Padang

Sejarah Berdirinya Masjid Muhammadan

327
×

Sejarah Berdirinya Masjid Muhammadan

Sebarkan artikel ini
Muhammadan
Para pekerja tengah mengecat Masjid Masjid Muhammadan, Selasa (5/4).

PADANG, ONTIME.ID – Masjid Muhammadan termasuk salah satu masjid tertua di Kota Padang. Masjid yang terletak di Kelurahan Pasa Gadang, Kecamatan Padang Selatan itu merupakan peninggalan komunitas Muslim keturunan India di Padang yang dibangun pada tahun 1834.

 

Pengurus Masjid Muhammadan Haji Syafril menceritakan, keberadaan Masjid Muhammadan jelas tidak asing lagi bagi masyarakat Sumbar secara umumnya. Bangunan masjid terbuat dari kapur yang dibangun oleh ulama dari Gujarat, India.

 

“Terlihat ada dua tonggak di depan ada putih telurnya. Ini fungsinya untuk perekat, karena masjid ini berbahan kapur semua, dan masjid di bangun tanpa menggunakan besi,” ujarnya kepada ONTIME.ID, Selasa (5/4).

 

Syafril menyampaikan, hal tersebut dibuktikan saat gempa dahsyat 2009 yang mengguncang Sumatera Barat (Sumbar), ada dinding yang keropos dan terlihat bahannya dari kapur.

 

“Pada saat gempa 2009 masjid ini tetap utuh. Saat itu kami tahu bahwa masjid terbuat hanya dari kapur dan hanya sedikit menggunakan semen serta tanpa besi,” katanya.

 

Lebih jauh Syafril menceritakan, Masjid Muhammadan merupakan salah satu peninggalan dari tujuh ulama yang berasal dari Gujarat, India. Para ulama tersebut dulunya terdampar di Batang Arau yang disebut banyak orang Muara.

 

“Ulama yang terdiri dari 7 orang atau lebih tersebut sampai di sini secara kebetulan. Saat itu, mereka membentangkan kain goni dan mereka menunaikan salat Zuhur, karena sudah menjadi kebiasaan orang India membawa kain goni,” ujarnya.

 

Singkat cerita, sambung Syafril, hari demi hari mereka mendapat respon dari masyarakat minang dan hasil musyawarah dan mendirikan sebuah  musala.

 

“Musala ini dibangun dengan empat tiang dan dinding menggunakan kain goni yang mereka bawa. Kalau atapnya kami tidak tahu secara pasti, apakah menggunakannya kain goni atau daun nipah,” ucapnya.

 

Seiring berjalannya waktu, para ulama itu kemudian meninggalkan daerah ini dan tidak diketahui kemana perginya. Apakah mereka balik ke India atau tetap berada di sekitar kawasan tersebut.

 

“Berkisar tahun 1900-an, generasi awal itu sudah tidak ada lagi, karena tidak ada kepastian generasi tersebut entah kembali ke Gujarat atau masih di sini,” ujarnya.

 

Kemudian, ada seorang ustaz bernama Said Tajuddin Bin Said Saleh. Ustaz Said ini yang pertama kali mengembangkan agama Islam di kawasan Kelurahan Pada Gadang. Said Tajuddin adalah seorang ulama tasawuf yang mengembangkan ajaran tauhid dan lainnya, serta murid-muridnya juga berasal dari berbagai daerah.

 

Syafril juga menceritakan, salah satu yang paling unik di Masjid Muhammadan adalah tradisi Serak Gulo atau membagi-bagikan gula. Sebuah tradisi oleh masyarakat India Kota Padang untuk berbagai rezki dengan masyarakat sekitar.

 

Tradisi ini sudah berlangsung cukup lama, dan kini telah menjadi kalender even Pariwisata Kota Padang. Ratusan bahkan mencapai ribuan masyarakat berbondong-bondong mengikuti even tahunan di Masjid Muhammadan ini.

 

Para penyerak gula akan menaiki atap Masjid Muhammadan yang berupa atap teras depan masjid. Para peserta tradisi telah menunggu di depan masjid atau jalan raya yang terdapat di bagian depan masjid. Tradisi ini banyak menarik minat masyarakat, selain untuk mendapatkan limpahan berkah berupa gula pasir, mereka juga antusias hanya sekedar untuk memeriahkan acara tersebut.

 

“Tradisi ini berlangsung pada 1 Jumadil Akhir di setiap tahunnya. Setiap tahun biasanya menghabiskan lebih dari 1 ton gula untuk dibagikan, dengan terlebih dahulu dibungkus dengan kain warni-warni berukuran kecil,” katanya.

 

Hingga saat ini, Masjid Muhammadan masih terjaga keasliannya, karena tidak banyak perubahan pada bangunan masjid. Hanya beberapa renovasi dan perbaikan kecil yang dilakukan agar masjid tetap nyaman digunakan. (*)