PADANG PARIAMAN, ONTIME.ID—Jembatan Kayu Gadang yang menghubungkan Lubuk Alung dan Sikabu, Padang Pariaman kembali ambruk, Minggu (7/5). Padahal jembatan yang menghabiskan anggaran Rp25 miliar itu baru dua tahun rampung dibangun.
Ambruknya jembatan ini membuat akses masyarakat di kawasan tersebut menjadi terganggu, karena jembatan itu adalah jalan terbaik untuk menuju pusat perekonomian di Pasar Lubuk Alung. Akibatnya masyarakat yang ingin ke Pasar Lubuk Alung mesti memutar untuk mencari jalan alternatif.
Jalan itu, selain jarak tempuh yang lebih jauh, kondisinya juga tidak sebagus jalan utama jembatan yang ambruk tersebut. Tentu jarak tempuh yang lebih jauh sangat berdampak pada perekonomian masyarakat, termasuk bertambahnya biaya atau ongkos yang harus dikeluarkan oleh masyarakat.
Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Padang Pariaman, Budi Mulya mengatakan, ambruknya jembatan itu berawal dari hujan deras yang melanda wilayah Padang Pariaman semenjak Sabtu (6/5) dan Minggu (7/5), sehingga membuat debit air di sungai tersebut naik.
“Debit air yang tinggi disebabkan hujan mengakibatkan tiang penyangga jembatan tergerus,” kata Budi, Senin (8/5).
Ia menyampaikan, ambruknya jembatan yang terjadi pada Minggu (7/5) malam itu merupakan puncaknya, di mana tiang jembatan itu sudah mulai tergerus semenjak Januari 2023 lalu. Saat itu Padang Pariaman juga diterjang hujan deras.
“Pada Januari itu, tiang jembatan juga tergerus tapi tidak parah. Tapi debit air yang meningkat saat itu membuat tebing pengaman di sekitar sungai rusak,” katanya.
Lebih lanjut, Budi menyampaikan, jembatan Lubuk Alung ini menghubungkan dua nagari, yaitu sebagian nagari di Kecamatan Lubuk Alung dan Nagari Sikabu.
Total ada 500 lebih Kepala Keluarga (KK) yang terdampak kejadian ini. Kondisi terkini jembatan, tidak bisa sama sekali dilalui oleh kendaraan roda dua, roda empat, hingga pejalan kaki.
“Hanya saja masih ada dua jalan alternatif yang bisa digunakan masyarakat. Jalan alternatif itu, kondisinya juga sudah bagus sehingga tidak terlalu berdampak pada masyarakat,” katanya.
Diketahui Jembatan Kayu Gadang di Sikabu ini dibangun dengan sistem beton prategang, yang pengerjaannya dimulai April 2020 dengan panjang 100 meter dan lebar tujuh meter oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Jembatan ini merupakan akses utama menuju Stadion Utama Sumbar. Pembangunannya menggunakan dana hibah dari BNPB senilai Rp25 miliar. Pembangunan jembatan ini dilakukan karena sebelumnya juga roboh diakibatkan banjir juga. Artinya, jembatan dini sudah dua kali putus. (vand)













