Kepekaan membaca kebutuhan pasar kerap menjadi titik awal lahirnya sebuah usaha. Hal itulah yang dilakukan Benny Wijaya dan Diswandy saat merintis merek sandal pria, Kingman. Berangkat dari pengamatan sederhana, keduanya melihat sandal merupakan alas kaki yang paling sering dipakai pria Indonesia.
Namun, pilihan yang benar-benar nyaman, fungsional, dan tetap terlihat rapi untuk suasana santai maupun semiformal masih terbatas.
Sebelum menjadi pengusaha, Benny berkarier di sektor perbankan, sementara Diswandy berkecimpung di industri logistik serta ekspor-impor. Keputusan untuk banting setir bukan tanpa perhitungan. Mereka memulai dengan riset pasar untuk memahami preferensi konsumen, memetakan harga, hingga mengidentifikasi model yang diminati.
[irp posts=”34095″ ]
Setelah itu, fondasi rantai pasok disusun. Produksi dilakukan secara mandiri di kawasan Jakarta Barat untuk menjaga kualitas dan efisiensi. Pembagian peran pun ditetapkan: Benny mengelola operasional dan keuangan, sedangkan Diswandy bertanggung jawab atas logistik serta pemasaran digital.
Pada dua tahun pertama, bisnis dijalankan dengan sumber daya terbatas. Semua proses, mulai dari pemotretan produk, pengemasan, pemrosesan pesanan, hingga merespons pelanggan, dilakukan sendiri. Aktivitas tersebut dijalani bersamaan dengan pekerjaan utama mereka sebagai karyawan.
“Dengan waktu dan sumber daya terbatas, kami mengelola bisnis dari malam hingga dini hari, menyusun sistem kerja secara bertahap lewat proses trial and error,” ujar Benny.
[irp posts=”34092″ ]
Pendekatan bertahap itu membuahkan hasil. Portofolio produk Kingman berkembang, dan jangkauan pasarnya meluas ke berbagai daerah di Indonesia. Dengan harga mulai dari Rp 80 ribuan, produk mereka menyasar beragam segmen usia.
Seiring pertumbuhan permintaan, kapasitas usaha pun meningkat. Kini, Kingman mempekerjakan sekitar 60 karyawan di berbagai lini produksi dan operasional. Diswandy menyebut produk mereka telah digunakan lintas generasi, dari anak muda hingga konsumen yang lebih matang.
Untuk menjaga daya saing, inovasi menjadi fokus utama. Kingman terus mengembangkan sandal yang mengedepankan fungsi dan kenyamanan, dua aspek yang dinilai menjadi tren kuat dalam beberapa waktu terakhir. Salah satu model yang mendapat perhatian adalah clog sandal—desain yang lebih tertutup namun tetap ringan dan nyaman dipakai.
[irp posts=”34089″ ]
Tak berhenti di alas kaki, Kingman mulai merambah kategori fesyen lain, seperti memproduksi polo shirt. Diversifikasi ini dinilai penting untuk memperluas sumber pendapatan sekaligus memperkuat identitas merek.
“Dunia usaha terus berubah. Kami harus terus belajar dan beradaptasi,” kata Benny.
Memasuki bulan puasa dan periode Lebaran, Kingman bersiap menghadapi potensi lonjakan permintaan. Momen tersebut diperkirakan dapat meningkatkan pesanan hingga enam kali lipat dibandingkan hari biasa—sebuah peluang musiman yang ingin dimaksimalkan lewat kesiapan stok, sistem distribusi, dan layanan pelanggan.
[irp posts=”34086″ ]
Kisah Benny dan Diswandy menunjukkan bahwa keberanian membaca peluang, disiplin membangun sistem, serta konsistensi menjaga kualitas dapat menjadi fondasi pertumbuhan usaha, bahkan ketika dimulai dari sela-sela waktu setelah jam kerja. (*)













