PADANG, ONTIME.ID — Berdasarkan laporan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luas kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Barat (Sumbar) selama tahun 2022 tercatat seluas 9.832 hektare. Hal tersebut menjadikan Sumbar sebagai provinsi dengan kasus tertinggi di Pulau Sumatera.
Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Sumbar, Yozarwardi, mengatakan, dari data tersebut, didapati bahwa kabupaten yang mengalami karhutla terluas adalah Pesisir Selatan, Solok, Pasaman, dan Pasaman Barat. Untuk itu, ia mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang dapat memicu terjadinya karhutla, seperti membuka lahan dengan cara dibakar. Bagaimanapun, 99 persen penyebab karhutla itu adalah manusia.
“Kami tetap meminta masyarakat untuk waspada akan kemungkinan karhutla. Bagaimanapun, Indonesia saat ini tengah menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino. Jadi kita sama-sama menahan diri,” katanya kepada ONtime.ID Kamis (7/9) di Padang.
Sementara itu, Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, menegaskan kesiapan personel lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Pemprov Sumbar untuk ikut turun mengendalikan atau memadamkan titik api di provinsi tetangga.
“Tentu kami selalu dalam keadaan siap untuk membantu saudara kita di provinsi tetangga yang ada titik api di sana, seperti di Sumatera Selatan dan Lampung yang sudah terpantau titik apinya,” ucap Gubernur Mahyeldi, Kamis (7/9).
Apabila memang provinsi tetangga membutuhkan, ucap Mahyeldi, maka personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, Dinas Kehutanan (Dishut) Sumbar, serta OPD terkait di kabupaten/kota, siap turun ke lokasi. Terlebih, antara Sumbar dengan provinsi tetangga telah terjalin Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dalam pengendalian titik panas atau titik api.
“Pemprov Sumbar dan rekan-rekan di beberapa kabupaten/kota sudah memiliki peralatan yang cukup baik untuk mengendalikan titik panas dan memadamkan titik api. Termasuk sejumlah perusahaan di Sumbar yang bergerak di bidang perkebunan sawit, juga memiliki beberapa peralatan. Semua itu bisa kami mobilisasi untuk membantu provinsi tetangga,” ujar Mahyeldi.
Yozarwardi menambahkan, sesuai arahan Gubernur Sumbar dan MoU yang telah terjalin, maka personel Dishut Sumbar dalam keadaan siap memberikan bantuan semaksimal mungkin untuk provinsi tetangga.
Sebelumnya diberitakan, hingga awal pekan kemarin, berdasarkan data Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan yang Berbasis Aplikasi dan Web (SiPongi), saat ini telah terpantau hanya lima titik panas (hotspot) yang tersebar di wilayah Sumbar bagian selatan.
Yozarwardi, menyebutkan, kelima hotspot itu terpantau di sekitar wilayah Pesisir Selatan (Pessel) dan wilayah perbatasan Sumbar dengan Bengkulu. Satu di antara hotspot itu juga dikonfirmasi berasal dari titik api (fire spot).
“Jadi, dari lima titik panas itu, empat warna kuning dan satu warna merah. Dan satu di antaranya merupakan titik api. Artinya, sudah terjadi kebakaran hutan di satu titik,” katanya saat dihubungi ONtime.ID, Senin (4/9).
Yozarwardi menjelaskan, pada aplikasi SiPongi terdapat dua warna yang menandakan adanya titik panas. Warna kuning menunjukkan tingkat kepercayaan 30-78 persen dan warna merah tingkat kepercayaannya di atas 80 persen.
SiPongi yang dikembangkan Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) KLHK merupakan rujukan utama informasi karhutla di Indonesia. Informasi Sipongi menjadi dasar untuk mencegah terjadinya karhutla melalui deteksi dini hotspot, serta menjadi sumber informasi paling valid untuk ditindaklanjuti.
BNPB Catat 499 Karhutla Januari-Agustus 2023
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 499 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Januari sampai Agustus 2023.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan, jumlah kasus karhutla tahun ini lebih cepat dan banyak dibandingkan tiga tahun sebelumnya.
Dia menyebut sejak 2020 hingga 2022, jumlah kejadian karhutla selalu di bawah 300. Namun, saat ini jumlah kejadian karhutla sudah tembus lebih dari 300, padahal baru delapan bulan berjalan.
“Dalam tiga tahun terakhir karena dipengaruhi la nina, itu karhutla tidak begitu signifikan jumlahnya selalu di bawah 200 atau 300. Ini sudah delapan bulan berjalan sudah hampir di 500 kali kejadian karhutla yang terlaporkan. Belum yang dilaporkan,” kata Abdul lewat tayangan di Youtube BNPB Indonesia, Selasa (9/5).
Abdul menyampaikan hal itu dipengaruhi oleh fenomena el nino. Dia pun memprediksi kejadian karhutla tahun depan akan lebih parah dari tahun ini.
Pasalnya, el nino pada tahun ini masih dalam kategori rendah sampai moderat. Namun, jumlah kejadian karhutlanya nyaris mencapai 500 pada semester pertama tahun 2023.
“Ini menandakan fase el nino yang tahun 2023 ini disebut weak to moderate, lemah ke sedang itu peningkatan kejadian karhutlanya sudah signifikan. mungkin cobaan sebenarnya itu tahun depan,” jelas dia.
Dia menyebut tahun depan fenomena el nino diprediksi akan berada pada skala menengah hingga kuat. Oleh sebab itu, kata Abdul, pemerintah harus mengantisipasi dampak potensi dari karhutla.
“Kalau saat ini el nino nya itu lemah ke moderat kita sudah 500 kali kejadian karhutla hanya di 3 bulan pertama kemarau, mungkin ketika kondisi el nino moderat to strong, kita benar-benar harus waspada. Mungkin ini yang harus kita evaluasi untuk menyiapkan segenap segala sumber daya untuk mengantisipasi potensi el nino di tahun depan,” katanya.
Adapun secara keseluruhan, menurut catatan BNPB, total jumlah kejadian bencana dari Januari hingga Agustus mencapai 2.742 kejadian. Selain 499 kasus karhutla, ada 853 kejadian banjir, 836 cuaca ekstrem, dan tanah longsor 442 kejadian. (vand)













