Padang

Harga Pangan yang Terus Bergejolak

421
×

Harga Pangan yang Terus Bergejolak

Sebarkan artikel ini
Pedagang melayani pembeli sembako di kawasan Pasar Raya, Kota Padang, Jumat (11/3). Harga sembako cenderung mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir, dan diprediksi kembali naik menjelang memasuki bulan Ramadan.

PADANG, ONTIME.ID- Harga sejumlah komoditas pangan cenderung terus merangkak naik sejak awal tahun, termasuk di Sumatra Barat dan diprediksi akan kembali meningkat menjelang Bulan Ramadan. Pemerintah daerah pun akan menyiapkan operasi pasar untuk menstabilkan harga yang terus bergejolak itu.

Di Pasar Raya Padang harga kebutuhan pokok terpantau mengalami kenaikan yang cukup signifikan, seperti cabai merah dari Rp25.000/kg naik menjadi Rp48.000/kg, lalu harga beras 1 karung kecil sebesar Rp120.000  naik dari sebelumnya Rp115.000 persatu karung kecil.

Kemudian komoditas telur ayam ras juga mengalami kenaikan dari Rp24.000/kg pada hari sebelumnya menjadi Rp25.000/kg. Lalu juga ada kenaikan tepung terigu dari Rp8.000/kg menjadi Rp.10.000/kg.

Salah seorang pedagang cabai di Pasar Raya Zidan membenarkan jika harga kebutuhan pangan terus mengalami kenaikan dalam beberapa watku terakhir, terutama kebutuhan pangan harian. Hal ini berdampak pada nilai beli masyarakat yang turun akibat kenaikan harga tersebut.

“Biasanya  orang membeli cabe, tepung terigu 5 kg sampai 10 kg, tapi sekarang orang membelinya berkurang, tidak seperti biasanya,” ujarnya kepada Ontime.id, Kamis (10/3).

Menurut Zidan, kenaikan sejumlah harga pangan, seperti cabai diperkirakan lantaran gagal panen dan cuaca yang tak menentu sehingga stok cabai di pasaran menipis dan berdampak pada kenaikkan harga.

Pedagang Pasar Raya lainnya, Aci juga mengamini kenikan harga yang terjadi pada sejumlah komoditas, seperti telur ayam yang cukup rentan mengalami naik turun harga. Pada Senin (1/3) lalu harga telur ayam Rp26.000/kg, kemudian turun menjadi Rp24.000/kg pada esok harinya. Dan sekarang kembali naik  menjadi Rp25.000/kg.

“Kalau per peti sekarang kenaikannya Rp 5.000. Awalnya Rp 225 ribu menjadi Rp 230 ribu,” kata Aci kepada Ontime.id, Kamis (10/3).

Kenaikan harga sembako juga terpantau di Pasar Nanggalo Padang. Seperti harga bawang putih  mencapai Rp28.000/kg, bawang merah Rp40.000/kg, minyak goreng curah Rp14.000/kg, minyak kemasan Rp16.000/kg.

Salah satu pedagang di Pasar Nanggalo, Erda menyebutkan kenaikan harga sudah terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Salah satunya terjadi pada komoditas bawang putih dari Rp24.000/kg naik menjadi Rp28.000/kg, lalu bawang merah dari Rp35.000/kg menjadi Rp40.000/kg.

“Sejak lima hari terakhir harga bawang merah bawang putih terus naik,” ujarnya kepada Ontime.id, Kamis (10/3).

Hal senada juga disampaikan oleh pedagang lainnya, yaitu Amri, kenaikan harga juga terjadi pada komoditas gula yang saat ini berada di angka Rp14.000/kg meningkat dari harga sebelumnya Rp 12.000/kg. Termasuk juga harga minyak curah Rp14.000/kg dan Rp16.000/kg untuk minyak kemasan.

“Saat ini masyarakat lebih banyak membeli minyak goreng curah dibandingkan dengan minyak goreng kemasan. Karena harga minyak kemasan yang lebih tinggi lagi naiknya,” ujarnya.

Merangkak Naik

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional tampak sejumlah harga komoditas pangan di Sumatra Barat mengalami peningkatan sejak awal tahun. Seperti, daging ayam, per 10 Maret 2021 di angka Rp40.800/kg, sementara pada Februari 37.900. Lalu untuk daging Sapi saat ini Rp152.400/kg meningkat dari harga pada Februari dan Januari Rp132.900/kg. Sedangkan telur Ayam saat ini Rp36.000/kg meningkat dari periode Januari lalu Rp31.300/kg.

Kemudian untuk komoditas lainnya yaitu bawang merah saat ini di harga Rp46.400/kg, menurun dari periode Januari dengan harga Rp50.900/kg. Lalu cabai merah berada dikisaran Rp47.700 sejak awal tahun. Peningkatan harga yang cukup tinggi terjadi pada komoditas cabai rawit dai Rp79.450/kg pada Januari lalu meningkat menjadi Rp86.460/kg pada awal Maret. Sedangkan pada komoditas lainnya, seperti gula pasir meningkat dari Rp12.500 pada Januari lalu menjadi Rp13.500/kg. Dan minyak goreng kemasan Rp14.000/kg.

Jelang Ramadan

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumbar memperkirakan kenaikan harga pangan juga akan terus meningkat mengingat bulan Ramadan dalam waktu dekat. Sebab, permintaan kebutuhan yang juga kerap akan meningkat pada momentum Ramadan dari tahun ke tahun.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sumbar, Ridonald juga mengakui adanya kenaikan harga disejumlah komoditas kebutuhan pokok dalam dua bulan terakhir.

