 anak-anak. Kemudian, pada tahun 2024 kami membina 28 orang yang terdiri dari empat orang dewasa dan 24 orang anak-anak,” ujarnya. (vand)