Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla (JK) meminta pemerintah daerah (pemda) memastikan kebutuhan air bersih bagi korban gempa terpenuhi, dan yang paling penting, harus terus berkelanjutan. Tidak terpenuhinya kebutuhan air bersih pada gilirannya bisa menimbulkan berbagai persoalan baru.
“Jangan sampai terputus. Harus berkelanjutan. Bagaimanapun, air bersih adalah kebutuhan jangka panjang. Setiap ada kejadian gempa, pasti selalu begitu. Bisa sampai setahun. Bahkan, saat gempa di NTT, pemenuhan kebutuhan air bersih ini sampai dua tahun,” katanya saat meninjau bantuan mobil tangki air dari PMI Pusat, di kantor PMI Sumbar, Sabtu (19/3).
JK mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan air bersih ini, ke depan PMI Pusat juga berencana akan menambah bantuan mobil tangka air. Ditambah juga dengan berbagai bantuan lainnya. “Apapun nanti kebutuhannya, akan kami bantu. Termasuk tambahan dana,” ucap mantan Wakil Presiden RI itu.
Sementara itu, Ketua Bidang Organisasi PMI Sumbar, Aim Zein mengatakan, pihaknya telah turun untuk membantu warga yang terdampak gempa di Pasaman dan Pasbar sejak enam jam setelah bencana terjadi.
“Pada hari ketiga, 14 PMI kabupaten dan kota di Sumbar sudah turun ke lokasi membantu korban bencana,” katanya.
Pada kesempatan itu, selain menerima bantuan mobil tangki air, PMI Sumbar juga menerima berbagai bantuan lain dari PMI Pusat, mulai dari terpal, family kit, selimut, matras, masker, tenda Lorong, sprayer, hingga quarantine kit. Selain dari PMI Pusat, PMI Sumbar juga menerima bantuan dari Yayasan Care Peduli berupa shelter tools kit dan dari PT Semen Padang berupa semen untuk pembangunan hunian tetap (huntap).
Mulai Rancang Huntap
Selain bantuan logistic, PMI Sumbar saat ini juga tengah fokus membangun hunian sementara (huntara) bagi para korban gempa di Pasaman dan Pasbar. Dalam hal ini, PMI Sumbar memberikan bantuan berupa tenaga tukang dan material untuk membangun huntara.
Aim Zein mengatakan, hingga saat ini, PMI Sumbar telah membangun sekitar 65 huntara di Pasaman dan Pasbar. Bersamaan dengan itu, PMI Sumbar juga telah menjalin kerja sama dengan PT Semen Padang dan Dompet Dhuafa Singgalang untuk membangun huntara yang lebih layak.
Huntara versi awal sendiri, ucapnya, dibangun secepat mungkin dengan bahan-bahan seadanya, seperti kayu dan triplek. “Sedangkan untuk huntara yang lebih layak ini materialnya dari baja ringan dan lantainya semen. Insya Allah hari ini (Sabtu, red) sudah jadi satu model,” katanya.
Di samping itu, saat ini, pihaknya bersama PT Semen Padang juga sudah mulai mengembangkan rancangan hunian tetap (huntap). Bangunan ini nantinya akan dibangun dengan menggunakan konsep ferosemen, yaitu rekayasa konstruksi bangunan tahan gempa yang mudah diterapkan dan tentunya lebih ekonomis.
“Dalam konstruksi bangunan ferosemen ini, dinding bangunan dijahit dengan kawat ayam/jaring-jaring berdiameter 1 mm, kemudian diplester dengan semen. Ini dilakukan di kedua sisi dinding. Dengan begini, bangunan akan lebih kuat dan tahan lama,” katanya.
Ia mengatakan, PMI Sumbar menerima bantuan dari berbagai pihak, dan kemudian disalurkan kepada korban bencana, baik berupa obat-obatan, air bersih, maupun huntara. Untuk itu, ia juga mengimbau bagi donator-donatur yang ingin memberikan bantuan huntara kepada korban gempa, silakan menghubungi PMI.
“Karena saat ini masyarakat cenderung lebih percaya kepada PMI untuk membangun huntara ini,” katanya. (red)













