JAKARTA, ONtime.ID — Nama Indri Wahyuni mendadak menjadi sorotan publik setelah beredarnya surat permintaan maaf serta tangkapan layar unggahan story WhatsApp yang diduga miliknya terkait polemik penilaian final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat.
Kontroversi tersebut memicu perdebatan luas di media sosial setelah sejumlah akun mengunggah dokumen dan pernyataan yang dikaitkan dengan sosok juri lomba tersebut.
Dalam surat yang viral di berbagai platform media sosial, terdapat pernyataan yang menyebut adanya kesalahpahaman dalam proses pengambilan keputusan dewan juri pada babak final LCC Empat Pilar MPR RI Kalbar.
“Saya selaku juri memang berpihak bahwa adik pada grup C memiliki pendapat bukan BPD, di mana pernyataan masih simpang siur. Jikalau memang ada pertimbangan, akan dirapatkan kembali,” demikian isi surat yang beredar.
[irp posts=”36126″ ]
Surat itu juga memuat permintaan maaf kepada masyarakat dan peserta lomba atas kegaduhan yang muncul akibat polemik tersebut.
“Sebelumnya mohon maaf kepada masyarakat, adik-adik, dan lain sebagainya. Sebelumnya saya selaku bagian Sekretariat Badan Sosialisasi memohon maaf sebesar-besarnya kepada pihak yang terlibat,” tulis surat tersebut.
Namun hingga kini, belum ada keterangan resmi yang memastikan keaslian surat tersebut maupun apakah benar ditulis langsung oleh Indri Wahyuni. Status dokumen itu masih menjadi perdebatan di kalangan netizen.
Tak hanya surat permintaan maaf, publik juga dihebohkan dengan beredarnya tangkapan layar story WhatsApp dari akun bernama “Bu Indri MPR” yang diduga merupakan milik Indri Wahyuni.
Dalam unggahan itu, akun tersebut menyinggung polemik penilaian lomba dan membela sekolah yang dinyatakan sebagai pemenang.
[irp posts=”36122″ ]
“They deserve the win and the explanation why they are still the winner of the game. Focusing on one school and neglecting justice for other is a part of the biggest ignorance that one could do,” tulis akun tersebut.
Unggahan lainnya menyebut adanya anggapan bahwa jawaban peserta dianggap “sapujagad”, namun tetap dinilai benar oleh dewan juri.
“Jawaban sapujagad tapi ga ada yang mau buka ini. Seolah-olah jawaban tersebut benar. Sekolah yg menang dinilai tidak pantas menang. Padahal hasil akhir tetap sekolah tsb yg menang,” lanjut unggahan itu.
Dalam bagian lain, akun tersebut juga menyinggung latar belakang sekolah pemenang yang disebut berasal dari wilayah terpencil dan bekas daerah konflik tahun 1999.
“Cuma karena sekolah tersebut tidak terkenal lalu tdk pantas dibanggakan? itu sekolah jauh, terpencil dan bekas wilayah konflik tahun 1999,” tulisnya lagi.
Pernyataan yang paling menyita perhatian publik adalah kalimat bernada satire terkait endorse dan LHKPN.
“Terakhir, mau open endorse ah, biar makin kaya. Supaya LHKPN gw yg tersebar makin bikin shock banyak orang,” demikian isi unggahan tersebut.
[irp posts=”36119″ ]
Story itu juga disertai sindiran terhadap pihak yang dinilai menghujat dirinya di media sosial.
“Hayooo yg iri makin panas, ngeledekin gw ga akan bikin gw jatuh. At the end, u will always have me kata misua,” lanjut tulisan itu.
Tangkapan layar tersebut pertama kali ramai diperbincangkan setelah diunggah akun Instagram “@kementrianbakuhantam” dan kemudian menyebar luas di berbagai platform media sosial.
Meski polemik terus bergulir dan menjadi perhatian nasional, hingga saat ini belum ada klarifikasi resmi dari Indri Wahyuni terkait keaslian surat maupun story WhatsApp yang beredar.
Belum adanya penjelasan terbuka membuat publik semakin penasaran terhadap sosok Indri Wahyuni yang kini menjadi pusat perhatian dalam kontroversi LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (*)













