PADANG, ONtime.ID- Ungkap misteri peradaban Maek untuk mendukung sektor pariwisata Sumbar, Festival Maek siap digelar pada pada 17-20 Juli mendatang dengan didanai oleh pokir Ketua DPRD Sumbar, Supardi.
Dikatakan Supardi, mengungkap misteri besar Maek melalui diadakannya Festival Maek adalah suatu mimpi besar yang tertunda baginya. Ia sudah merencanakan ini sejak sejak tahun 2010 lalu.
Mewujudkan mimpi tersebut berbagai kegiatan pembenahan infrastruktur sudah dilakukan seperti perbaikan menhir, pagar, dan fasilitas-faslitas yang ada di Maek. Dengan harapan situs Maek bisa menjadi kajian tersendiri bagi pakar, terutama oleh Arkaelog.
Setelah melalui rentang waktu yang cukup panjang, Festival Maek yang menjadi impian Supardi sejak lama akhirnya bisa dilaksanakan pada tahun 2024 sekarang, yang mana iven ini nantinya akan dihadiri oleh arkeolog-arkeolog tingkat dunia.
“Banyak misteri yang bisa kita ungkap di Situs Maek, ini adalah tentang peradaban. Saat dilakukan penelitian secara mendalam, bisa jadi nantinya tambo atau cerita peradaban yang selama telah ada akan bergeser ke Maek” ujar Supardi saat konferensi pers Sosialisasi Festival Maek, Selasa (9/7) di Ruang Khusus 1 DPRD Sumbar.
Supardi menyebut, berdasarkan beberapa penelitian,diperkirakan ada peradaban besar di Maek yang telah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi.
Hal ini bisa diketahui dengan ditemukannya ribuan menhir di Maek, serta adanya temuan tengkorak yang diperkirakan paling muda berusia 4000 tahun sebelum masehi (SM).
Sebenarnya, lanjut Supardi, cerita Maek sudah sangat lama diapresiasi pihak luar, meski bagi pemerintah Indonesia jadi kurang perhatian. UNESCO saja melihat Situs Maek sangat menarik untuk diungkap.
“Ini tentu harus kita folow up sebagai upaya menjaga warisan budaya, dan untuk mendukung sektor pariwisata kita di Sumbar,” ujarnya.
Ia juga mengatakan, dari pertemuan yang telah dilakukan dengan BRIN, ternyata pada 2005 sudah pernah dilakukan eskavasi di Maek dan Guguak, Lima Puluh Kota. Ketika itu ditemukan 3 tengkorak yang ternyata dari penelitian sudah ada sejak abad pertama sebelum Masehi. Makam yang ada di Guguak, Lima Puluh Kota itu menghadap ke kiblat dan punya liang lahat
Supardi meyakini, jika misteri Maek diungkap, ke depan situs ini tidak hanya bisa dijadikan sebagai daerah tujuan pariwisata khusus. Namun banyak informasi yang bisa digali untuk meletakkan kembali pondasi-pondasi sejarah, dan akan menarik para arkeologi dunia untuk mengadakan penelitian lebih lanjut di kawasan tersebut.
“Inilah yang harus dikejar ada peradaban besar di Maek. Ke depan kita ingin menjadikan Maek sebagai andalan dari sisi pariwisata. Sebab, jika kita hanya mengandalkan keindahan alam, dunia lain banyak yang alamnya lebih indah, tertata dan lebih menarik. Jika Sumbar ingin bangkit dari sisi pariwisata, terlebih dahulu kita harus membangkitkan budaya, dan ikon Maek merupakan pintu masuk bagi kita untuk memperkenalkan Sumatera Barat kepada dunia,” ucapnya.
Politisi Gerindra ini berharap, ke depan meskipun Festival Maek telah selesai dilaksanakan, Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar bisa terus mem folow up agar situs Maek bisa dikenal secara luas, menjadi destinasi khusus pariwisata, dan pada akhirnya bisa mendatangkan pemasukan untuk Sumatera Barat.
Direktur Festival Maek, Dony Eros mengatakan, sejumlah arkeolog dunia telah menyatakan kesediaan untuk hadir di Festival Maek. Para Arkaelog itu diantaranya berasal dari Mesir, Jepang, Jerman, Jepang, Australia, dan dari India.
Kemudian juga akan ada dari negara tetangga, yaitunya dari Malaysia, Singapura, Timur Leste dan beberapa negara yang lainnya.
“Nantinya juga akan ada diskusi internasional dengan berbagai topik dan pembicara dari Jepang, Mesir, BRIN, Dirjen Kebudayaan, dan pembicara Indonesia. Kemudian juga pertunjukan workshop anak nagari Maek dengan pelatih internasional,” paparnya.
Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, Jefrinal Arifin menyampaikan, kegiatan ini akan dilaksanakan dalam tiga bagian, yakni pra event/festival, festival dan pascafestival.
Pra festival terdiri dari beberapa kegiatan, yakni, workshop yang dilaksanakan pada 8-10 Mei 2024 di Nagari Maek . Kemudian Residensi 11-30 Juni 2024 di Nagari Maek, Pameran pada 14-16 Juli 2024 di Gedung Gambir Kota Payakumbuh.
Kemudian pelaksanaan diskusi, 14-16 Juli 2024 di Aula Kantor Wali Kota dan Agamjua Art and Cafe Culture. “Untuk festival dilaksanakan pada 17-20 Juli di Nagari Maek, 50 Kota (Pertunjukan dan Diskusi). Pascafestival 24 Agustus 2024 di Agamjua Art and Cafe Culture,” tukasnya. (vand)













