BANDUNG, ONtime.ID — Seorang relawan bernama Frederick Sinaga (30) menjadi saksi langsung penemuan dua jenazah korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Kedua korban, seorang perempuan dan seorang anak, ditemukan tertimbun material longsoran pada Selasa (27/1/2026).
Frederick menuturkan, jasad kedua korban ditemukan dalam kondisi berdekatan di balik lumpur, dengan posisi tubuh setengah meringkuk. Temuan tersebut langsung memicu reaksi cepat dari relawan dan petugas di lokasi.
[irp posts=”33663″ ]
“Satu perempuan dan satu anak-anak. Posisi seperti orang tidur, tapi kakinya agak menekuk,” kata Frederick saat ditemui di area longsor, Rabu (28/1/2026) siang.
Begitu jenazah terlihat, Frederick bersama puluhan relawan lain segera membentuk formasi evakuasi secara terorganisir. Proses pengangkatan dilakukan perlahan untuk memastikan keselamatan petugas, mengingat kondisi tanah yang masih labil. Jenazah kemudian dimasukkan ke dalam kantung jenazah dan dievakuasi secara estafet menuju ambulans.
Evakuasi berjalan relatif lancar. Kedua kantung jenazah dibawa ke Posko Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Frederick memastikan kondisi jenazah masih utuh saat ditemukan. “Utuh, pakai dua kantung jenazah,” ujarnya.
[irp posts=”33660″ ]
Relawan asal Semarang, Jawa Tengah, itu tergabung dalam Komunitas Relawan Independen. Sejak bergabung dalam operasi pencarian pada Senin (26/1/2026), Frederick telah terlibat langsung dalam evakuasi tiga jenazah korban longsor di kawasan tersebut.
Di sisi lain, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mengingatkan potensi bahaya longsor susulan yang masih mengancam wilayah Pasirlangu. Curah hujan dengan intensitas ringan hingga lebat dilaporkan memicu genangan air di mahkota longsor Gunung Burangrang, yang berisiko menyebabkan runtuhan lanjutan.
“Yang kami khawatirkan, hujan ringan sampai lebat menyebabkan genangan air di mahkota longsor. Ini bisa memicu longsor susulan,” kata Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, di Posko Basarnas Pasirlangu, Rabu (28/1/2026).
Ade menjelaskan, kontur tanah di titik puncak longsoran saat ini berada dalam kondisi sangat tidak stabil, terutama karena terus diguyur hujan sejak pagi. Tingginya risiko tersebut membuat tim SAR gabungan terpaksa menghentikan sementara pencarian korban di sejumlah titik rawan.
[irp posts=”33657″ ]
Keputusan tersebut diambil berdasarkan asesmen lapangan yang menunjukkan stabilitas mahkota longsor semakin memburuk, sehingga keselamatan personel menjadi pertimbangan utama dalam operasi pencarian. (*)













