BANDUNG, ONtime.ID — Di tengah tumpukan buku dan deretan angka, Felcia Kinsey Alzena Gari Setiawan menemukan ruang untuk mengenal dirinya. Siswi kelas VII Bilingual di Taruna Bakti Bandung ini tampil tenang, namun menyimpan kapasitas intelektual di atas rata-rata.
Berdasarkan hasil pengukuran, Felcia memiliki IQ 137—menempatkannya dalam kategori anak cerdas istimewa berbakat istimewa (CIBI). Kelompok ini dikenal tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kematangan psikologis yang relatif lebih baik dibandingkan anak seusianya.
Kemampuan tersebut tercermin dari cara Felcia mengelola waktu dan beradaptasi. Ia mampu menyeimbangkan antara belajar, berorganisasi, hingga berinteraksi sosial. Di sekolah, ia aktif sebagai sekretaris OSIS—peran yang menuntut ketelitian sekaligus kemampuan manajerial.
[irp posts=”34895″ ]
Dalam keseharian, Felcia menunjukkan ketekunan dan ketelitian, baik di bidang akademik maupun seni. Kemampuan problem solving-nya pun menonjol, terutama dalam pelajaran berbasis logika.
“Pelajaran aku lebih suka menghitung kayak matematika gitu, kadang juga sejarah,” ujarnya.
Baginya, matematika bukan sekadar angka, melainkan proses menemukan kepuasan saat solusi berhasil dicapai. “Matematika itu kayak kita mencari jawaban. Pas dapat jawaban tuh puas banget, karena kita pakai logika,” tuturnya.
Meski demikian, Felcia tetap menghadapi kejenuhan layaknya remaja lain. Ia mengakui rasa bosan kerap muncul saat harus menyimak materi dalam waktu lama. Namun, ia memiliki cara tersendiri untuk mengatasinya.
[irp posts=”34892″ ]
“Biasanya aku istirahat dulu, nanti lanjut lagi. Terus aku juga suka nyatat-nyatat,” katanya.
Kebiasaan mencatat menjadi salah satu kunci konsistensinya dalam belajar. Ia bahkan memiliki catatan khusus layaknya diary untuk setiap mata pelajaran—dibuat atas inisiatif pribadi, bukan semata karena instruksi guru.
Di lingkungan sosial, Felcia mengaku nyaman berinteraksi dengan teman-temannya. Ia menilai suasana sekolah mendukung proses bersosialisasi tanpa tekanan.
“Di sini muridnya banyak dan baik-baik, jadi mudah bersosialisasi. Senang sih berteman di sini,” ujarnya.
Di sela kesibukan akademik, Felcia tetap meluangkan waktu untuk berbincang santai dengan teman. Topik pembicaraan pun beragam, mulai dari pelajaran hingga hal ringan sehari-hari.
Meski memiliki kemampuan akademik menonjol, Felcia tidak merasa terasing. Ia justru memandang perbedaan sebagai hal yang saling melengkapi.
“Kita tuh punya kelebihan dan kekurangan, jadi ya saling melengkapi aja,” ucapnya.
[irp posts=”34889″ ]
Menariknya, ia mengaku tidak memiliki banyak hobi di luar dunia akademik. Sejak kecil, aktivitasnya lebih terfokus pada belajar, termasuk mengikuti bimbingan belajar dan kursus bahasa Inggris. Ia sempat belajar piano, namun kini lebih memprioritaskan pengembangan akademik.
Di balik pencapaiannya, Felcia menyimpan harapan sederhana. Ia tidak mengejar ambisi besar, melainkan ingin memberikan kebanggaan bagi keluarga.
“Harapan aku, bisa banggain orang tua aja,” tutupnya.
Kisah Felcia menunjukkan bahwa kecerdasan bukan hanya soal angka, tetapi juga tentang bagaimana seseorang memahami diri, menjaga keseimbangan, dan tetap membumi di tengah keunggulan yang dimiliki. (*)













