Ekonomi

PT ALKO Sumatra Kopi Dorong Transparansi Rantai Pasok demi Perkuat Posisi Petani

482
×

PT ALKO Sumatra Kopi Dorong Transparansi Rantai Pasok demi Perkuat Posisi Petani

Sebarkan artikel ini
Kopi
PT ALKO Sumatra Kopi Dorong Transparansi Rantai Pasok demi Perkuat Posisi Petani

PADANG, ONtime.ID — PT ALKO Sumatra Kopi mendorong transparansi rantai pasok kopi sebagai strategi memperkuat kesejahteraan petani sekaligus meningkatkan daya saing kopi Sumatera Barat di pasar global. Selama ini, petani dinilai masih berada pada posisi lemah karena minim akses terhadap informasi distribusi, struktur biaya, hingga mekanisme harga pasar.

Hal tersebut disampaikan CEO PT ALKO Sumatra Kopi, Suharyono, dalam kegiatan “Ngopi Bareng Media” di Pangeran Beach Hotel, Padang, Kamis (30/4/2026).

Menurut Suharyono, ketimpangan informasi membuat petani kerap menjual hasil panennya dengan harga rendah tanpa memahami besarnya nilai ekonomi produk kopi di tingkat hilir.

“Dalam rantai distribusi kopi terdapat banyak komponen biaya, termasuk logistik yang nilainya bisa sangat besar. Ketika informasi ini terbuka, petani akan memahami bahwa produk yang mereka hasilkan memiliki nilai jual jauh lebih tinggi,” ujarnya.

[irp posts=”35822″ ]

Dalam kesempatan itu, Suharyono didampingi Direktur PT ALKO Sumatra Kopi Pebriansyah dan Pembina PT ALKO Sumatra Kopi Ridwan Tulus.

Ia menegaskan, keterbukaan informasi menjadi fondasi penting dalam membangun sistem perdagangan kopi yang lebih adil. Dengan memahami rantai nilai secara utuh, petani tidak lagi sekadar menjadi pemasok bahan mentah, melainkan bagian dari ekosistem bisnis yang memiliki posisi tawar lebih kuat.

Industri Kopi Dinilai Lebih Terbuka

Direktur PT ALKO Sumatra Kopi, Pebriansyah, menjelaskan bahwa industri kopi memiliki karakteristik berbeda dibanding sejumlah komoditas perkebunan lain seperti sawit atau kakao.

Menurutnya, rantai industri kopi relatif lebih pendek sehingga peluang hilirisasi di tingkat petani lebih terbuka.

“Dari green bean, kopi bisa langsung di-roasting hingga menjadi produk siap konsumsi, bahkan dalam skala kecil. Ini membuat pasar kopi lebih fleksibel dan tidak terlalu bergantung pada industri besar,” katanya.

[irp posts=”35818″ ]

Pebriansyah menambahkan, harga kopi dunia saat ini juga dapat dipantau secara real-time, sehingga petani memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan pendapatan melalui pengolahan produk dan penguatan merek.

“Yang paling penting adalah value atau nilai tambah. Jika petani tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga mengolah produknya, maka nilai ekonominya akan meningkat,” ujarnya.

Koperasi Jadi Penguat Ekonomi Petani

Untuk menjawab tantangan ketidakpastian pasar, ALKO mengembangkan model korporasi berbasis koperasi yang menempatkan petani sebagai bagian penting dalam rantai bisnis.

Dalam model tersebut, koperasi tidak hanya berfungsi sebagai off-taker hasil panen, tetapi juga menjadi motor penguatan hilirisasi di tingkat petani.

Perjalanan pengembangan model bisnis ALKO dimulai sejak 2017 dan terus diperkuat melalui pendekatan profesional berbasis kesejahteraan anggota koperasi.

Dukungan awal datang dari World Wide Fund for Nature (WWF) yang membantu pengembangan sistem di tahap awal. Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah penerapan teknologi blockchain pada 2019 untuk transparansi rantai pasok kopi, yang disebut sebagai yang pertama di Asia untuk sektor tersebut.

Teknologi itu diperkenalkan melalui kerja sama dengan mitra asal Jepang, Sasuke Morasaki. Sistem tersebut memungkinkan keterlacakan produk mulai dari petani hingga pasar global.

[irp posts=”35814″ ]

Melalui pendekatan itu, produk kopi ALKO berhasil menembus pasar internasional dan masuk dalam jaringan perusahaan kopi global, termasuk Starbucks.

Ekspor ke Oman Lewat Jalur Udara

Sementara itu, Pembina PT ALKO Sumatra Kopi, Ridwan Tulus, menilai langkah ekspor yang dilakukan perusahaan menjadi terobosan penting dalam industri kopi nasional.

Ia menyoroti keputusan ALKO mengirim 10 ton kopi ke Oman melalui jalur udara sebagai strategi yang tidak lazim, namun dinilai mampu menjawab kebutuhan pasar Timur Tengah yang membutuhkan pasokan cepat.

“Langkah ini menjadi catatan penting karena biaya logistik udara jauh lebih tinggi dibanding nilai produknya. Namun strategi tersebut menunjukkan keseriusan dalam memenuhi permintaan pasar global,” ujar Ridwan.

Fokus Regenerasi Petani Milenial

Selain pengembangan ekspor, ALKO juga fokus pada regenerasi petani muda melalui pendampingan di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Agam.

Perusahaan mendorong digitalisasi sektor pertanian agar generasi muda tertarik masuk ke industri kopi yang selama ini identik dengan sektor tradisional.

[irp posts=”35810″ ]

Di sisi lain, ALKO juga menargetkan penguatan pembiayaan mandiri berbasis koperasi agar petani tidak terus bergantung pada modal eksternal.

Secara historis, kopi Sumatera Barat memang memiliki jejak panjang di pasar internasional. Sejak awal abad ke-20, kopi dari wilayah ini telah dikenal hingga Eropa, termasuk Norwegia.

Saat ini, total produksi kopi yang terhimpun dalam jaringan koperasi mencapai sekitar 13 ribu ton per tahun dengan jumlah anggota sekitar 41 ribu petani. Namun, serapan langsung oleh ALKO di Sumatera Barat masih berada di bawah 100 ton per tahun.

Dengan tren konsumsi kopi dunia yang terus meningkat, ALKO melihat peluang besar untuk memperluas pasar ekspor sekaligus memperkuat posisi petani dalam rantai nilai kopi global.

“Teknologi dan ekosistem sebenarnya sudah tersedia. Tantangan terbesar sekarang adalah bagaimana petani memahami nilai produknya dan mampu mengambil peran lebih kuat di pasar,” tutup Suharyono. (*)

Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID