MENTAWAI, ONtime.ID — Kondisi memprihatinkan kembali menghantui layanan kesehatan di daerah terpencil. Kali ini, sorotan tajam tertuju pada Puskesmas Muara Siberut yang berlokasi di Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan. Fasilitas kesehatan yang seharusnya menjadi garda terdepan pelayanan masyarakat itu kini justru berada di ambang kehancuran.

Sejumlah ruangan di puskesmas tersebut dilaporkan telah ambruk dan hancur. Atap yang bocor, dinding retak, hingga struktur bangunan yang tidak lagi layak pakai menjadi pemandangan sehari-hari. Bahkan, ruang rawat inap pasien serta fasilitas toilet tidak lagi bisa difungsikan. Kondisi ini tentu sangat mengganggu bahkan mengancam kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat setempat.
Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran serius. Bagaimana mungkin pelayanan kesehatan bisa berjalan optimal jika fasilitas dasar saja tidak memadai? Warga yang datang untuk berobat justru harus menghadapi risiko tambahan akibat kondisi bangunan yang berbahaya.
Kepala Puskesmas Muara Siberut, Zulia Refeni, mengungkapkan bahwa kerusakan berat ini bukanlah persoalan baru. Menurutnya, kondisi bangunan sudah lama mengalami kerusakan parah, namun hingga kini belum mendapatkan penanganan yang serius.
“Kerusakan ini sudah cukup lama terjadi. Kami sangat berharap ada perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai dan dinas terkait untuk segera melakukan perbaikan,” ujar Zulia.
[irp posts=”34950″ ]
Ia menambahkan, keterbatasan fasilitas sangat berdampak pada pelayanan kepada masyarakat. Tenaga kesehatan harus bekerja dalam kondisi yang serba terbatas, sementara pasien tidak mendapatkan kenyamanan maupun keamanan yang seharusnya.
“Kalau fasilitas memadai, tentu pelayanan bisa lebih maksimal. Sekarang ini kami hanya berupaya semaksimal mungkin dengan kondisi yang ada,” lanjutnya.
Kondisi ini menjadi gambaran nyata ketimpangan pembangunan, khususnya di wilayah kepulauan dan daerah terpencil seperti Kepulauan Mentawai. Di tengah berbagai program peningkatan layanan kesehatan yang digaungkan pemerintah, fakta di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya.
Sementara itu, anggota Komisi II DPRD Kepulauan Mentawai, Rasidin Syaiful, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut bahwa kerusakan Puskesmas Muara Siberut memang sudah berlangsung lama.
“Memang benar, kondisi bangunan sudah lama mengalami kerusakan parah. Namun karena keterbatasan anggaran, hingga saat ini belum bisa dilakukan perbaikan,” ungkap Rasidin.
[irp posts=”34947″ ]
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pihaknya di Komisi II DPRD akan terus memperjuangkan agar perbaikan segera direalisasikan. Menurutnya, sektor kesehatan harus menjadi prioritas utama, terutama di daerah yang aksesnya terbatas.

“Kami dari Komisi II akan terus mendorong agar ini menjadi perhatian serius. Jangan sampai masyarakat terus dirugikan karena fasilitas yang tidak layak,” tegasnya.
Persoalan anggaran memang kerap menjadi alasan klasik dalam lambannya pembangunan infrastruktur di daerah. Namun, ketika yang dipertaruhkan adalah keselamatan dan kesehatan masyarakat, alasan tersebut tentu sulit diterima begitu saja.
Masyarakat Desa Muntei dan sekitarnya kini hanya bisa berharap adanya tindakan nyata dari pemerintah daerah. Mereka membutuhkan fasilitas kesehatan yang layak, aman, dan mampu memberikan pelayanan optimal.
Ironisnya, di tengah upaya pemerintah pusat meningkatkan kualitas layanan kesehatan nasional, masih ada fasilitas dasar seperti puskesmas yang kondisinya nyaris runtuh. Hal ini menjadi tamparan keras bagi seluruh pemangku kebijakan.
[irp posts=”34944″ ]
Jika tidak segera ditangani, bukan tidak mungkin kondisi ini akan menimbulkan dampak yang lebih besar, mulai dari menurunnya kualitas layanan kesehatan hingga meningkatnya risiko keselamatan bagi pasien dan tenaga medis.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah daerah dan instansi terkait. Apakah mereka akan bergerak cepat menyelamatkan fasilitas vital ini, atau justru membiarkannya terus memburuk?
Satu hal yang pasti, masyarakat tidak butuh janji, mereka butuh aksi nyata. (*)













