PADANG, ONTIME.ID–Rumah gadang bergoyang lagi. Ranah Minang heboh. Rang rantau maupun rang kampuang, tersengat isu sensitif.
Bagaikan lebah pecah dari sarangnya, orang-orang seakan berhamburan mengutuk si pembuat gaduh. Sasakik sasanang, sahino samalu. Tatilungkuik samo makan tanah, tatilantang samo makan angin. Inilah saatnya, pepatah itu benar-benar menjelma dalam fakta.
Galeboh itu bermula dari munculnya restoran yang bernama Babiambo. Restoran bercap Nasi Padang itu menghidangkan randang babi dan berbagai macam masakan Padang berbabi.
Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar H Fauzi Bahar Datuk Nan Sati maradang. Ia benar-benar tersinggung. “ Maksudnya apa? Ini melukai perasaan orang Minang. LKAAM akan mengusut siapa pemilik restoran yang menyediakan rendang babi. Jangan uji-uji orang Minang, saya minta restoran itu segera ditutup”, kata fauzi kepada Haluan, Jumat (10/6).
Orang Minang itu bersepakat pada adat basandi syarak,syarak basandi Kitabullah. “ Jangan merusak. Randang makanan tradisi orang Minang. Tradisi bagian dari adat. Adat adalah identitas orang Minang.
Lenyap adat, lenyap identitas. Tradisi adalah bagian dari identitas kita sebagai orang Minang. Restoran Babiambo, sangat melukai hati ambo dan hati para orang Minangkabau !”, ujar Fauzi bahar.
Berita ini berawal dari sebuah gerai di dunia maya yang menjual randang babi. Nama rumah makan itu Babiambo. Lokasinya, di Jakarta.
Grup WA orang awak galeboh oleh isu ini. Keresahan merebak. Bahkan ada yang bicara, adakah skenario lain di balik isu Babiambo.
“Saya empat tahun yang lalu sudah merasakan kekhawatiran ini. Kekhawatiran ketika ada randang babi yang akan menghancurkan keniscayaan orang Minang dari sisi lain”, ujar DR Emeraldy Chatra, pakar komunikasi yang juga dikenal sebagai seorang budayawan nan sastrawan pikiran.
Suara sangat cemas ditangkap Haluan di sudut meja percakapan; “Kadang-kadang saya gamang, apakah suatu saat nanti masih ada juga Minangkabau? Saya melihat.Saya menyimak, segala pikiran nyaris bergeser. Saat kita tersinggung, kita ramai-ramai ‘menyerang’.
Tapi, pada saat-saat lain kita terlupa ketika mana jalan itu sebenarnya sudah diam-diam sudah diasak oleh orang lalu.Sadarkah kita?”
Suara ngeri bergema di balik peristiwa ini. Ia bertanya dan mempertanyakan. Ia menduga dan memprasangkakan. Ia gamang melihat keadaan. Keadaan yang berfakta data ketika disinyalir ribuan LGBT ‘bernapas’ di Ranah Minang.
Ketika tingkat perceraian berangka tinggi. Ketika narkoba merangsek utak banak anak nagari; jumlahnya mencapai 70 ribu. Ketika angka pengangguran , aduh mak tinggi sekali ( ya 65 ribu pengangguran terdapat di Padang dan 177 ribu orang menganggur di Sumbar) . Kini, kita digoyang adanya restoran randang babi.
Ketika babi dirandang, ketika itu pula, akomulasi pikiran terjajar pada kecemasan, lalu melahirkan pertanyaan : “ Apakah ini yang dinamakan sebuah konspirasi untuk merusak tatanan sosial dan kebudayaan orang Minangkabau? Apakah ini semamang sinyal yang melunturkan kepercayaan terhadap orang awak? Apakah ini sebuah cara bahwa orang Minangkabau yang terkenal dengan orang berpikir, orang-orang yang melahirkan pikiran untuk peradaban, diam-diam pikirannya dimusnahkan . Diam-diam, orang hebat ‘didiamkan’. Diam-diam, orang pintar atau orang cerdas ‘dilukahkan’”.













