PASAMAN, ONtime.ID — Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasaman, Haris Suddin, mengingatkan bahwa cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai apabila persoalan mendasar yang membelit generasi muda tidak segera ditangani secara serius.
Menurutnya, ancaman penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, balap liar, hingga tingginya angka remaja putus sekolah menjadi persoalan nyata yang membutuhkan perhatian bersama.
Pernyataan tersebut disampaikan Haris Suddin di Lubuk Sikaping, Minggu (21/6/2026). Politisi Partai Demokrat itu menilai, kesiapan menyongsong Indonesia Emas tidak cukup hanya diukur dari kemampuan akademik, penguasaan teknologi, maupun daya saing di dunia kerja.
Menurutnya, pembangunan karakter, mental, moral, dan pemahaman agama justru menjadi fondasi utama yang menentukan kualitas generasi penerus bangsa.
“Kesiapan menuju Indonesia Emas tidak hanya berbicara tentang ilmu pengetahuan, teknologi, atau keterampilan. Mental, karakter, serta nilai-nilai agama memiliki peran yang sama pentingnya dalam membentuk generasi yang berkualitas,” ujar Haris.
Sekretaris DPC Partai Demokrat Kabupaten Pasaman itu mengaku prihatin terhadap berbagai fenomena sosial yang saat ini banyak menjerat kalangan remaja. Ia menilai, berbagai persoalan tersebut menjadi sinyal bahwa pembinaan generasi muda harus dilakukan lebih terarah dan berkelanjutan.
Salah satu persoalan yang mendapat sorotan adalah penyalahgunaan narkotika yang menurutnya masih kerap terungkap melalui berbagai operasi penegakan hukum di Kabupaten Pasaman.
“Hampir setiap waktu masyarakat disuguhi informasi mengenai pengungkapan kasus narkoba. Kondisi ini menjadi peringatan bahwa ancaman terhadap generasi muda masih sangat nyata,” katanya.
Selain narkoba, Haris juga menyoroti persoalan pergaulan bebas, balap liar, hingga anak-anak yang putus sekolah. Menurutnya, jika kondisi tersebut dibiarkan, maka akan berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia Pasaman di masa depan.
“Apa yang bisa kita harapkan jika generasi muda terus terjebak dalam persoalan seperti ini, sementara pada 2045 mereka akan menjadi kelompok usia produktif yang menentukan arah pembangunan bangsa,” ujarnya.
Karena itu, Haris menilai langkah pencegahan harus dilakukan sejak dini melalui program yang terencana, terukur, dan melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, tokoh agama, pemerintah, hingga organisasi kepemudaan.
Sebagai bentuk komitmen, Haris mengaku telah mengalokasikan sebagian dana pokok pikirannya (pokir) sebagai anggota DPRD untuk mendukung pembinaan generasi muda, khususnya di daerah pemilihannya.
Program tersebut diwujudkan antara lain melalui dukungan terhadap sejumlah madrasah serta kegiatan-kegiatan pembinaan yang berorientasi pada penguatan karakter, pendidikan agama, dan pembentukan moral generasi muda.
“Kita ingin melahirkan generasi Pasaman yang memiliki karakter kuat, akhlak yang baik, pemahaman agama yang kokoh, serta mampu menghadapi tantangan zaman. Persiapan menuju 2045 harus dimulai dari sekarang,” tegasnya.
Di sisi lain, Haris juga menyoroti masih besarnya tantangan pembangunan yang dihadapi Kabupaten Pasaman. Menurutnya, persoalan infrastruktur dasar masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan karena berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Ia mengungkapkan masih terdapat sejumlah wilayah yang mengalami keterisolasian akibat keterbatasan akses jalan dan sarana transportasi. Kondisi tersebut dinilai menghambat mobilitas masyarakat sekaligus memperlambat pemerataan pembangunan.
“Selama infrastruktur dasar belum memadai, akan sulit bagi Pasaman untuk berkembang secara optimal. Akses yang terbatas akan memengaruhi aktivitas ekonomi dan pelayanan kepada masyarakat,” katanya.
Namun demikian, Haris mengakui kemampuan keuangan daerah saat ini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat berdampak pada berkurangnya kapasitas fiskal daerah sehingga ruang pembangunan menjadi lebih terbatas.
Menghadapi kondisi tersebut, ia mendorong Pemerintah Kabupaten Pasaman agar lebih proaktif mencari sumber pendanaan alternatif, termasuk memperjuangkan program-program strategis melalui kementerian dan lembaga di tingkat pusat.
“Daerah tidak bisa hanya bergantung pada APBD. Pemerintah harus aktif menjemput peluang pendanaan dari pemerintah pusat agar pembangunan tetap berjalan,” ujarnya.
Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, Haris menilai hubungan antara eksekutif dan legislatif di Kabupaten Pasaman masih berjalan harmonis. Menurutnya, sinergi tersebut merupakan modal penting untuk mempercepat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ia berharap kolaborasi yang telah terbangun dapat terus dipertahankan bahkan ditingkatkan sehingga berbagai persoalan daerah dapat diselesaikan secara bersama-sama.
“Pasaman masih memiliki banyak tantangan. Karena itu, seluruh unsur pemerintah dan masyarakat harus bersatu, bekerja dengan sungguh-sungguh, agar daerah ini mampu berkembang lebih cepat dan memberikan kesejahteraan yang lebih baik bagi masyarakat,” tutup Haris Suddin. (Agus)













