Pendidikan

Ledakan SMAN 72 Jakarta, Sinyal Bahaya Ekstremisme Remaja di Tengah Euforia “Zero Teror”

253
×

Ledakan SMAN 72 Jakarta, Sinyal Bahaya Ekstremisme Remaja di Tengah Euforia “Zero Teror”

Sebarkan artikel ini
Ekstremisme
Ledakan SMAN 72 Jakarta, Sinyal Bahaya Ekstremisme Remaja di Tengah Euforia “Zero Teror”

JAKARTA, ONtime.ID — Ledakan yang mengguncang SMAN 72 Jakarta pada Jumat (7/11/2025) dan melukai puluhan siswa menjadi alarm keras bagi Indonesia. Setelah tiga tahun tanpa satu pun serangan teror, peristiwa ini mengoyak persepsi “zona aman” dari ancaman ekstremisme kekerasan, terutama di kalangan remaja.

Penyelidikan awal aparat kepolisian memang masih berfokus pada penyebab teknis ledakan, namun indikasi simbolik dan temuan di lokasi kejadian menimbulkan pertanyaan serius: apakah ini sekadar tindak kriminal, atau tanda kebangkitan ekstremisme berbasis kekerasan di usia muda?

Direktur Eksekutif Setara Institute, Halili Hasan, menegaskan bahwa peristiwa di SMAN 72 tidak bisa dipandang sebagai kasus kriminal semata.

“Tragedi ini mesti dicatat sebagai peringatan bahwa masalah ekstremisme berbasis kekerasan di usia dini masih besar dalam konteks kebinekaan Indonesia,” ujar Halili saat dihubungi, Minggu (9/11).

Menurutnya, sejumlah temuan di lokasi memperkuat dugaan adanya muatan ideologis. Di antaranya, nama-nama pelaku teror dunia seperti Brenton Tarrant (pelaku serangan masjid di Selandia Baru) dan Alexandre Bissonnette (pelaku penembakan di Kanada) yang muncul di catatan atau simbol yang diduga milik pelaku, serta tulisan “Welcome to Hell” yang tertera di senapan mainan yang ditemukan di area kejadian.

“Hal itu menjadi penegas bahwa tragedi tersebut patut diduga mengarah pada tindakan terorisme,” tambah Halili.

Indonesia selama tiga tahun terakhir mencatat nol serangan teror. Statistik itu sempat menjadi kebanggaan lembaga penegak hukum dan bukti efektivitas deradikalisasi. Namun, menurut Halili, keamanan bukan berarti ancaman telah tiada.

“Kondisi tanpa serangan teror membuat sebagian pihak merasa situasi sudah aman, sehingga perhatian dan anggaran terhadap program pencegahan berkurang,” katanya.
“Kejadian di SMA 72 Jakarta menjadi peringatan keras bahwa pencegahan ekstremisme kekerasan harus kembali ditempatkan sebagai program prioritas.”

Fenomena keterlibatan remaja dalam tindakan kekerasan ideologis bukan hal baru, namun kini muncul dengan wajah berbeda. Internet, gim daring, dan media sosial menjadi ladang subur penyebaran paham ekstrem.

“Kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi digital membuat penyebaran paham radikal kepada remaja jauh lebih cepat dan kompleks dibanding sebelumnya,” tegas Halili.

Ia mengingatkan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam menangkal pengaruh ideologi kekerasan.

Dalam kasus SMAN 72, polisi menemukan bahwa terduga pelaku berusia 17 tahun dan diduga mengalami perundungan (bullying). Menurut Halili, faktor psikologis semacam ini sering menjadi pintu masuk menuju ekstremisme.

“Bullying bukan hanya menyakiti korban, tapi juga bisa menyeret korban ke perilaku ekstrem seperti yang terjadi di SMA 72 Jakarta,” jelasnya.

Ia menambahkan, ekstremisme kekerasan seringkali tumbuh dari dendam dan rasa ketidakberdayaan sosial yang kemudian diarahkan oleh narasi kebencian di dunia maya.

Halili menekankan pentingnya pendidikan literasi kebangsaan, toleransi, dan berpikir kritis di sekolah-sekolah. “Ketidaksetujuan terhadap keyakinan, pandangan, simbol, atau ritual yang berbeda bukan alasan untuk merusak atau meniadakan pihak lain,” tegasnya. (*)

Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID