Kab. Mentawai

Listrik Siberut Utara Padam, PLN Sumbar Dinilai Tak Becus Bekerja

452
×

Listrik Siberut Utara Padam, PLN Sumbar Dinilai Tak Becus Bekerja

Sebarkan artikel ini
PLN Sumbar
Joni Kusuma S.Sos , Anggota Komisi 1 DPRD Kabupaten Mentawai

MENTAWAI, ONtime.ID — Listrik adalah kebutuhan pokok masyarakat, terlebih di wilayah kepulauan yang jauh dari pusat pelayanan. Krisis listrik di Siberut Utara bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan menyangkut kehidupan, kesehatan, dan kelangsungan ekonomi warga. Pemerintah dan PLN harus segera mengambil tindakan nyata agar masyarakat tidak terus-menerus menjadi korban.

Sudah hampir satu bulan masyarakat di Kecamatan Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, harus menjalani hidup dalam kegelapan akibat padamnya aliran listrik. Kerusakan mesin Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) milik PLN di Sikabaluan sejak awal September hingga kini tak kunjung diperbaiki, menimbulkan dampak besar bagi aktivitas sosial, ekonomi, dan bahkan keselamatan warga.

Sejak mesin PLTD Sikabaluan mengalami kerusakan, masyarakat Siberut Utara praktis kehilangan sumber listrik utama. Padahal, hampir seluruh aktivitas warga sangat bergantung pada listrik. Namun hingga memasuki pekan keempat, belum ada tanda-tanda perbaikan serius dari pihak PLN.

“Kami seperti ditinggalkan. Sudah hampir sebulan listrik padam, tapi tidak ada kejelasan kapan diperbaiki. Hidup jadi sangat sulit tanpa listrik,” ujar salah seorang warga Sikabaluan kepada wartawan, Kamis (2/10).

Warga menilai, kondisi ini menunjukkan ketidakpedulian pihak PLN, baik di tingkat Kabupaten Mentawai maupun Wilayah Sumatera Barat.

Dampak Luas: Kesehatan, Air Bersih, dan Perekonomian Lumpuh

Ketiadaan listrik menimbulkan efek domino. Fasilitas kesehatan menjadi yang paling terancam. Alat-alat medis yang bergantung pada listrik, seperti tabung oksigen atau mesin pendingin obat, tidak bisa difungsikan. Hal ini memicu kekhawatiran besar di tengah masyarakat.

“Kalau ada pasien yang butuh oksigen, bagaimana nasibnya? Ini bukan hanya soal terang dan gelap, tapi soal nyawa manusia,” keluh seorang tenaga kesehatan di Puskesmas Sikabaluan.

Selain kesehatan, krisis listrik juga memutus akses air bersih. Warga yang biasanya mengandalkan mesin pompa air kini kesulitan mendapatkan pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Tak hanya itu, sektor ekonomi juga terpukul. Para pedagang yang membutuhkan listrik untuk pendingin barang dagangan terpaksa menutup usaha. Nelayan pun mengalami kesulitan karena ketiadaan pasokan es untuk menyimpan ikan hasil tangkapan. Akibatnya, banyak yang memilih tidak melaut, sehingga pendapatan keluarga ikut terhenti.

“Nelayan di sini biasanya membeli es untuk menyimpan ikan. Tapi sekarang es tidak bisa diproduksi karena PLN mati. Kami rugi besar, bahkan banyak yang berhenti melaut,” ungkap salah satu nelayan di Sikabaluan.

PLN Dianggap Tak Peduli

Hingga kini, masyarakat menilai pihak PLN bersikap pasif dan tidak serius dalam menangani kerusakan tersebut. Minimnya informasi resmi membuat warga bingung dan kecewa.

“Seakan-akan tidak ada yang peduli dengan penderitaan kami. Padahal listrik adalah kebutuhan dasar, bukan barang mewah. Seharusnya PLN bertanggung jawab penuh,” kata seorang tokoh masyarakat setempat.

Kondisi ini menimbulkan keresahan yang semakin meluas. Beberapa warga bahkan mendesak pemerintah daerah dan legislatif untuk turun tangan langsung menekan PLN agar segera memperbaiki mesin yang rusak.

Suara DPRD: Kritik Keras untuk PLN

Menanggapi hal ini, Anggota DPRD Kabupaten Mentawai dari Komisi I, Joni Kusuma, menyampaikan penyesalan mendalam atas lambannya respon PLN. Ia menilai PLN Mentawai maupun PLN Wilayah Sumatera Barat tidak menunjukkan kepedulian yang seharusnya terhadap nasib ribuan warga Siberut Utara.

“PLN harusnya segera mengambil langkah darurat. Ini sudah menyangkut hajat hidup orang banyak. Kenapa sampai hampir sebulan dibiarkan begitu saja? Sangat disayangkan,” tegas Joni Kusuma saat dikonfirmasi media ini.

Menurutnya, listrik bukan hanya kebutuhan rumah tangga, tetapi juga penopang utama bagi fasilitas umum seperti rumah sakit, sekolah, dan sarana air bersih. “Ketiadaan listrik berpotensi menimbulkan korban jiwa. Pemerintah harus segera turun tangan bila PLN tidak mampu,” tambahnya.

Masyarakat kini mendesak adanya langkah cepat dari PLN maupun pemerintah daerah. Mereka meminta agar perbaikan mesin tidak terus ditunda. Selain itu, warga juga menuntut adanya solusi jangka panjang, agar pemadaman serupa tidak berulang.

“Kalau mesin rusak, ya segera diperbaiki atau diganti. Jangan menunggu sampai berlarut-larut. Kami butuh kepastian, bukan janji,” ujar salah satu warga dengan nada kesal.

Tak sedikit pula masyarakat yang mengusulkan agar pemerintah pusat turun langsung membantu perbaikan, atau bahkan menyiapkan pembangkit cadangan untuk daerah kepulauan yang rawan terisolasi.

Krisis Energi di Daerah Kepulauan

Kasus di Siberut Utara menambah panjang daftar permasalahan kelistrikan di daerah kepulauan. Terbatasnya infrastruktur, sulitnya akses transportasi, dan minimnya perhatian dari pemerintah membuat daerah-daerah seperti Mentawai rentan mengalami krisis energi berkepanjangan.

Di sisi lain, masyarakat menilai hal ini sebagai bentuk ketidakadilan. “Mentawai bagian dari Indonesia. Kami juga berhak menikmati pelayanan listrik yang layak. Jangan hanya karena kami tinggal di kepulauan, lalu hak kami diabaikan,” tegas seorang tokoh pemuda di Sikabaluan.

Meski kecewa, masyarakat masih berharap agar perbaikan segera dilakukan. Mereka menanti kehadiran tim teknis PLN untuk memperbaiki mesin PLTD Sikabaluan. “Kami tidak butuh banyak janji. Yang kami butuh hanya listrik kembali menyala,” pungkas warga.

Hingga berita ini diturunkan, PLN Kabupaten Mentawai maupun PLN Wilayah Sumatera Barat belum memberikan keterangan resmi terkait langkah perbaikan mesin PLTD Sikabaluan. (*)

Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID