Politik

Wujudkan Nagari Seribu Menhir Menjadi Pariwisata Dunia

356
×

Wujudkan Nagari Seribu Menhir Menjadi Pariwisata Dunia

Sebarkan artikel ini
Pariwisata
Ketua DPRD Sumbar, Supardi

LIMA PULUH KOTA, ONTIME.ID- Masyarakat Kenagarian Maek Kecamatan Bukik Barisan, Kabupaten Lima Puluh Kota mengharapkan objek wisata gugusan batu menhir di situs Bawah Parit bisa menjadi destinasi budaya internasional.

Hal ini disampaikan oleh Wali Nagari Maek, Efrizal Hendri saat pembukaan focus grup discussion (FGD) Diskusi Kelompok Terpumpun Menggali Potensi Budaya Maek, Kecamatan Bukik Barisan Kabupaten Lima Puluh Kota di Kenagarian Maek, yang dilaksanakan Kamis-Jumat (20-21/7) di salah satu tempat pertemuan di daerah itu.

“Kita berharap semua pihak, baik itu pemerintah kabupaten, provinsi hingga pusat memberikan perhatian akan potensi ini, mewujudkan cita-cita masyarakat Maek, agar gugusan batu menhir di Situs Bawah Parit yang merupakan peninggalan pra sejarah menjadi destinasi internasional,” katanya.

Efrizal Hendri menambahkan, para peneliti yang terdiri dari akademisi dan unsur lainnya telah datang untuk meneliti. Diharapkan ada lebih banyak lagi akademisi yang datan, sehingga bisa digali lagi makna apa saja terkandung dalam menhir yang ada di daerah tersebut.

Ia menuturkan, infrastruktur yang layak juga menjadi kebutuhan untuk mempermudah akses wisatawan menuju objek wisata bersejarah tersebut, dan mengangkut hasil perkebunan masyarakat. Kondisi sekarang beberapa ruas jalan mengalami kerusakan. Ada yang hampir tertimbun meterial longsor, ada juga yang berlobang cukup dalam.

Situs gugusan batu menhir berada di perbukitan di pedalaman Kabupaten Lima Puluh Kota. Lokasinya 45 kilometer dari pusat Kota Payakumbuh, untuk menuju kesana masyarakat harus menempuh jalan yang banyak tikungan dengan hamparan pemandangan persawahan dan hutan-hutan.

“ Jadi ketika akses dan infrastrukturnya bagus wisatawan akan nyaman menuju lokasi,” katanya.

Lebih lanjut ia menyampaikan, dengan kondisi sekarang, mayoritas wisatawan yang mengunjungi situs prasejarah seribu Menhir yaitu kalangan siswa dan mahasiswa. Mereka berasal dari berbagai universitas yang ada di Indonesia dan sekolah-sekolah yang ada di Sumbar.

“Masyarakat umum banyak juga yang datang namun tidak sesignifkan kalangan pelajar,” katanya.

Ia menambahkan, situs seribu menhir merupakan yang terbesar di nusantara, bahkan di dunia. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumbar mencatat ada 374 menhir dan satu dakon di situs yang berada pada ketinggian 350 meter dari permukaan laut itu. Tinggi menhir yang ada di sana beragam, mulai dari seukuran diameter kepala anak-anak hingga sekitar 3 meter. Ada pula satu menhir setinggi 4 meter tetapi sudah rebah.

Bentuk menhir itu bervariasi, antara lain menyerupai mata pedang, hulu pedang/keris, persegi, hingga kepala hewan. Bagian paling atas menhir umumnya membengkok dan mengarah ke satu tujuan ke Gunung Sago yang berada di arah tenggara.

Sementara itu Doni salah satu warga Maek mengatakan, menhir di Bawah Parit menjadi salah satu destinasi yang kerap dikunjungi di Nagari Maek. Adapun yang mengunjungi mulai dari warga biasa, pelajar dan mahasiswa, hingga peneliti.

“Selama pandemi Covid-19 dulu tingkat kunjungan cukup memprihatinkan, paling banyak sepuluh orang berkunjung dalam sepekan. Sekarang dalam sepekan, biasa puluhan hingga ratusan orang berkunjung,” katanya.

Ketua DPRD Sumbar, Supardi mengatakan, saat ini pemerintah provinsi melalui Dinas Kebudayaan Sumbar terus berupaya melakukan kajian yang melibatkan semua unsur agar Nagari Maek bisa menjadi desa wisata yang memberikan dampak ekonomi terhadap masyarakat.

“Kita menginginkan, jika ini benar-benar terwujud, masyarakat Maek tidak hanya menjadi penonton di daerah sendiri seperti di objek-objek wisata internasional lainya. Namun ada dampak positif yang didatangkan untuk masyarakat,”tukasnya. (vand)