SOLOK SELATAN, ONTIME.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Solok Selatan (Solsel) terus berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama pada sektor-sektor yang mendukung pertumbuhan perekonomian daerah, sekaligus menjadi sumber pendapatan mayoritas masyarakatnya, yaitu pertanian bidang perkebunan dan perikanan.
Bupati Solsel, H. Khairunas menerangkan bahwa, sektor ini merupakan salah satu sektor yang mendominasi pada struktur perekonomian Solok Selatan lebih dari 25 persen setiap tahunnya menyumbang terhadap produk domestik bruto (PDRB) Kabupaten Solok Selatan. Untuk itu, diperlukan dukungan, bimbingan, pembinaan dan arahan dari kementerian pengampu kedua sektor tersebut dalam upaya untuk meningkatkan hilirisasi dan produksinya.
Dalam hal ini, Pemkab Solsel menemui Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Ditjen Perkebunan Kementrian Pertanian RI serta Dirjen Budidaya Perikanan, Kementrian Kelautan dan Perikanan RI di Jakarta. Pertemuan tersebut berlangsung pada Selasa (12/6) dan Rabu (13/6) lalu.
Pada pertemuan itu, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Solsel, Admi Zulkhairi kepada ONtime.ID menjelaskan, pihaknya mengusulkan kepada Ditjen Perkebunan Kementan untuk pembangunan pabrik mini minyak goreng (Pamigo), alsintan pengolah sawit, jalan produksi, dan intensifikasi pertanian. “Kita usulkan (ke Kementan) 2 Pamigo, Alhamdulillah sudah clear, lokasinya satu di Sangir Balai Janggo, satunya di Sangir Batang Hari. Selain itu, juga beberapa item lainnya itu ada alsintan, sarpras jalan produksi dan intensifikasi pertanian,” ujar admi ditemui Kamis (27/6).
Kemudian, Admi juga menjabarkan bahwa, Solsel akan mendapatkan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), yang ditargetkan minimal 500 hektare untuk tahun 2024 ini. “Ada 500 hektare ini bisa lebih juga, tergantung persyaratan yang dipenuhi, 1 hektarenya akan dibantu sebanyak Rp30 juta. Nah, nantinya akan diupayakan menjadi Rp60 juta per hektarenya, tapi disertakan dengan tumpang sari tanaman pangan, misalnya padi Gogo atau jagung” jelasnya lagi.
Terkait hal itu, pihaknya menyatakan saat ini sudah ada 50 hektare PSR, yang masuk ke tahapan rekomendasi teknis (rekomtek) di Kementan RI, sementara yang sedang diusulkan lagi sekitar 229 hektare. “Yang sudah rekomtek 50 (hektare), yang sedang di proses usulannya ada 229 hektare lagi, dan itu yang berhak mengajukan adalah kelompok tani, gabungan kelompok tani atau juga koperasi,” tandasnya.
Pamigo diyakini bisa menjadi solusi untuk petani sawit skala kecil di Solsel. Hal ini akan berperan besar pada hilirisasi hasil perkebunan sawit rakyat, yang luasan lahannya selalu mengalami peningkatan setiap tahun di Solsel. Dengan potensi tersebut, berondolan buah sawit masyarakat bisa terjual dengan mahal, karena baik pengelolan dan pemanfaatannya bisa diakomodir langsung oleh masyarakat dalam bentuk koperasi atau kelembagaan pekebun, berkolaborasi dengan instansi daerah terkait.
Saat ini, Dinas Pertanian Solsel di bidang perkebunan sedang merampungkan beberapa persyaratan utama pengadaan Pamigo. Beberapa di antaranya seperti, legalitas lahan pembangunan, perizinan, hingga pernyataan ketersediaan bahan baku TBS sekurang-kurangnya 1.800 ton/tahun.
Sementara di sisi bidang perikanan, Bupati H. Khairunas menjelaskan produksi perikanan Solsel masih di bawah target pemerintah provinsi. Kondisi ini berdampak pada jumlah kebutuhan ikan di kabupaten ini. Padahal potensi budidaya perikanan cukup baik, lantaran dialiri oleh belasan sungai dan sumber daya air yang baik. “Namun kendala bagi masyarakat dan petani adalah harga pakan pabrikan yang cenderung terus naik, sehingga merugikan petani ikan,” kata H. Khairunas.
Khairunas menyebutkan, di bawah bimbingan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan serta Penyuluh KKP, saat ini tengah mengayomi beberapa kelompok/unit kerja untuk memaksimalkan budidaya perikanan di daerahnya. “Terdapat 64 Pokdakan (Kelompok Pembudidaya Ikan), 4 Poklahsar (Kelompok Pengolahan dan Pemasaran) hasil Pprikanan, 15 UPR (Unit Pembenihan Rakyat), dan 20 Pokmaswas (Kelompok Masyarakat Pengawas),” jelasnya.
Oleh karena itu, Bupati Khairunas mengharapkan adanya dukungan, bimbingan, pembinaan dan arahan dari pihak terkait, dalam hal ini Ditjen KKP RI untuk mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan petani di daerahnya. Beberapa hal yang diajukan dalam usulan tersebut adalah kegiatan demplot budidaya ikan berupa Biofloc Teknologi, kegiatan Mina Padi, pabrik Pakan Mini, percontohan kolam air deras, benih ikan, dan sarana prasarana budidaya dan pembuatan pakan ikan yang bahannya mudah didapatkan di Solsel. (jefli)













