Ekonomi

Emas Dunia Melemah, Dolar AS Menguat di Tengah Ketegangan Timur Tengah

217
×

Emas Dunia Melemah, Dolar AS Menguat di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Sebarkan artikel ini
Emas
Emas Dunia Melemah, Dolar AS Menguat di Tengah Ketegangan Timur Tengah

ONtime.ID — Harga emas dunia ditutup melemah pada akhir pekan, Minggu (22/3), seiring penguatan Dolar Amerika Serikat setelah langkah militer terbaru yang dikaitkan dengan kebijakan Presiden Donald Trump di kawasan Timur Tengah.

Mengacu pada laporan Reuters, harga emas spot pada perdagangan Jumat (20/3) turun tajam 1,8 persen ke level USD 4.563,64 per troy ounce, setelah sebelumnya sempat menguat. Tekanan berlanjut hingga harga menyentuh USD 4.487,65 per troy ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS juga terkoreksi 0,7 persen ke posisi USD 4.574,90.

Pelemahan ini terjadi di tengah penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Sentimen tersebut dipicu laporan bahwa Washington mengirim ribuan marinir dan pelaut tambahan ke Timur Tengah, meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan.

[irp posts=”34889″ ]

Kondisi ini membuat emas—yang dihargai dalam dolar AS—menjadi kurang menarik bagi investor global. Ketika dolar menguat, biaya kepemilikan emas bagi pemegang mata uang lain meningkat, sehingga permintaan cenderung melemah.

Situasi geopolitik juga memperkeruh sentimen pasar. Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memanas sejak akhir Februari menambah ketidakpastian. Risiko blokade Iran di Selat Hormuz berpotensi menjaga harga energi tetap tinggi dan memperbesar tekanan inflasi global.

Penjual logam independen Tai Wong menilai pergerakan harga logam mulia saat ini sangat volatil, terutama setelah penurunan tajam sepanjang pekan.

“Harga logam sangat bergejolak setelah penurunan tajam pekan ini akibat kekhawatiran kenaikan suku bunga. Harga kemungkinan akan stabil, tetapi pergerakannya tidak akan mulus,” ujarnya.

[irp posts=”34886″ ]

Sebagai aset lindung nilai (safe haven), emas biasanya diuntungkan saat ketidakpastian meningkat. Namun dalam kondisi saat ini, ekspektasi kenaikan suku bunga global justru menekan daya tariknya karena emas tidak memberikan imbal hasil.

Pelaku pasar kini memperkirakan sejumlah bank sentral utama dunia, termasuk Bank Sentral Eropa dan Bank of England, berpotensi menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Di sisi lain, Federal Reserve memilih menahan suku bunga, namun memberi sinyal bahwa tekanan inflasi masih akan bertahan.

Ketua The Fed, Jerome Powell, menegaskan arah kebijakan ke depan sangat dipengaruhi ketidakpastian global, terutama akibat konflik geopolitik yang terus berkembang.

Di pasar logam lainnya, tekanan jual juga terjadi. Harga perak anjlok 4,8 persen ke USD 69,39 per troy ounce, sementara platinum turun 0,9 persen dan paladium melemah 1,6 persen, menandakan sentimen negatif merata di sektor logam mulia. (*)

[irp posts=”34882″ ]

Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID