Kab. Limapuluh Kota

Alek Bakajang Diusulkan Masuk KEN Kemenparekraf

429
×

Alek Bakajang Diusulkan Masuk KEN Kemenparekraf

Sebarkan artikel ini
Bakajang
Gubernur Sumbar Mahyeldi didampingi Bupati Lima Puluh Kota, Safaruddin dalam iven Alek Bakajang yang telah menjadi tradisi di setiap lebaran.

LIMA PULUH KOTA , ONTIME.ID — Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi mengapresiasi penyelenggaraan Event tradisi Alek Bakajang selama lima hari di Nagari Gunung Malintang, Pangkalan, Kabupaten Lima Puluh Kota.

 

Tradisi yang menjadi salah satu daya tarik pariwisata ini diperkirakan telah berusia ratusan tahun serta telah  berhasil mendapatkan penghargaan tingkat nasional.

“Kita sangat bangga iven Alek Bakajang ini berhasil meraih Juara 1 kategori atraksi budaya terpopuler dalam nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) tahun 2021 lalu,” kata Mahyeldi saat menutup acara Alek Bakajang, Rabu (17/4) kemarin.

Gubernur juga mengapresiasi tingginya kepedulian  dan animo masyarakat dalam upaya  melestarikan tradisi ini. Hal itu tidak terlepas dari tumpah rumahnya ribuan warga untuk menyaksikan puncak pagelaran event  tersebut.

Ia meyakini, penyelenggaraan Festival Alek Bakajang  penting sebagai wadah mempererat relasi seluruh lapisan warga dalam masyarakat.

“Kita berharap, Alek Bakajang bisa masuk dalam salah satu iven unggulan dalam Kharisma Event Nusantara yang akan diselenggarakan oleh Kemenparekraf. Sehingga, kunjungan wisatawan ke Sumbar terus meningkat yang juha temtu akan memberikan dampak positif terhadap perekomian masyarakat kita,” ujar Gubernur lagi

Wali Nagari Gunung Malintang, Wido Putra  menjelaskan  sejarah terselenggaranya Alek Bakajang. Tradisi itu bermula dari kebiasaan warga pergi Manjalang kepada Niniak Mamak atau Datuak Panghulu, dan selanjutnya diteruskan Manjalang Alim Ulama maupun Cadiak Pandai seperti Pemerintah Nagari atau tokoh masyarakat dari dari 4 (empat) suku berbeda yang ada di Gunuang Malintang.

“Semua itu dilakukan dengan menggunakan perahu (kajang) dengan melintasi Sungai Batang Mahat untuk silaturahim yang dilaksanakan setelah Hari Raya Idulfitri,” terang Wido.

Ada pun empat suku tersebut, sambungnya, antara lain Suku Domo, Suku Melayu ,Suku Piliang, serta Suku Pagar Cancang. Selama 5 (lima) hari berturut-turut keempat suku tersebut bersilaturahmi ke setiap Istano datuak-datuak yang ada.

“Karena itu ada lima perahu kajang yang mewakili tiap-tiap jorong atau wilayah di bawah nagari, yang berparade di tepian Batang Mahat,” sebutnya.

Dalam kesempatan itu juga, Bupati Lima Puluh Kota, Safaruddin turut memberikan apresiasi tinggi kepada masyarakat Nagari Gunung Malintang yang setiap tahun menyelenggarakan iven Alek Bakajang.

Ia berharap, masyarakat Gunuang Malintang dapat menulis dan mendokumentasikan tradisi Alek Bakajang secara komprehensif dan lengkap, sehingga lebih mudah dalam mewariskannya kepada generasi mendatang. (ben pitopang )