JAKARTA, ONTIME.ID — Pelaku penembakan kantor pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI), pria berinisial M disebut pernah mengaku sebagai wakil Nabi Muhammad SAW saat merusak fasilitas di kantor DPRD Lampung.
Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Zahwani Pandra Arsyad, menyebut aksi itu dilakukan M pada 2016. Atas ulahnya itu ia dikenai pasal perusakan fasilitas publik dan dipidana lima bulan.
“Dia selalu mengklaim bahwa dia itu adalah sebagai wakil dari Nabi Muhammad SAW dan telah dituntut oleh JPU selama lima bulan,” ucap Pandra kepada wartawan, Selasa (2/5).
Pandra menyebut, pihaknya kini akan melakukan investigasi bersama Polda Metro atas aksi M yang melakukan teror penembakan di kantor pusat MUI, Jakarta. “Intinya kita bagaimana joint investigation ya, joint dalam penyidikan kasus ini. Itu aja. Polda Lampung mem-back up Polda Metro Jaya,” katanya.
M meninggal dunia usai melakukan aksinya. Dia meninggal setelah ditangkap dan menjalani perawatan di Puskesmas Menteng, tak jauh dari lokasi penembakan.
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Komarudin, menyatakan, kepolisian masih mendalami motif penembakan yang dilakukan M. Dia bilang M melancarkan aksinya menggunakan airsoft gun. Polisi juga memastikan tak ada korban jiwa atas aksi tersebut, kecuali hanya dua orang petugas yang terkena tembakan hingga mengalami luka ringan. “Saat ini sedang mau autopsi, nanti dari sanalah baru diketahui penyebab meninggalnya kenapa,” kata Komaruddin.
Sementara itu, Ketua MUI bidang Fatwa, M Asrorun Ni’am Sholeh, mengungkapkan, alasan MUI tidak menanggapi surat-surat yang dikirim oleh pelaku penembakan berinisial M. Asrorun menyebut isi surat yang dikirim pelaku tidak spesifik, sehingga MUI tidak bisa menindaklanjuti.
“Karena memang isi suratnya tidak spesifik dan fokus. Karena itu kita melihat juga ini surat yang belum konfirmasi maksud dan tujuannya,” kata Asrorun dikutip dari CNN Indonesia, Selasa (2/5).
Asrorun pun mengatakan, MUI akan melakukan rapat koordinasi untuk membahas peristiwa penembakan yang terjadi pada hari ini. MUI, kata dia, menyerahkan pengusutan peristiwa itu kepada pihak kepolisian.
Ia juga berharap polisi meningkatkan keamanan, apalagi jelang Pemilu 2024. “Kami berharap negara meningkatkan rasa aman di masyarakat, terlebih eskalasi yang meningkat jelang pemilu. Sekalipun tidak terkait langsung tapi pasti akan berdampak pada situasi yang hangat bagaimana situasi lintas masyarakat terjaga dan harmoni,” imbuhnya.
Asrorun menyatakan MUI juga tak akan berhenti membantu pemerintah dalam mengatasi permasalahan yang ada di masyarakat, terutama menyangkut keagamaan.
Ketua MUI bidang Dakwah dan Ukhuwah Cholil Nafis sebelumnya menyebut pelaku penembakan di kantor MUI pernah mengirim surat ancaman sebelum melakukan aksinya pada Selasa siang ini. Cholil mengatakan pelaku beberapa kali mengirimkan surat ke MUI, tetapi memang tak pernah ditanggapi.
Adapun pelaku penembakan dilaporkan meninggal dunia usai menjalankan aksinya. Ia pingsan saat ditangkap petugas, dan dinyatakan meninggal dunia saat dibawa polisi ke puskesmas. Jenazahnya dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses autopsi.
Bukan Teror
Direktur Jaringan Moderat Indonesia (JMI) Islah Bahrawi menilai aksi penembakan di Kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, tidak tepat jika disebut sebagai aksi teror.
Menurut Islah, aksi tersebut terjadi dilatarbelakangi pemahaman keagamaan pelaku yang sesat dengan menganggap dirinya penerus Nabi Muhammad.
Selain itu, Islah juga menilai pelaku kecewa dengan MUI karena tak diakui sebagai nabi. Hal ini disimpulkan berdasarkan surat-surat yang dibuat oleh pelaku untuk MUI. “Jadi kalau mau dibilang ini teror, terma teror tidak pas dipakai di sini,” kata Islah.
Islah menjelaskan kesesatan seperti yang dilakukan pria berinisial M itu bukan yang pertama. Dia pun menyinggung Lia Eden yang sama-sama mengaku nabi.
Bedanya, kata Islah, Lia Eden membuat semacam sekte untuk mendapatkan pengakuan sebagai nabi. Sementara, pelaku penembakan di MUI meminta lembaga itu untuk mengakuinya sebagai nabi, sehingga bisa mendapat pengikut.
Namun, karena surat-surat yang dikirim tidak digubris, dia menduga pelaku kecewa dan naik pitam. Terlebih, pelaku meyakini dirinya benar-benar penerus nabi. “Dia [pelaku penembakan di MUI] lebih kepada ekspresi kekecewaan karena tidak adanya pengakuan. Saya rasa dia hanya memahami agama secara samar, lalu dia menganggap dia penerus nabi yang merasa diberi beban oleh nabi bahwa dia yang akan menyatukan perbedaan umat dr aliran yang berbeda,” imbuhnya.
Selain itu, dia juga menilai aksi teror biasanya dilakukan menggunakan pistol rakitan. Sementara pelaku penembakan di MUI menggunakan airsoft gun. Penembakan terjadi di Kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, sekitar pukul 11.00 WIB. Pelaku penembakan disebut ingin bertemu dengan pimpinan MUI.
Dua staf MUI mengalami luka-luka atas kejadian itu, sementara pelaku dinyatakan meninggal dunia. Pihak kepolisian masih mengumpulkan bukti dan keterangan saksi untuk mengusut kejadian ini. Polisi pun mendalami motif dan profil pelaku penembakan, apakah pelaku terafiliasi dengan jaringan kelompok teroris tertentu. (red)













