PAYAKUMBUH, ONTIME.ID–Ketua DPRD Sumbar, Supardi mendorong pemerintahan pada tingkat lurah di Kota Payakumbuh, menciptakan budaya masyarakat mandiri secara ekonomi maupun sosial. Hal tersebut penting diterapkan, mengingat kondisi keuangan daerah belum stabil usai pandemi Covid-19.
“Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Sumbar Tahun 2022 berada pada angka Rp 6,5 triliun, di tahun sebelumnya pada angka Rp7,4 triliun. Kita kehilangan ratusan miliar pada komposisi APBD, sehingga pemerintah provinsi memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dalam realisasi bantuan maupun pembangunan infrastruktur,” kata Supardi saat kegiatan Penyuluhan Keliling Kota Payakumbuh Program Pemberdayaan Sosial Dinsos Sumbar Tahun 2022, di Kota Payakumbuh kemarin.
Dia menjelaskan, kondisi keuangan daerah yang belum pulih tidak hanya terjadi di Sumbar, namun juga secara nasional maupun dunia. Pada APBD Sumbar yang berada dikisaran Rp6,5 triliun, puluhan persennya telah dibagi untuk belanja pegawai, kesehatan, maupun pendidikan. Untuk bantuan masyarakat, yang bisa dioptimalkan hanya 10 persen.
” Dengan sisa itu lah kita bagi-bagikan kepada kabupaten/kota untuk bantuan pemberdayaan masyarakat, infrastruktur maupun yang lainnya. Dalam kenyataannya, pemerintah daerah memiliki keterbatasan,” kata Supardi.

Meski kondisi demikian, lanjutnya, tidak ada kata pesimis untuk pembangunan yang harus tetap berlanjut, pemerintah provinsi hingga tingkat kelurahan harus mengambil langkah strategis, yakni menciptakan kemandirian masyarakat dengan tidak bergantung pada bantuan-bantuan pemerintah.
Terkait ini, peran LPM dinilai sangat dibutuhkan untuk mengidentifikasikan potensi apa yang menjadi keunggulan daerah, sehingga harus dioptimalkan untuk kemandirian sosial tatanan masyarakat. Jika tidak bisa, lakukan koordinasi dengan pemerintah yang lebih tinggi.
“Khusus untuk Kota Payakumbuh kemandirian masyarakat sebenarnya telah terlatih, hal itu dibuktikan dengan hidupnya kuliner yang bertahan dalam kondisi apapun, namun hal positif ini harus dibawa pada tingkat pemberdayaan masyarakat, dalam tatanan kelurahan atau nagari,” katanya.
Disisi lain dia mengatakan, jika langkah strategis dalam keterbatasan keuangan daerah tidak diambil, akan berdampak buruk terhadap kondisi sosial, salah satunya meningkatkannya angka kriminalitas. Dua tahun terakhir, Indonesia mengalami resesi ekonomi yang berimbas pada dicabutnya sejumlah subsidi, diantaranya bahan pokok.
Kondisi itu jelas mempengaruhi dunia usaha, banyak generasi muda yang merantau kehilangan pekerjaan dan memilih pulang ke daerah asal, kepulangan mereka memiliki plus dan minus.
“Minusnya dengan status menganggur bisa saja terjadi tindak kriminal. Data Polda Sumbar pasca pandemi tingkat kriminal terus meningkat hingga tiga persen,” katanya.
Kegiatan Penyuluhan Keliling di Kota Payakumbuh, Program Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial Sumbar, dihadiri oleh Kepala Dinas (Kadis) Sosial Kota Payakumbuh Erawan, dan Kadis Dinas Provinsi Sosial Sumbar Arry Yuswandi.













