JAKARTA, ONtime.ID — Film dokumenter Pesta Babi belakangan menjadi sorotan publik dan ramai diperbincangkan di media sosial. Dokumenter tersebut menarik perhatian karena mengangkat isu sensitif mengenai tanah adat dan ekspansi industri di wilayah Papua Selatan.
Popularitas film ini semakin meningkat setelah sejumlah agenda nonton bareng dan diskusi di beberapa daerah dilaporkan mengalami pembubaran. Kontroversi itu justru memicu rasa penasaran masyarakat terhadap isi dokumenter yang disebut menyoroti persoalan lingkungan dan hak masyarakat adat di Papua.
Salah satu faktor yang membuat film ini cepat viral adalah keterlibatan Dandhy Dwi Laksono sebagai sutradara. Dandhy dikenal luas lewat sejumlah film dokumenter bertema sosial, lingkungan, dan politik yang kerap memantik perdebatan publik.
[irp posts=”36178″ ]
Beberapa karya yang pernah disutradarainya antara lain Dirty Vote, Sexy Killers, Plastic Island, serta Samin vs Semen.
Dalam proyek Pesta Babi, Dandhy bekerja bersama Cypri Dale dan tim dokumenter lainnya untuk merekam perjuangan masyarakat adat Papua dalam mempertahankan tanah dan hutan mereka di tengah masifnya pembangunan industri.
Film tersebut memperlihatkan dampak perubahan lingkungan akibat pembukaan lahan berskala besar di Papua. Dokumenter ini menyoroti isu deforestasi, kerusakan ekosistem, hingga pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat adat setempat.
Tak hanya isi filmnya yang menjadi perhatian, judul Pesta Babi juga memunculkan rasa penasaran publik. Dalam budaya masyarakat adat Papua, babi memiliki makna simbolis yang sangat penting. Hewan tersebut tidak hanya dipandang sebagai ternak, tetapi juga melambangkan status sosial, kekayaan, hubungan antarkelompok, hingga bagian penting dalam ritual adat dan tradisi turun-temurun.
[irp posts=”36174″ ]
Kontroversi semakin menguat setelah sejumlah kegiatan pemutaran dan diskusi film dilaporkan dibubarkan di beberapa daerah, termasuk di lingkungan Universitas Mataram, Universitas Pendidikan Mandalika, serta di wilayah Ternate dan Yogyakarta.
Peristiwa itu membuat perbincangan mengenai Pesta Babi meluas di media sosial. Banyak warganet mempertanyakan alasan penolakan terhadap dokumenter tersebut, sementara sebagian lainnya menilai film itu penting sebagai ruang diskusi mengenai persoalan masyarakat adat dan lingkungan di Papua.
Film ini juga diketahui diproduksi melalui kolaborasi dengan sejumlah organisasi dan komunitas, seperti Greenpeace Indonesia, WatchDoc, dan LBH Papua Merauke.
Keterlibatan berbagai pihak tersebut membuat dokumenter ini dinilai memiliki pendekatan yang kuat dari sisi riset, data lapangan, dan perspektif masyarakat adat. Tak heran jika Pesta Babi kini berkembang menjadi salah satu film dokumenter yang paling banyak diperbincangkan publik dalam beberapa waktu terakhir. (*)
[irp posts=”36170″ ]