“Seperti kita ketahui dua bulan terakhir beberapa komoditas mengalami kenaikan. Salah satunya minyak goreng, penyebab utamanya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) internasional naik. Kendati  begitu, kita tidak bermasalah dengan stok,’ kata Ridonald, kepada Ontime.id, Kamis (10/3).

Menurutnya, hal ini karena sebesar 75 persen sudah dipasok oleh PT Incasi Raya. Namun, terjadi kenaikan harga yang tidak sesuai dengan Permendag Nomor 6 tahun 2022. Aturan tersebut berisi poin penting tentang perubahan harga eceran tertinggi minyak goreng.

Dalam aturan ini,  Harga Eceran Tertinggi atau HET minyak goreng diatur dengan rincian minyak goreng curah sebesar Rp11.500/liter, minyak goreng kemasan sederhana sebesar Rp13.500/liter, dan kemasan premium sebesar Rp14.000/liter.

“Di samping itu, kita turun ke lapangan memantau harga. Di Sumbar sebenarnya terjadi penimbunan minyak goreng, maka dari itu harganya lebih tinggi. Disebabkan juga mata rantai yang panjang, mulai dari produsen, kemudian distributor, 1, distributor 2, distributor 3, hingga distributor 4. Sehingga masyarakat membeli dengan harga tinggi,” ujarnya.

Pada kondisi ini, sambung Ridonald banyak bermunculan pedagang  dadakan yang membeli pada distributor kedua atau ketiga.  Kemudian harga barang yang dimiliki saat itu, jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditentukan oleh Kemeterian Perdagangan.

“Untuk mengantisipasi hal ini, kita punya satgas pangan guna memantau HET.Kita berharap sama-sama dalam memantau, sehingga pedagang tidak terjerat masalah. Untuk menstabilkan harga, kita juga punya program operasi pasar,” tutur Ridonald.

Selain minyak goreng, komoditas yang mengalami kenaikan di pasaran adalah cabai keriting. Cabai keriting mulai naik dari Rp50 ribu hingga Rp60 ribu/kg. Hal ini kata Ridonald akibat pengaruh cuaca yang menyebabkan gangguan panen dan berdampak pada stok yang menipis.

“Kalau untuk antisipasi kenaikan cabau keriting, setidaknya kita harus mulai memenuhi kebutuhan di dalam daerah. Hal ini dikarenakan kemungkinan terganggu pasokan dari luar, faktornya karena cuaca, petani harus pandai melihat waktu atau peluang menanam cabai dengan membenahi pascapanen,” ujarnya.

Ridonald menyampaikan untuk menstabilkan harga, pihaknya gencar menggelar pasar murah termasuk dalam menyambut bulan Ramadan yang kerap terjadi kenaikan harga.

“Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri kita ketahuo biasanya akan ada kenaikan harga pangan. Kita harapkan Holding Pangan ID FOOD turut mengamankan ketersediaan sembilan bahan pangan strategis. Ini adalah formula pemerintah pusat untuk percepatan terwujudnya ketersediaan dan keterjangkauan pangan dengan harga terjangkau,” kata Ridonald kepada Ontime.id, Kamis (10/3).

Menurutnya, untuk mitigasi risiko kelangkaan bahan pokok pangan yang menjadikan sejumlah harga pangan naik ketika menjelang Hari Besar Keagamaan. Seperti stok daging, ayam, telur, permintaan meningkat menjelang Ramadan, sehingga perlu penyelarasan data segera untuk solusi pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) juga mencatat adanya kenaikan harga beberapa komoditas pangan. Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi menjelaskan akan melakukan koordinasi dengan pihak terkait pangan untuk menjaga pasokan agar harga tetap stabil. Pihaknya juga mengajak petani untuk berkontribusi dalam memenuhi ketersediaan stok pangan hasil produksi.

Menurut Arief, persoalan pangan perlu dilakukan dari dua sisi, yakni produsen dan masyarakat sebagai pengguna, keduanya perlu dijaga dengan seimbang. “Kita serap produk petani, hal ini tentunya akan mempengaruhi harga di tingkat petani, di hilirnya juga perlu dijaga. Hilir pangan kita jaga antara inflasi dengan kesejahteraan petani yang perlu diseimbangkan, di sini nanti ada peran BUMN Pangan ada Holding Pangan ID FOOD beserta Anak Perusahaannya dan juga Perum BULOG,” ujar Arief.

Dalam sidaknya di sejumlah pasar Arief menyebut, minyak goreng dengan harga eceran tertinggi (HET) sulit ditemukan di pasaran. Padahal minyak goreng yang saat ini beredar adalah hasil dari 20 persen dari Domestic Market Obligation (DMO) dan Domestic Price Obligation (DPO). Seperti diketahui, Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng curah ditetapkan Rp11.500/liter, minyak goreng kemasan sederhana Rp13.500 per liter, dan minyak goreng kemasan premium Rp14.000 per liter.

Sementara itu untuk komoditas daging, Pemerintah memberikan beberapa pilihan daging untuk stok memenuhi kebutuhan masyarakat mulai dari frozen daging kerbau, frozen daging sapi serta sapi sentra produksi Indonesia.

Selain itu, komoditas bawang putih dan gula dengan harga yang baik, serta komoditas cabai dengan sedikit kenaikan. “Beberapa komoditas pangan lainnya seperti bawang putih dan gula dengan harga baik, untuk cabai merah dan bawang merah ada sedikit kenaikan, ini PR saya nanti bersama-sama Mendag juga untuk berkolaborasi menjaga stabilisasi harga pangan,” ujar Arief. (red).