Tak pernah mengeluh, tak pernah memaki, bahkan tak pernah tersulut amarahnya saat ada orang yang meninggalkan sampah di tepian jalan setelah tepian jalan itu baru saja dibersihkan.
Ia adalah Khairul, pria paruh baya yang telah melewati hari bergelimang sampah selama 17 tahun menjadi pegawai honor di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang.
Guratan senyum di wajah Khairul terlihat jelas meski garis halus di wajah mulai terkuak menandakan ia tak muda lagi. Tapi semangat mudanya mampu menjadikan dirinya berada pada deretan kawula muda yang bersemangat menjalani hidup.
Saat dijumpai ONTIME.ID beberapa pekan lalu, di persimpangan Jalan Tunggul Hitam, Kota Padang, Khairul sedang asik membenahi sampah dan merapikannya untuk bisa dimasukkan ke dalam becak motor (bentor). Bisa dibayangkan, bau sampah dan jenis sampah yang dibuang oleh masyarakat, namun ia mengangkatnya seolah sedang mengangkat anak yang hendak digendong. Elok dan teratur. Tidak ada rasa jijik sedikit pun.
‘Sampah-sampah inilah yang membuat saya dan keluarga hidup sampai sekarang. Jadi bersyukur adalah kata yang tepat daripada mengeluh menjalani hidup,” ucap Khairul usai merapikan sampah di bentor dan siap berbincang-bincang.
Ia menceritakan bahwa tugasnya selama belasan tahun ini adalah menyisir sampah di sepanjang Jalan Prof Hamka hingga Jalan S. Parman Ulak Karang setelah mobil pengangkut sampah selesai membawa sampah sejak malam hari. Ia memilih sampah yang tersisa, memungutinya, bahkan membersihkan sampah yang dibuang tidak pada waktunya sampai berkali-kali putaran memastikan menjelang siang tidak ada lagi sampah di tepian jalan yang sengaja dibuang orang.
“Jika sore hingga subuh mobil truk pengangkut sampah telah selesai mengangkut tumpukan sampah, barulah saya menyambungnya dengan menyisiri sampah tempat mobil tersebut di mana lewat dari pukul 08.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB paling lama. Biasanya ada saja sampah dadakan, sampah tambahan, bahkan sampah tiba-tiba yang dibuang orang sembari lewat.
“Jika saya perhatikan, itu sampah sengaja dibuang sembari lewat. Misalnya, mau kerja langsung bawa sampah, atau memang sengaja diletakkan di tepi jalan, karena mungkin saja ada kami yang akan membersihkannya meski tidak pada jadwal yang sudah ditetapkan. Mau apalagi. Yang namanya sampah itu memang tugas kami membersihkannya,” ucap bapak empat anak itu.
Saat ditanya apakah sampah yang ia pegang, karuk, dan susun pernah membuatnya tidak nafsu makan, Khairul hanya menghela nafas panjang sambil tersenyum. Ya, lagi-lagi ia hanya tersenyum, seperti tidak ada sesal, pedih, dan luka dalam pekerjaan yang mungkin tidak ingin menjadi pilihan bagi orang banyak.
“Seperti yang saya bilang tadi, dengan mengemas sampah inilah saya dan keluarga saya bahkan anak saya bisa bersekolah tinggi seperti orang lainnya, yang mungkin saja pekerjaannya lebih baik dari saya. Bau busuk mulai dari sampah rumah tangga yang kadang sudah berhari-hari, bangkai, pecahan kaca, ulat belatung, dan jenis lainnya seperti sudah menyatu saja. Sudah biasa,” tuturnya.
Khairul juga mengungkapkan, sejak 2005 menerima SK honor, ia hanya mendapatkan gaji Rp550 per bulannya hingga tahun 2017. Bak mendapatkan durian runtuh, setelah ada demo besar-besaran gaji pegawai honor naik menjadi Rp1,2 juta.
“Lagi-lagi saya bersyukur, kenaikkan gaji seperti ada angin surga. Ditambah lagi pada tahun 2020 naik lagi setara dengan UMP sebesar Rp2,4 juta. Meski tidak PNS, saya sangat bersyukur dengan rahmat Allah yang saya terima,” katanya.
Tidak sampai di situ, Khairul ternyata benar-benar mendapatkan durian runtuh. Dengan kerja keras dan kesungguhannya dalam bekerja, ia mendapatkan penghargaan dari pemerintah untuk bedah rumah. Satu-satunya pegawai yang memperoleh penghargaan bedah rumah tahun 2020.
“Rumah saya bisa dikatakan kala itu belum layak huni, tapi kini bisa dikatakan sudah layak huni bagi keluarga,” ujarnya mengenang.













