Kab. Pasaman

Gelar Sako Kari Ibrahim Benny Utama Dikukuhkan

317
×

Gelar Sako Kari Ibrahim Benny Utama Dikukuhkan

Sebarkan artikel ini
Benny
Prosesi pemberian gala sako Kari Ibrahim kepada Bupati Pasaman H Benny Utama.

 PASAMAN, ONTIME.ID— Bupati Pasaman Benny Utama disandangkan gelar sako Kari Ibrahim Suku Mais Kampuang Suharmua, Tanjuang Baringin.

Gala Sako tersebut sudah diterima H. Benny Utama dari ND. Kari Ibrahim pada saat “tanah tasirah” tahun 2013, dan barulah Sabtu (22/7) kemarin dikukuhkan.

 

Naiak Gadang Gala Sako Kari Ibrahim atas nama H. Benny Utama, dirayakan dengan alek anak nagari selama tujuh hari tujuh malam, sejak Minggu, 16-22 Juli 2023, serta upacara penyembelihan kerbau.

Ribuan Masyarakat Kabupaten Pasaman yang tergabung dalam Barisan Niniak Mamak, Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN), Wali Nagari, Bamus Nagari, Basa IX Lubuk Sikaping dan Basa XV Panti – Rao serta Bundo Kanduang se-Pasaman, hadiri prosesi adat Naiak Gadang Gala Sako Kari Ibarahim, Pucuak Syarak Nagari Tanjuang Baringin, di Rumah Gadang Sako Kari Ibrahim, Kampuang Sumua, Lubuak Sikapiang.

Tampak juga hadir pejabat Pasaman, mulai dari Forkopimda, Sekda, Kepala OPD, Kepala Instansi Vertikal serta pimpinan BUMN dan BUMD Pasaman.

Tak hanya itu, Makan Bajamba juga direpresentasikan untuk menumbuhkan semangat kebersamaan yang harus dijaga oleh anak cucu kemenakan Sako Kari Ibrahim Tanjuang Baringin.

Prosesi Naik Gadang Gala Sako Kari Ibrahim, Kaum Mais, Kampuang Sumua diawali dengan napak tilas ke kampung asal leluhur di Desa Muara Mais, Koto Nopan, Kabupaten Mandailing Natal.

Di Muara Mais, Tim Niniak Mamak Tanjuang Baringin menemui keluarga Mangaraja Borayun, yang menjadi asal-usul kaum Kari Ibrahim. Selain bercerita tentang sejarah asal-usul, Tim ninik mamak juga membuka ranji keturunan Mangaraja Borayun yang awal mula diutus ke Lubuk Sikaping sebagai Panglima Tuanku Imam Bonjol di masa Perang Paderi dulu.

“Utusan yang bernama Rajo Barayun inilah akhirnya yang menjadi nenek moyang kaum (suku) Maih di Pasaman,” kata Ketua Tim Ninik Mamak Edi Utama.

Di Muara Mais, Edi Utama dan ninik mamak turut melakukan ziarah ke Pandam Pakuburan Mangaraja Borayun, yang mirip dengan Pandam Pakuburan Kaum Kari Ibrahim di Nagari Tanjung Beringin. Di ke dua tempat ini ada kuburan panjang yang diyakini sebagai kuburan Rajo Barayun.

Selain melihat kuburan panjang, Tim Ninik Mamak juga melakukan ziarah kubur ke makam almarhum Hamdan Lubis bin Sutan Mulia, yang letaknya berdampingan dengan kuburan besar Mangaraja Borayun.

Hamdan Lubis bin Sutan Mulia, adalah pemangku gelar Mangaraja Borayun yg terakhir. Wafat tahun 2014, dan sekarang kaumnya sedang menunggu kelahiran Mangaraja Borayun berikutnya.

Kondisi yang sama juga terdapat di pandam kuburan kaum Kari Ibrahim di Tanjung Beringin. Di Pandam kuburan yang bernama Jiraik Tinggi itu, ada sebuah kuburan panjang dan tidak jauh dari situ, dimakamkan pula almarhum Haji Said yang bergelar Kari Ibrahim yang merupakan kakek dari Ibunda H. Benny Utama.

 

Berdasarkan catatan sejarah yang diwarisi, Haji Said prosesi Naiak Gadang Gala Sako (diasami) pada tahun 1926 silam, dengan menyembelih kerbau dan baralek” selama tujuh hari tujuh malam. Artinya, sudah hampir 100 tahun prosesi maasaman Gala Sako Kari Ibrahim ini tidak pernah dilaksanakan lagi.

Dan upacara sakral inilah yang tereplikasi kembali Sabtu 22 Juli 2023, saat H. Benny Utama yang juga Bupati Pasaman, diasami atau naik gadang dikukuhkan menyandang gelar sako Kari Ibrahim.

Edi mengatakan, upacara Naiak Gadang Gala Sako Kari Ibrahim ini merupakan prosesi adat terbesar dan paling meriah yang pernah Ia lihat dan saksikan di Sumatera Barat.

Hal yang sama juga disampaikan Niniak Mamak Basa IX yang sengaja datang dari Rao, bahwa acara Naiak Gadang Gala Sako Kari Ibrahim begitu akbar dan religius.

“Pertunjukan kesenian adat dan tradisi ala minangkabau yang disajikan begitu apik, membuat kita kembali serasa berada di-era dimana adat masih menjadi pegangan kuat masyarakat Ranah Minang,” tuturnya.

Tiga hari sebelum upacara Naiak Gadang Gala, dilakukan acara potong kerbau yang diawali dengan arak-arakan keliling kampung sambil memukul gong. Sedangkan sepekan sebelumnya, selama tujuh hari berturut-turut sejak tanggal 16 Juli, digelar atraksi kesenian adat di rumah gadang Sako Kari Ibrahim, di antaranya Randai, Dikia Pano, Basanji, Ronggeng dan juga Gordang Sambilan dari Muara Mais, Mandailing. (agus)